Jam KerjaSenin - Sabtu 8:00 AM-4:00PMEMAIL:3dpotret@gmail.com
3dpotret33.jpg
admin ku
31/Mar/2022

Kompres dingin adalah trik klasik untuk meredakan demam yang diwariskan turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Namun tahukah Anda ternyata cara ini salah dan malah bisa membahayakan tubuh?

Demam adalah respon alami tubuh untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Seseorang dikatakan sakit demam ketika suhu tubuhnya lebih tinggi dari 37º Celsius, badannya menggigil atau berkeringat, dan merasa lemas, sakit kepala, hingga nyeri di sekujur tubuhnya.

Cara favorit orang-orang untuk meredakan demam adalah dengan merendam kain ke dalam wadah air berisi es batu dan menempelkannya di dahi. Suhu dingin dianggap dapat menyerap panas tubuh sehingga demam akan cepat turun.

Padahal, dokter dan pakar kesehatan di seluruh dunia tidak pernah menganjurkan kita untuk kompres dingin ketika sedang demam. Demam adalah cara tubuh untuk menjaga suhunya tetap normal. Namun, rangsangan suhu dingin dari kompres tersebut justru dianggap sebagai ancaman oleh sistem imun Anda sehingga tubuh akan semakin meningkatkan suhunya. Akibatnya, demam malah tidak kunjung turun — malah mungkin bisa makin parah.

Itu sebabnya hindari pakai kompres dingin atau berendam air dingin ketika demam. Kompres dingin lebih tepat untuk mengatasi peradangan atau pembengkakan, misalnya kaki yang keseleo atau kepala benjol terbentur pintu.

Cara Mengatasi Demam pada Anak

Ingat, tidak semua demam perlu diobati. Dalam kebanyakan kasus, demam harus diobati hanya jika itu menyebabkan ketidaknyamanan anak. Berikut cara meredakan gejala demam yang bisa dilakukan selain memberikan kompres:

Kompres dengan suhu yang tepat

Air yang diperlukan untuk mengompres anak demam yakni air yang memiliki suhu tidak melebihi suhu tubuh anak. Dengan demikian, suhu air yang paling baik untuk mengompres anak demam biasa adalah 27-34 derajat Celsius. Sementara, apabila anak mengalami demam dengan suhu tubuh mencapai lebih dari 39 derajal Celsius, akan lebih baik jika dikompres dengan air hangat yang lebih panas mencapai 34-37 derajat Celcius.

Obat

Jika anak rewel atau tidak nyaman, ibu bisa memberikan asetaminofen atau ibuprofen berdasarkan rekomendasi dokter. Namun, jangan pernah memberikan aspirin kepada anak karena ini berhubungan dengan sindrom Reye. Pastikan memberikan obat demam dengan dosis yang sudah mendapat persetujuan dari dokter.

Tindakan untuk Membuat Anak Nyaman

Pakaikan anak dengan pakaian yang ringan dan tutupi dengan seprai atau selimut tipis. Memakaikan anak pakaian atau selimut tebal malah dapat mencegah panas tubuh keluar dan dapat menyebabkan suhu terus naik. Pastikan juga kamar tidur anak memiliki suhu yang nyaman — tidak terlalu panas atau terlalu dingin.

Berikan Makanan dan Minuman

Tawarkan banyak cairan untuk menghindari dehidrasi karena demam membuat anak kehilangan cairan lebih cepat dari biasanya. Air, sup, es loli, dan buah adalah pilihan yang baik. Hindari minuman yang mengandung kafein, termasuk cola dan teh, karena dapat memperburuk dehidrasi dengan memperbanyak buang air kecil. Secara umum, biarkan anak-anak makan apa yang mereka inginkan dalam jumlah yang wajar, tetapi jangan memaksanya jika mereka tidak menyukainya.

Istirahat 

Pastikan anak cukup istirahat, tetapi jangan biarkan ia hanya tidur seharian. Hal yang terpenting adalah tetap membuat anak tenang selama demam.


3dpotret32.jpg
admin ku
30/Mar/2022

Banyak orang tua yang berpikir anak-anak belum stabil secara mental dan emosional. Bila melakukan kesalahan pola asuh, tak akan memengaruhi kesehatan mentalnya. Ternyata, kesehatan mental anak sama pentingnya dengan orang dewasa, lo. Bahkan, bisa berkaitan dengan kemampuan bersosialisasinya ketika dewasa nanti.

Kesehatan mental menjadi isu serius di kalangan anak remaja. Isu stres, depresi, dan bipolar makin sering terdengar datang dari anak remaja tersebut. Bahkan, tak jarang beberapa remaja menjadi rentan bunuh diri karena orang tua tidak mengenali kesehatan mental tersebut sejak awal.

Itu sebabnya, Anda sebagai orang tua perlu mengenali persoalan kesehatan mental sejak anak masih usia balita. Anda pun harus memperhatikan pola asuh dan memberikan kasih sayang supaya anak bertumbuh dengan mentalitas baik.

