Anemia Defisiensi Besi (ADB) merupakan gangguan gizi paling umum pada kehamilan. Selama hamil, volume darah ibu meningkat hingga 50%, sehingga kebutuhan zat besi untuk membentuk hemoglobin—protein pengangkut oksigen dalam sel darah merah—meningkat drastis. Jika asupan zat besi tidak mencukupi, suplai oksigen ke jaringan ibu dan janin akan terganggu.
Dampak Serius bagi Janin
Kekurangan zat besi yang signifikan pada masa kehamilan membawa risiko serius terhadap tumbuh kembang bayi:
- Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR): Suplai nutrisi dan oksigen dari plasenta berkurang, memicu terhambatnya pertumbuhan janin di dalam kandungan (Intrauterine Growth Restriction).
- Kelahiran Prematur: Kekurangan zat besi meningkatkan risiko stres oksidatif dan infeksi yang memicu persalinan sebelum usia kehamilan 37 minggu.
- Risiko Stunting & Gangguan Perkembangan: Organ otak janin membutuhkan zat besi untuk pembentukan saraf. Anak yang lahir dari ibu dengan ADB berisiko tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif dan masalah tumbuh kembang jangka panjang.
- Anemia pada Bayi Baru Lahir: Cadangan zat besi janin dibentuk selama dalam kandungan. Ibu yang mengalami anemia berisiko melahirkan bayi dengan cadangan zat besi yang sangat rendah.
Cara Mencegah Anemia pada Ibu Hamil:
- Mengonsumsi makanan tinggi zat besi seperti daging merah, hati, ikan, telur, dan sayuran hijau.
- Memadukan sumber zat besi dengan makanan kaya vitamin C (jeruk, jambu biji, tomat) untuk memaksimalkan penyerapan.
- Menghindari konsumsi teh atau kopi bersamaan dengan waktu makan atau minum suplemen zat besi karena kandungan tanin menghambat penyerapannya.
- Rutin minum Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran dokter atau petugas kesehatan.
- Melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara berkala di fasilitas kesehatan terdekat untuk memantau kadar Hb.