Jam KerjaSenin - Sabtu 8:00 AM-4:00PMEMAIL:3dpotret@gmail.com
magang-3.png
02/Aug/2025

Stimulasi tumbuh kembang anak tidak selalu membutuhkan mainan mahal atau alat canggih. Interaksi aktif dan berkualitas dari orang tua adalah kunci utama. Masa balita adalah periode emas di mana otak anak berkembang sangat pesat, sehingga stimulasi yang tepat akan membentuk dasar yang kuat untuk kemampuan kognitif, motorik, sosial, dan emosionalnya.

Bagaimana cara stimulasi yang efektif?

  • Ajak Berbicara dan Bernyanyi: Sejak bayi, ajak anak berbicara tentang apa pun, bacakan buku, dan nyanyikan lagu. Ini membantu perkembangan bahasa dan kemampuan komunikasi.
  • Permainan Interaktif: Bermain adalah cara anak belajar. Permainan sederhana seperti cilukba, menyusun balok, atau bermain peran dapat mengembangkan kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan motorik halus.
  • Memberikan Kesempatan Bereksplorasi: Biarkan anak menjelajahi lingkungan yang aman. Ini mendorong rasa ingin tahu dan melatih keterampilan motorik kasar.
  • Libatkan dalam Kegiatan Sehari-hari: Ajak anak membantu kegiatan rumah tangga sederhana sesuai usianya. Ini melatih kemandirian dan tanggung jawab.
  • Membaca Buku Bersama: Membaca sejak dini menumbuhkan minat baca, memperkaya kosakata, dan mempererat ikatan emosional.
  • Memperkenalkan Warna dan Bentuk: Ajarkan anak tentang warna dan bentuk melalui benda-benda di sekitarnya.
  • Mendorong Interaksi Sosial: Jika memungkinkan, ajak anak bertemu dengan anak-anak lain untuk melatih keterampilan sosial dan berbagi.

magang-2-1.png
02/Aug/2025

Setiap kehamilan itu unik, namun ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai karena bisa mengindikasikan masalah serius. Mengenali tanda bahaya kehamilan sejak dini sangat penting untuk segera mendapatkan penanganan medis dan memastikan keselamatan ibu serta bayi.

Kapan Anda harus segera mencari pertolongan medis?

  • Pendarahan Vaginal: Pendarahan dalam jumlah berapa pun, terutama yang disertai nyeri, harus segera diperiksakan. Ini bisa menjadi tanda keguguran, kehamilan ektopik, atau masalah plasenta.
  • Nyeri Perut Hebat atau Kram: Nyeri yang intens dan menetap, terutama di trimester kedua atau ketiga, bisa menjadi tanda persalinan prematur, solusio plasenta, atau masalah lain.
  • Sakit Kepala Hebat yang Tidak Mereda: Jika disertai penglihatan kabur, mual, atau bengkak pada wajah dan tangan, ini bisa menjadi gejala preeklampsia.
  • Pembengkakan Mendadak pada Wajah, Tangan, dan Kaki: Pembengkakan berlebihan dan tiba-tiba, terutama jika disertai gejala lain seperti sakit kepala, juga bisa menjadi tanda preeklampsia.
  • Demam Tinggi (di atas 38°C): Demam bisa menjadi tanda infeksi yang memerlukan penanganan segera.
  • Penurunan Gerakan Janin yang Signifikan: Jika Anda merasa bayi bergerak lebih sedikit dari biasanya, atau tidak bergerak sama sekali, segera hubungi dokter.
  • Pecah Ketuban Sebelum Waktunya: Meskipun tidak ada kontraksi, keluarnya cairan dari vagina yang bukan urine, terutama jika berjumlah banyak, perlu segera diperiksakan.

 


tugas-magang.png
02/Aug/2025

Masa kehamilan adalah periode krusial di mana asupan nutrisi ibu hamil sangat memengaruhi tumbuh kembang janin. Memenuhi kebutuhan gizi seimbang bukan hanya penting untuk kesehatan ibu, tetapi juga menjadi bekal terbaik bagi bayi yang akan lahir.