Tips Mengajarkan Anak untuk Menjaga Kesehatan Mental

Meskipun bukan definisi yang sempurna, namun dari definisi tersebut dapat diketahui poin-poin penting yang membantu orangtua dalam mengajarkan anak tentang menjaga kesehatan mental. Berikut tips-tipsnya:

1.Ajari Anak Cara Mengelola Emosi

Ketika masih bayi, anak memberitahu orangtua bila ia sedang tidak nyaman baik secara fisik maupun emosional dengan menangis. Jadi, ketika bayi menangis, orangtua akan mencoba menghibur anak dengan memeluknya, memberi makan, menenangkannya, dan lain-lain.

Namun, seiring bertambahnya usia, orangtua perlu membiarkan anak untuk menyadari akan perasaan emosional yang membuatnya tidak nyaman dan belajar bagaimana cara menghibur dan membantu diri mereka sendiri. Inilah yang dinamakan dengan regulasi emosional.

Dengan demikian, anak dapat mengenali gangguan emosional yang ia miliki dan dapat memenuhi kebutuhan emosionalnya sendiri tanpa harus mengecewakan orang lain. Regulasi emosional adalah kunci untuk kesehatan mental dan kebahagiaan jangka panjang.

2.Memecahkan Masalah dan Beradaptasi dengan Lingkungan

Orang yang sehat secara mental tahu bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, termasuk memahami kapan harus meminta bantuan dari orang lain atau orang yang ahli.

Nah, cara mengajarkan anak tentang menjaga kesehatan mental adalah mendorong anak untuk memecahkan masalah mereka sendiri yang sesuai dengan usianya. Misalnya, anak usia 2 tahun bisa mencari mainan favoritnya yang hilang dengan bantuan ibu, atau anak usia 7 tahun dapat belajar menentukan untuk membeli buku yang ia butuhkan.

Seiring berjalannya waktu, anak dapat belajar bahwa ia mampu memecahkan masalahnya sendiri, dan tumbuh menjadi orang yang terampil memecahkan masalah dengan mengatasi tantangan yang semakin sulit. Si Kecil juga tahu kapan ia membutuhkan ibu sebagai orang yang dapat membantunya.

3.Ajarkan Anak Cara Mengembangkan dan Menjaga Hubungan yang Penuh Kasih, Hormat, dan Bahagia

Ibu sebenarnya tanpa sadar sudah mengajarkan pelajaran ini sejak ibu pertama kali bertemu dengan Si Kecil, alias saat anak dilahirkan. Ibu mencintai dan melindungi anak agar tetap aman. Saat anak bertumbuh, mereka pun dapat berinteraksi dan mengembangkan hubungan penuh kasih dengan keluarga, teman-teman yang terus meluas, serta orang lain di komunitas mereka.

Selain itu, orangtua juga perlu memberi contoh bagaimana bernegosiasi ketika ada perbedaan pendapat di antara orang dewasa dalam sebuah hubungan. Lalu, ibu juga bisa mengajarkan anak-anak bagaimana cara mengatasi konflik ketika mereka memperebutkan mainan yang sama misalnya. Dengan memberikan contoh dan pengajaran, ibu mengajarkan anak bagaimana cara memperlakukan orang lain ketika ada perbedaan pendapat sebelum pertengkaran merusak hubungan yang penting.

4.Memenuhi Kebutuhan Psikologis untuk Keamanan, Kekuatan, Kesenangan, Kebebasan dan Cinta Setiap Hari

Tiap orang dilahirkan dengan instruksi genetik untuk memenuhi kebutuhan psikologis mereka akan keamanan, cinta, kekuasaan, kesenangan dan kebebasan. Meskipun anak dilahirkan dan didorong untuk memenuhi kebutuhan ini, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut secara bertanggung jawab dan terhormat.Jadi, tugas orangtua adalah mengajarkan anak-anak untuk memenuhi kebutuhan psikologis mereka dengan cara yang tidak menghalangi orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.


3dpotret31.jpg
admin ku
29/Mar/2022

Gigi susu bayi berfungsi untuk membantu bayi mengunyah makanan dan belajar bicara. Kelak, posisi gigi susu tersebut akan menjadi tempat bagi tumbuhnya gigi tetap. Oleh karena itu, Anda perlu menjaga kesehatan gigi susu Si Kecil sejak dini.

Gigi susu merupakan gigi pertama yang tumbuh saat bayi. Meski akan tanggal dan digantikan dengan gigi permanen, gigi susu bayi tetap harus dijaga kesehatannya. Hal ini karena gigi susu berperan penting dalam tumbuh kembang anak.

Secara keseluruhan, jumlah gigi susu yang akan tumbuh adalah 20 buah. Gigi tersebut terdiri atas 4 gigi seri depan (atas dan bawah), 4 gigi seri samping (mengapit gigi seri tengah), 4 gigi taring, dan 8 gigi geraham.

Tips agar Bayi Tidak Sakit Saat Mulai Tumbuh Gigi

Banyak orang mengaitkan kondisi tumbuhnya gigi dengan demam dan diare. Namun, hingga saat ini, belum ada pembuktian medis untuk hal tersebut. Saat tumbuh gigi, bayi akan merasakan sensasi yang berbeda-beda. Ada beberapa bayi yang tidak menampakkan gejala apa pun, tetapi ada juga yang rewel.

