Bahaya Makanan Cepat Saji

Di zaman seperti sekarang ini makanan cepat saji (fast food) tidak asing bagi kita semua. Fast food adalah makanan yang mudah dan cepat pengolahannya. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini yang dianjurkan untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan selalu menyediakan stok makanan cepat saji seperti mie instan, frozen food dan lain-lain. Pada saat pandemi juga lebih sering memesan makanan lewat aplikasi online dan lebih sering memesan fast food.
Makanan cepat saji dapat bertahan lama seperti mie instan dan frozen food makanan- makanan ini terbilang praktis dan tidak mudah busuk. Tapi, kita semua tahu bahwa makanan cepat saji rendah kandungan nutrisinya dan mengandung zat berbahaya seperti pengawet dan penyedap rasa seperti micin yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Beberapa penelitan menyatakan bahwa mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) tidak menimbulkan dampak langsung. Banyaknya makanan siap saji yang menumpuk pada tubuh seseorang bisa menimbulkan penyakit tertentu di kemudian hari.
Dampak terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji, diantaranya :
1. Dapat menimbulkan penyakit serius
Makanan cepat saji banyak mengandung gula, mengonsumsi gula berlebihan berbahaya karena meningkatan kadar kolesterol. Akibatnya, seseorang yang mengonsumsi gula dalam jumlah berlebih berisiko tinggi terkena penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan kanker.
2. Menyebabkan obesitas
Makanan cepat saji juga mengandung lemak yang berdampak buruk bagi tubuh dan jika obesitas akan berisiko terkena kolesterol dan penyakit lainnya.
3. Kekurangan nutrisi
Jika terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji, maka semakin sedikit nutrisi dan vitamin yang didapat oleh tubuh dan tubuh menjadi kekurangan nutrisi dan mudah jatuh sakit sertamenurunkan daya tahan tubuh.
Oleh karena itu, demi menjaga kesehatan tubuh kurangi mengonsumsi makanan cepat saji dan lebih banyak mengonsumsi makanan bergizi seperti sayur, buah, ikan dan lain-lain agar daya tahan tubuh kita kuat apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini yang harus menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Junk Food mengandung kalori yang berlebih
Makanan merupakan bahan bakar bagi tubuh kita. Ia memiliki dampak langsung pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Junk food kebanyakan merupakan makanan cepat saji yang didalamnya mengandung karbohidrat, gula, lemak sehat, dan garam (natrium). Satu porsi junk food menawarkan sejumlah besar kalori, akan tetapi nilai gizi di dalamnya hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
Sebuah studi 2013 yang diterbitkan di JAMA Pediatrics menunjukkan bahwa banyak anak-anak dan remaja yang lebih memilih mengambil resiko mendapatkan kalori lebih dalam makanan cepat saji dan restoran daripada makanan yang disajikan di rumah. Menurut National Institutes of Health, beberapa makanan cepat saji secara keseluruhan hanya mengandung kalori dalam jumlah yang tinggi, di mana hal tersebut sangat berdampak pada kelebihan berat badan yang merupakan salah satu faktor peningkatan risiko untuk berbagai masalah kesehatan kronis.
Terlalu sering mengkonsumsi makanan cepat saji untuk menggantikan makanan bergizi dapat menyebabkan gizi buruk serta kesehatan yang buruk bagi kita.
Resiko penyakit diabetes
Salah satu faktor utama yang menyebabkan terjangkitnya penyakit diabetes adalah karena diet yang tidak sehat, salah satunya karena makanan yang kita konsumsi merupakan makanan sampah. Ketika tubuh menyerap asupan gizi dari yang berasal dari makanan sehat, hal ini berarti tubuh mendapatkan pasokan glukosa yang membantu menjaga sensitivitas insulin. Sedangkan ketika tubuh menyerap asupan makanan junk food, hal ini bisa mengakibatkan stres yang berlebihan pada metabolisme tubuh sehingga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menggunakan insulin dengan benar. Karena junk food tidak memiliki kandungan serat, konsumsi secara langsung menghasilkan lonjakan kadar gula. Selanjutnya, konsumsi junk food menyebabkan obesitas, salah satu alasan utama untuk resistensi insulin dan pengembangan diabetes.
Masalah pada sistem pencernaan
Bagi para pecandu junk food, mereka akan lebih beresiko mengalami gangguan pencernakan seperti penyakit gastroesophageal reflux (GERD) dan sindrom iritasi usus (IBS). Seperti yang kita ketahui bahwa junk food lebih banyak mengandung kalori daripada nilai nutrisi. Saat kita mengkonsumsi junk food yang digoreng, kandungan minyaknya akan tersimpan dalam dinding lapisan perut. Hal ini dapat meningkatkan produksi asam. Lalu rempah-rempah yang ada di dalamnya dapat mengiritasi lapisan lambung, sehingga dapat memperburuk resiko GERD dan gangguan pencernakan. Kurangnya serat dalam kandungan junk food dapat menghambat pencernaan, meningkatkan masalah seperti sembelit dan wasir.
elelahan dan kelemahan
Junk food tidak memiliki jumlah nutrisi penting yang diperlukan untuk pemeliharaan kesehatan serta fungsi dari semua sistem dalam tubuh secara keseluruhan seperti protein dan vitamin. Meskipun jenis makanan ini bisa membuat perut terasa kenyang dan puas, namun ia gagal dalam memberikan asupan energi instan. Sehingga membuat tubuh terasa lemah dan lelah beberapa saat setelah mengkonsumsinya. Jika tubuh hanya menyerap semua jenis makanan yang tergolong junk food selama periode waktu tertentu, maka hal tersebut bisa mengakibatkan kelelahan kronis. Junk food dapat menurunkan tingkat energi tubuh ke tingkat yang mungkin menjadikan tubuh sulit atau bahkan tidak bisa melakukan rutinitas sehari-hari.
Junk food memang mungkin murah, mudah tersedia, lebih cepat untuk memasak dan lezat, tetapi jenis makanan tersebut justru malah berdampak bahaya bagi kesehatan. Bukan hanya kekurangan nutrisi penting bagi tubuh, tetapi juga memberikan kontribusi untuk beberapa penyakit berbahaya. Pilihan untuk kembali mengikuti pola hidup sehat mencakup pilihan makanan yang lebih alami dan lebih sehat.†Beliau menyarankan untuk mengurangi asupan makanan olahan agar hidup kita lebih sehat.