Saat gigi susu bayi mulai tumbuh, Anda tidak perlu cemas. Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan agar bayi lebih nyaman saat menjalani proses tumbuh gigi. Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan:

1. Berikan camilan

Perhatikan tingkah laku Si Kecil. Apabila ia terlihat sering mengunyah mainan atau barang-barang yang dipegangnya, hal tersebut bisa menjadi tanda giginya mulai tumbuh.

Anda bisa memberinya camilan sehat, seperti irisan kecil wortel, apel, atau roti untuk dikunyah. Jangan lupa untuk selalu mendampingi Si Kecil ketika ia mengunyah agar tidak tersedak.

2. Gunakan teether

Teether dapat membantu Si Kecil ‘melupakan’ gusi yang terasa tidak nyaman karena sedang tumbuh gigi. Agar lebih maksimal, Anda dapat menyimpan teether di lemari es. Sensai dinginnya akan membuat gusi Si Kecil terasa lebih nyaman. Namun, pastikan agar teether tidak terlalu dingin dengan tidak menyimpannya di freezer.

3. Berikan gel khusus gusi

Ketika mulai tumbuh gigi, gusi menjadi bengkak dan kemerahan. Anda dapat memberikan gel khusus gusi. Biasanya, gel gusi bayi mengandung anestesi lokal yang ringan, sehingga gusi menjadi lebih nyaman dan Si Kecil pun lebih tenang. Usahakan untuk memilih produk gel yang tidak mengandung gula.

Cara Merawat Gigi Susu Bayi

Gigi susu bayi harus dirawat sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya kerusakan. Bahkan, Anda dapat merawat gusi Si Kecil sebelum gigi susunya tumbuh.

Berikut ini adalah cara merawat gusi dan gigi susu bayi yang dapat Anda lakukan:

  • Gunakan lap bersih yang lembut dan agak basah untuk membersihkan gusi Si Kecil dan gosoklah secara perlahan.
  • Bersihkan gusi bayi sebelum ia tidur dan setelah makan, sebanyak dua kali sehari.
  • Pilihlah sikat gigi yang lembut bila Anda ingin mengenalkan Si Kecil dengan sikat gigi sejak dini. Sebagai langkah awal, Anda hanya perlu membasahi sikat gigi dengan air bersih saja tanpa menggunakan pasta gigi.
  • Ketika gigi susunya sudah muncul, mulailah memberikan sedikit pasta gigi pada sikat giginya, kira-kira sebesar butiran beras. Saat usia anak mencapai 3 tahun, Anda bisa menambahkan porsi pasta gigi yang digunakan menjadi sebesar kacang polong.
  • Sikatkan gigi Si Kecil sampai ia benar-benar bisa menyikat gigi sendiri, yaitu sekitar usia 6 tahun.
  • Dampingi Si Kecil saat ia menyikat gigi dan ingatkan Si Kecil untuk selalu menyikat giginya dua kali sehari.
  • Kenalkan Si Kecil dengan makanan sehat agar gigi susu dan gigi tetapnya nanti tetap terawat dan terjaga kesehatannya.
  • Kunjungi dokter gigi secara rutin untuk memeriksakan gigi Si Kecil.

3dpotret30.jpg
admin ku
26/Mar/2022

COVID-19 varian Omicron belakangan ini semakin ‘ngegas’ di Indonesia. Sama seperti varian COVID-19 lainnya, Omicron tak hanya menyerang orang dewasa, lansia, dan komorbid, tetapi juga bisa menyerang anak-anak, termasuk balita dan bayi.

Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa ada salah satu gejala yang khas dari infeksi Omicron pada anak-anak, yaitu batuk parau atau croup. Berikut ini pembahasannya!

Batuk Parau Jadi Gejala Omicron pada Anak

Para peneliti menemukan total 401 pasien anak di UGD yang didiagnosis batuk parau atau croup selama gelombang Delta, dan 107 selama gelombang Omicron. Selama lonjakan Omicron, kasus croup meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Dalam studi sebelumnya yang diterbitkan pada 21 Desember 2021, peneliti menemukan bahwa 2,4 persen anak-anak berusia 13 tahun ke bawah yang dirawat di rumah sakit di satu daerah Afrika Selatan karena COVID-19 yang disebabkan oleh Omicron juga memiliki diagnosis batuk parau atau croup.

Batuk parau atau croup biasanya disebabkan oleh virus pernapasan parainfluenza. Ini terjadi ketika saluran udara bagian atas mengalami peradangan, sehingga sulit untuk bernapas. Karena anak-anak memiliki saluran udara yang lebih kecil daripada orang dewasa, ini lebih sering terjadi pada anak-anak.

Peradangan di kotak suara, tenggorokan, dan saluran bronkial ini menyebabkan anak mengalami batuk khas yang keras. Beberapa orang menyebut suara batuk ini seperti anjing laut yang menggonggong. Ketika anak bernapas, ia juga bisa mengeluarkan siulan bernada tinggi yang dikenal sebagai stridor.

Dalam beberapa kasus, gejala Omicron pada anak ini bisa hilang setelah sekitar lima hari. Namun, beberapa anak lainnya juga bisa mengalami yang lebih parah, sehingga gejalanya tidak hilang hanya dengan perawatan rumahan.

Waspadai Gejala Lainnya

Selain batuk parau, ada beberapa gejala Omicron pada anak lainnya yang juga perlu diwaspadai, yaitu:

  • Demam.
  • Pilek.
  • Batuk yang terdengar lebih biasa.
  • Ruam.

Gejala Omicron pada anak juga bisa mirip seperti gejala pada orang dewasa. Oleh karena itu, waspadai juga beberapa gejala berikut:

  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.
  • Kelelahan.
  • Nyeri otot.
  • Sakit kepala.
  • Hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa.
  • Sakit tenggorokan.
  • Hidung tersumbat.
  • Mual atau muntah.
  • Diare.

Tips Perawatan Rumahan untuk Batuk Parau

Batuk parau atau croup sebagai gejala Omicron pada anak tentu dapat membuat ibu khawatir. Namun, jika dokter menyatakan bahwa gejala infeksi yang dialami ringan hingga sedang, biasanya cukup dengan perawatan rumahan.

Berikut beberapa tips perawatan rumahan saat anak mengalami batuk parau akibat Omicron:

  • Bawa anak ke udara yang sejuk. Ini dapat membantu menenangkan saluran pernapasan dan memudahkan mereka untuk bernapas.
  • Gunakan alat penguap di kamar anak di malam hari.  Udara hangat dan lembap yang dihasilkan oleh alat penguap membantu mengendurkan pita suara.
  • Mandi air hangat. Uap dari air hangat dapat membantu meringankan gejala batuk yang dialami.
  • Cobalah untuk membuat anak tetap tenang. Anak-anak biasanya dapat bernafas lebih baik saat tidak menangis.

Itulah pembahasan mengenai gejala khas Omicron pada anak. Meski mungkin perlu penelitian lebih lanjut, saat ini diketahui bahwa batuk parau menjadi salah satu gejala khas yang perlu diwaspadai.

Jika anak terinfeksi COVID-19 varian Omicron, berdiskusilah dengan dokter untuk mendapatkan penanganan terbaik. Jika dokter meresepkan obat untuk diminum di rumah, download aplikasi Halodoc saja untuk cek kebutuhan obat dan vitamin anak dengan mudah.


3dpotret28.jpg
admin ku
25/Mar/2022

Gadget tidak jarang dijadikan senjata ampuh para orangtua untuk membuat anak tenang sekaligus betah di rumah. Sayangnya, jika hal ini terlalu sering dilakukan, justru dapat menyebabkan anak kecanduan gadget.Mengatasi anak kecanduan gadget merupakan hal yang perlu Anda upayakan sebisa mungkin. Sebab masalah tersebut dapat mengganggu proses belajar dan tumbuh kembang anak. Kebiasaan ini juga dapat memicu anak mengalami kecanduan game online

Lalu, bagaimana cara menghadapi anak kecanduan HP? Tips-tips berikut semoga bisa membantu.

1. Perbanyak aktivitas bermain secara langsung

Pastikan mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermain dan belajar secara langsung bukan dari layar.Selain mencegah dari ketergantungan pada ponsel, bermain di luar rumah bermanfaat untuk mendukung kesehatan tubuh anak.

2. Jadilah contoh yang baik

Anak belajar dari lingkungan sekitarnya bahkan anak meniru kebiasaan orangtuanya. Jika Anda terlihat sering bermain gadget, anak pasti akan mengikuti kebiasaan tersebut.Jika Anda tidak ingin si kecil sibuk bermain smartphone, Anda sendiri juga harus mampu mengatur waktu untuk menggunakan alat tersebut secara bijak.

3. Terapkan gaya pengasuhan jaman dulu

Tidak dipungkiri, gadget seringkali menjadi “asisten” Anda dalam mengasuh anak, terutama bila Anda sedang sibuk dengan urusan pekerjaan atau rumah tangga.Padahal, kalau dipikir-pikir, orangtua di masa lalu tetap bisa melaksanakan semua pekerjaan dengan baik di saat belum ada penemuan teknologi tersebut sama sekali.

Hal itu bisa jadi karena mereka pandai mengatur waktu dengan baik antara mengasuh anak sekaligus mengurus rumah tangga.Anak-anak di masa lalu juga sudah banyak membantu pekerjaan orangtuanya sejak usia dini. Selain meringankan pekerjaan Anda, hal itu juga dapat melatih kemandirian anak.Demi mengatasi anak dari kecanduan gadget, cobalah menerapkan kembali gaya pengasuhan jaman dulu. Anggap saja perangkat tersebut tidak ada dalam kehidupan kita.

4. Dampingi anak saat belajar online

Menggunakan gadget sebenarnya tidak selalu berarti negatif. Seiring perkembangan dunia teknologi, beberapa sekolah bahkan menerapkan penggunaan perangkat tersebut untuk membantu anak belajar.

Apalagi sejak masa pandemi Coronavirus, anak usia sekolah menjadi lebih banyak belajar dari rumah dan menggunakan internet untuk berinteraksi dengan guru dan teman-temannya.Namun, sebaiknya Anda tidak lengah. Untuk mencegah dan mengatasi anak dari kecanduan gadget, pastikan Anda selalu mendampinginya saat belajar secara online.

5. Menyewa jasa pengasuh

Jasa pengasuh memang harganya cenderung mahal. Namun, bila Anda tidak punya cukup waktu untuk mengasuh anak, hal ini sebaiknya Anda pertimbangkan.Daripada anak setiap hari “diasuh” oleh smartphone, alangkah lebih baik bila ia diasuh oleh manusia, bukan?

Lalu untuk mengatasi anak dari kecanduan gadget, tetapkan aturan yang ketat pada pengasuh tersebut.Mintalah ia menemani anak bermain secara langsung, bukan malah memberikan perangkat tersebut agar anak tenang.Bila memungkinkan, pasanglah kamera pengintai (CCTV) di rumah untuk membantu Anda mengawasi kegiatan si kecil dan pengasuhnya.

6. Hindari meletakkan gadget sembarangan

Anak menjadi mengenal gadget dan terikat dengannya bila ia dapat mengakses alat tersebut dengan mudah.Oleh sebab itu, untuk mengatasi anak kecanduan gadget, hindarilah meletakkannya sembarangan. Pastikan pula area kamar tidur anak bebas dari alat tersebut.

Bila gadget ia butuhkan untuk urusan sekolah, awasi dan batasi penggunaannya seketat mungkin.Beri batas waktu ia boleh menggunakan perangkat tersebut dan cegah dia membuka aplikasi-aplikasi lainnya yang tidak berhubungan dengan kebutuhan sekolah.

7. Perbanyak aktivitas di luar atau di dalam rumah

Meningkatkan aktivitas anak di dalam rumah atau di luar rumah bisa menyita perhatian anak dan lupa dengan ponsel pintarnya.Hal ini bisa menjadi salah satu cara jitu untuk mengatasi anak yang sedang kecanduan HP.

Cobalah mengajak anak untuk lari pagi atau bersepeda di hari libur, memasak bersama, atau berkunjung ke rumah saudara. Intinya, kegiatan apapun yang membuat anak kembali aktif.Catat daftar kegiatan yang memungkinkan untuk dilakukan dan buatlah jadwalnya sehari-hari.Hal ini dapat membantu Anda dalam menemukan ide kegiatan yang menarik agar anak tidak bosan.

8. Bersikap tegas dan konsisten

Melepaskan anak dari gadget kesayangannya dapat membuatnya tantrum. Kondisi ini memang sulit dihadapi. Akan tetapi ingat, Anda harus tetap tegas untuk menerapkan aturan yang sudah dibuat.

Jangan sampai Anda iba dengan rengekan si kecil. Ingat selalu tujuan Anda yaitu mengatasi anak dari kecanduan gadget yang dapat menimbulkan berbagai efek negatif bagi masa depannya.Tantrum memang situasi yang merepotkan tapi yakinlah hal itu hanya terjadi di awal saja. Bila tetap konsisten, Anda akan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar.

9. Minta bantuan tenaga profesional

Jika langkah-langkah di atas tidak memberikan efek yang maksimal. Atau mungkin anak malah menjadi stres, cemas, atau bahkan depresi.Bila hal itu terjadi, cobalah berkonsultasi pada orang yang profesional seperti dokter atau psikolog anak.Cobalah berdiskusi dengan mereka dan meminta saran pengasuhan yang lebih baik. Mereka akan membantu Anda dalam mengatasi anak yang kecanduan gadget.


3dpotret27.jpg
admin ku
17/Mar/2022

Untuk mengetahui apakah bayi memiliki gangguan pendengaran atau tidak, sebaiknya lakukan tes pendengaran sejak bayi lahir. Bahkan, orangtua dianjurkan untuk melakukan tes tersebut sebelum membawa pulang bayi dari rumah sakit.

Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah indera pendengaran bayi berfungsi dengan normal atau mengalami gangguan. Bila ditemukan adanya gangguan pendengaran pada bayi, maka dokter dapat segera mengambil tindakan penanganan.

Tes pendengaran pada bayi tidak menyakitkan kok, justru sebagian bayi akan tertidur saat pemeriksaan berlangsung. Tes ini juga hanya membutuhkan waktu lima sampai sepuluh menit. Berikut dua jenis tes pendengaran yang biasanya dilakukan pada bayi baru lahir:

1. Tes Automated Auditory Brainstem Response (AABR)

Tes ini dilakukan dengan cara memasang earphone kecil pada kedua telinga bayi. Kemudian, perawat juga akan menaruh sensor yang sudah terhubung dengan jaringan komputer di kulit kepala bayi. Sensor ini akan mengukur aktivitas gelombang otak pada bayi dari respon yang ditunjukkannya ketika bunyi klik dikirim melalui earphone kecil tadi.

2. Tes Otoacoustic Emissions (OAE)

Tes pendengaran ini dilakukan untuk mengukur gelombang suara di telinga bayi bagian dalam. Prosedur tes ini hampir mirip dengan tes AABR, yaitu dengan meletakkan perangkat kecil di telinga bayi untuk menghasilkan bunyi klik yang lembut, kemudian respon telinga bayi terhadap bunyi tersebut akan direkam.

Gejala Gangguan Pendengaran pada Bayi

Selain dengan melakukan tes pendengaran, ibu juga dianjurkan untuk mengamati perkembangan bayi dari bulan ke bulan. Waspadai bila ada tanda-tanda gangguan pendengaran berikut pada bayi:

  • Tidak kaget saat mendengar suara nyaring.
  • Pada bayi di bawah 4 bulan, ia tidak menoleh ke arah sumber suara.
  • Menyadari kehadiran seseorang bila pengidap melihatnya, tapi pengidap tidak acuh saat dipanggil namanya.
  • Tidak bisa menyebutkan satu kata pun saat berusia satu tahun.
  • Lambat saat belajar bicara atau tidak jelas ketika berbicara.
  • Sering menjawab tidak sesuai dengan pertanyaannya.
  • Sering berbicara dengan lantang atau menyetel volume TV keras-keras.
  • Memerhatikan orang lain untuk meniru sesuatu yang diperintahkan, karena ia tidak bisa mendengar sesuatu yang diinstruksikan

3dpotret26.jpg
admin ku
14/Mar/2022

Sama seperti orang dewasa, anak-anak bisa saja berkata kasar, mengumpat, melontarkan kata kotor, ataupun makian. Umumnya, anak berusia di bawah 5 tahun yang berkata kasar belum paham apa makna di balik umpatan yang ia ucapkan. Ia bisa berucap seperti itu karena meniru orang yang pernah berkata kasar di sekitarnya atau bisa juga karena menurutnya kata-kata tersebut terdengar lucu.

Namun, anak-anak berusia di atas 5 tahun atau usia sekolah yang mengumpat biasanya sudah mengerti arti dari kata-kata yang ia ucapkan. Bila tidak mengerti pun, setidaknya mereka mengerti bahwa kata-kata tersebut tidak pantas dilontarkan.Meski begitu, ia tetap bisa menggunakan kata tersebut sebagai ekspresi kekesalannya akan sesuatu atau untuk mendapatkan perhatian dari orang di sekitarnya.

Alasannya Anak Berbicara Kasar

  • Ingin menunjukkan keberanian 
  • Ingin mendapat perhatian orangtua.
  • Ingin masuk menjadi bagian dalam suatu pergaulan.
  • Ingin terlihat keren pada jalur yang salah.
  • Sebagai upaya membantah dan memberontak terhadap aturan dari orang tua

Cara Mengatasi Anak Suka Berkata Kasar

Perilaku anak berkata kasar tidak bisa diabaikan. Meski begitu, jangan terburu-buru untuk berteriak dan memarahinya, ya. Respons yang orang tua berikan berperan sangat penting dalam mengatasi perilaku ini.

Berikut ini adalah beberapa tips dalam menangani anak yang suka berkata kasar:

1. Tetap tenang 

Sangat penting untuk tetap tenang. Reaksi berlebihan dan tertawa dapat memperparah kebiasaan ini terutama jika penyebab bersumpah adalah untuk menarik perhatian. Jelaskan kepada anak bahwa berkata kasar itu tidak pantas dan tidak dapat diterima.

2. Berikan contoh yang baik

Karena anak mudah sekali meniru orang, orang tua harus menjadi contoh yang baik untuknya. Hindari berkata kasar, mencaci, atau menyumpah dengan nada marah di depan mereka. Bila tidak sengaja dilakukan, cepatlah mengoreksinya dan minta maaf pada anak. Selanjutnya, berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi.

3.Bangun rasa empati anak

Saat anak berkata kasar cobalah ajak ia untuk memikirkan perasaan orang lain. Misalnya dengan bertanya “Kira-kira apa yang kamu rasakan jika seseorang berkata kasar padamu? Tentu kamu merasa sakit hati, kan? Begitulah yang dirasakan orang lain karena perkataanmu itu.”

4. Batasi penggunaan gadget

Selain dari lingkungan, kata-kata kasar dan kotor yang anak ucapkan juga bisa berasal dari gadgetlho. Tidak sedikit acara TV atau video di media sosial yang kontennya tidak mendidik dan mengandung kata-kata kasar.Selain itu, terlalu sering menggunakan gadget juga bisa mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik anak.

5.Memberi Konsekuensi

Konsekuensi dapat dilakukan dengan memberikan hukuman saat anak berbicara kasar. Beberapa jenis konsekuensi yang dapat diberikan, seperti mengurungnya di kamar atau melarangnya bermain gadget. Ingat, ibu tidak boleh terpancing emosi saat memberikan konsekuensi, agar tidak mengarah pada kekerasan.

6. Jangan ragu memuji dan memberi penghargaan

Pujilah usahanya ketika ia berhasil menjauhi kata kasar dan bisa berbicara dengan santun, agar ia merasa dihargai dan diperhatikan. Misalnya, jika ia bercerita bahwa temannya berkata kasar, tapi ia menahan diri dan tidak mengikutinya, katakan bahwa ia hebat dan anda bangga padanya.


3dpotret24.jpg
admin ku
10/Mar/2022

Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai khususnya di negara berkembang. Anemia menjadi salah satu masalah gizi yang sering dialami oleh masyarakat Indonesia, khususnya balita dan sebagian besar disebabkan karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan sehari-hari.

Penyebab anemia diartikan sebagai kondisi yang muncul karena rendahnya sel darah merah, kadar hemoglobin, dan hematokrit di bawah normal. Anemia sendiri bukanlah penyakit, tetapi lebih mengarah pada gangguan fungsi tubuh.

Terjadinya anemia kebanyakan disebabkan karena kurangnya zat besi yang terdapat dalam tubuh. Umumnya yang mengidap anemia yaitu bayi maupun anak-anak. Gejala anemia pada anak umumnya terjadi akibat kekurangan zat besi saat ibu masih hamil dan proses tumbuh kembang anak yang tidak disertai dengan kecukupan makanan yang mengandung zat besi maupun pemberian susu formula yang tidak mengandung cukup zat besi.

Penyebab Kekurangan Zat Besi pada Anak

  1. Mengalami gangguan penyerapan makanan yang terjadi dalam usus (malabsorpsi)
  2. Mengalami perdarahan saluran cerna
  3. Pertumbuhan anak yang terlalu cepat
  4. Sering mengalami infeksi
  5. Berat badan yang berlebih
  6. Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung serat. Perlu diketahui jika serat dikonsumsi terlalu banyak cenderung menghambat penyerapan zat besi.
  7. Memiliki alergi susu sapi

Apa Saja Gejala Anemia pada Anak

Seringnya gejala anemia pada anak di tahap awal tidak menunjukkan apapun. Makanya tidak jarang kasus anemia pada anak baru diketahui saat sudah ada komplikasi akibat anemia. Namun, di bawah ini terdapat gejala anemia pada anak yang bisa terlihat:7

  • Gejala anemia anak yang pertama yaitu jantung yang sering berdebar-debar.
  • Kulit dan mata anak jadi kekuningan atau pucat.
  • Jadi kurang aktif saat berkegiatan.
  • Sering mengalami infeksi dan luka tidak kunjung sembuh.
  • Tumbuh kembang melambat
  • Sering mengalami nyeri di tulang atau bagian tubuh tertentu
  • Mudah mengalami infeksi.
  • Suka sakit kepala
  • Tubuh jadi lemas atau lelah.
  • Anak jadi sulit fokus atau berkonsentrasi
  • Terakhir, gejala anemia pada anak yaitu sering mengalami sesak napas.

Cara Mengatasi Anemia pada Anak

Selain mengetahui penyebab dan gejala anemia pada anak, lalu bagaimana ya cara mengatasinya?  pastikan anda memberikan makanan yang mengandung zat besi dan vitamin setiap hari agar membantu tubuh menghasilkan sel darah merah dan hemoglobin yang cukup. anda bisa memberikan makanan kaya zat besi seperti sayuran hijau, kentang, kacang-kacangan, kuning telur, tahu, tempe, daging, ayam, dan ikan.Agar membuat penyerapan zat besi menjadi optimal, perlu juga dibarengi dengan konsumsi makanan yang kaya vitamin C, seperti brokoli, jeruk, stroberi, paprika.


3dpotret23.jpg
admin ku
07/Mar/2022

Mood swing merupakan hal yang wajar terjadi dan umumnya hanya berlangsung selama beberapa saat. Mood swing pada anak dapat disebabkan oleh banyak faktor, misalnya karena ia kelelahan, stres, atau ketika ia sedang merasa cemas. Mood swing pada anak karena hal tersebut akan menghilang sendiri ketika penyebab stres pada anak teratasi.

Namun, selain karena faktor yang telah disebutkan di atas, terkadang mood swing pada anak juga bisa disebabkan oleh beberapa kondisi, misalnya kekurangan asupan nutrisi, perubahan hormon dalam masa pertumbuhan, atau gangguan mental tertentu, seperti depresi atau gangguan bipolar pada anak

Cara Mengatasi Mood Swing pada Anak

Tentu saat menghadapi anak yang mengalami mood swing, orang tua tidak perlu panik dan frustrasi, apalagi sampai bertindak kasar. Di bawah ini ada kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk membantu anak mengatasi mood swing dan mengendalikan emosinya.

1. Temukan pemicu mood swing

Ketika anak mengalami mood swing, dekatilah ia di saat tenang, kemudian jalin komunikasi dengan hangat sambil menanyakan masalah apa yang sedang terjadi hingga membuat dirinya risau atau emosi.

Jika ia tidak mau menjawab, jangan dipaksakan terus bertanya. Berikan kesempatan baginya untuk menenangkan diri.Ketika ia sudah merasa tenang, barulah tanyakan kembali terkait pemicu mood swing yang dialaminya. Dengan begitu anda bisa membantu mencari solusiya.

2. Alihkan dengan aktivitas Positif

Daripada membiarkan buah hati terus berkeluh kesah atau emosi saat mood swing, cobalah alihkan perhatiannya dengan mengajak anak melakukan berbagai aktivitas yang menarik minatnya. Misalnya, mengajak jalan-jalan, membaca buku, menonton film, atau mendengarkan musik favoritnya.

3.Dukung gaya hidup sehat pada keluarga

Manfaat paling utama dari hidup sehat adalah dapat banyak membantu meningkatkan suasana hati setiap orang, termasuk remaja. anda bisa menciptakan keluarga yang lebih bahagia dengan mendukung kebiasaan sehat di rumah, seperti:

  • Jadilah panutan yang baik dan pilih perilaku yang sesuai.
  • Dorong kebiasaan makan yang sehat.
  • Pastikan setiap anggota keluarga mendapat istirahat yang cukup.

4.Sesekali berikan anak ruang untuk sendiri

Ada saat-saat dalam hidup ketika anak membutuhkan sedikit ruang untuk menenangkan dan mengubah suasana hatinya sendiri.Jika anak perlu menangis atau mondar-mandir di dalam ruangan, beri ia privasi untuk melakukannya. Tawarkan kenyamanan dan beri tahu anak bahwa anda ada di sana jika mereka perlu berbicara.

5. Ajarkan keterampilan mengatasi emosi

Mood swing pada anak tetap tidak boleh diabaikan, apalagi sampai anak emosi berlebihan. Oleh karena itu, orang tua juga perlu mendidik dan mengajarkan ia cara mengendalikan emosi, misalnya melalui relaksasi, meditasi, atau latihan pernapasan.


3dpotret25.jpg
admin ku
04/Mar/2022

Impulsif adalah perilaku yang cenderung merusak dan tidak terkontrol akibat tindakan yang dilakukannya tanpa pernah berpikir adanya konsekuensi yang mungkin didapatkan.Biasanya tindakan tersebut adalah bentuk respon emosional mengenai kejadian yang pernah dialami sebelumnya.Meskipun anak menyadari tindakan yang dilakukannya, tetapi ia akan tidak bisa mengontrol dirinya sehingga ia akan mengulangi hal tersebut terus menerus.

Perilaku impulsif yang sering terjadi pada anak yang baru sekolah yaitu seperti anak yang mengerjakan tugas tanpa memperhatikan petunjuk terlebih dahulu, hasil dari tugas itu pun pasti akan salah.

Tanda-tanda anak berperilaku impulsif

Ada beberapa tanda anak mempunyai sifat impulsif, yaitu:

  • Melukai diri sendiri ketika marah, sedih, atau kecewa
  • Emosi yang berlebihan
  • Kurang berusaha, anak akan malas dan mudah cepat menyerah jika diberi tugas atau tanggung jawab.
  • Merusak barang milik pribadi atau orang lain ketika marah
  • Sensasi mencari kesenangan, anak hanya akan terus bersenang-senang meskipun yang dilakukannya salah.
  • Selalu terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu entah itu salah atau benar.

Penyebab perilaku impulsif

Sebenarnya apa yang menyebabkan anak mempunyai sifat yang keras dan tidak bisa ditahan ini? Mereka juga tidak berpikir sebelum melakukan sesuatu dan akan kesulitan untuk mengontrol respon. Berikut penyebab sifat impulsif pada anak.

1. Saraf yang belum berkembang sempurna

Penyebab pertama bisa disebabkan oleh saraf impuls pada anak yang masih belum berkembang dengan sempurna, sehingga jika dibandingkan dengan orang dewasa yang sudah mempunyai saraf impuls yang matang, anak akan lebih berani mengambil tindakan tanpa perlu berpikir konsekuensi.

2. Attention Deficit Hyperactivity Disorder

ADHD adalah jenis gangguan mental pada anak yang menyebabkan ia susah memusatkan perhatian dan cenderung hiperaktif.Anak yang mengidap gangguan ADHD seringkali memiliki sifat impulsif. Anak akan menjadi tidak sabaran ketika menunggu giliran dan cenderung suka memotong pembicaraan orang lain.Keseimbangan yang terjadi pada otak yang mengakibatkan perilaku impulsif pada anak ADHD.

3. Tidak dapat mengekspresikan diri dengan baik

Sifat impulsif anak sering terjadi pada anak yang usianya masih kecil, karena ia cenderung belum bisa mengekspresikan dirinya dengan baik. Ia tidak akan paham apa yang ia rasakan itu sebenarnya perasaan apa, entah senang, sedih, stress, atau frustasi.

4. Stres dan frustrasi

Alasan lain yang bisa menyebabkan anak berperilaku impulsif adalah karena adanya tekanan yang dirasakan. Ketika ia sedang mengalami masalah entah di lingkungan keluarga atau sekolah, bisa saja ia melampiaskan kekesalannya dengan perbuatan impulsif.

5.Adanya Faktor Genetik

Faktor genetik merupakan salah satu penyebab anak impulsif yang sering terjadi. Studi menunjukkan bahwa anak-anak atau remaja yang memiliki anggota keluarga yang sedang berjuang dengan penyakit seperti gangguan mood atau gangguan mental lainnya cenderung lebih rentan untuk mengembangkan gejala gangguan kontrol impuls. 


3DPotret 2022. All rights reserved.