Apa saja nutrisi yang wajib dipenuhi?

  • Asam Folat: Sangat vital di awal kehamilan untuk mencegah cacat lahir pada otak dan sumsum tulang belakang bayi. Sumbernya bisa didapat dari sayuran hijau gelap, kacang-kacangan, dan sereal yang difortifikasi.
  • Zat Besi: Mencegah anemia pada ibu dan mendukung pembentukan sel darah merah pada janin. Daging merah tanpa lemak, bayam, dan lentil adalah pilihan yang baik.
  • Kalsium: Penting untuk pembentukan tulang dan gigi janin yang kuat, serta menjaga kesehatan tulang ibu. Susu, yogurt, keju, dan brokoli kaya akan kalsium.
  • Protein: Mendukung pertumbuhan sel dan jaringan janin. Daging, ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan adalah sumber protein berkualitas.
  • Vitamin D: Membantu penyerapan kalsium dan penting untuk sistem kekebalan tubuh. Paparan sinar matahari pagi dan ikan berlemak seperti salmon adalah sumbernya.

Selain itu, pastikan asupan karbohidrat kompleks untuk energi dan serat untuk mencegah sembelit. Konsumsi air putih yang cukup juga sangat dianjurkan. Hindari makanan mentah atau setengah matang, makanan tinggi gula dan lemak jenuh, serta kafein berlebihan.


WhatsApp-Image-2025-02-05-at-10.34.31.jpeg
05/Feb/2025

Senam ibu hamil membantu mempersiapkan tubuh Bunda agar persalinan berjalan lebih lancar. Rutin berolahraga bisa membuat otot-otot tubuh, terutama di area panggul, menjadi lebih kuat dan lentur, sehingga mempermudah proses kelahiran Si Kecil. Beberapa gerakan yang direkomendasikan, seperti senam ringan, senam jongkok, child’s pose, dan butterfly pose, dirancang untuk meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot yang diperlukan saat melahirkan. Yuk, simak lebih lanjut untuk mengetahui gerakan-gerakan ini dan cara melakukannya dengan benar.

Senam Ringan

Senam ringan adalah salah satu cara yang efektif untuk membantu tubuh Bunda mempersiapkan persalinan, terutama saat memasuki trimester ketiga. Gerakan sederhana yang bisa Bunda coba termasuk goyangan pinggul dan langkah kecil di tempat. Caranya, Bunda bisa berdiri tegak dengan kaki sedikit terbuka, lalu perlahan goyangkan pinggul dari sisi ke sisi sambil bernapas dalam-dalam. Langkah kecil di tempat sambil menggerakkan lengan secara perlahan juga bisa membantu menjaga kelenturan dan mengurangi ketegangan pada otot. Mainkan lagu-lagu lembut yang Bunda suka untuk memberikan semangat dan membuat suasana lebih rileks. Senam ringan ini membantu membuka panggul dan mempersiapkan jalan lahir bayi. Saat Bunda bergerak dengan ritme yang nyaman, tubuh mulai menemukan pola alami yang mendukung proses persalinan. Selain itu, senaman ringan dapat membantu aliran darah lebih baik ke panggul, yang akan menurunkan Si Kecil ke posisi yang paling tepat untuk lahir. Selain itu, gerakan yang teratur, rileks, dan rileks membantu Bunda tetap tenang, yang sangat penting untuk menangani kontraksi dengan lebih baik.

Senam Jongkok

Senam jongkok dapat membantu memperkuat otot paha dan panggul, yang berperan langsung dalam proses persalinan. Untuk memulai, ikuti langkah-langkahnya berikut ini:

  1. Berdiri dengan posisi tegak, lalu letakkan tangan di pinggang.
  2. Secara perlahan, turunkan tubuh ke posisi jongkok sambil menjaga punggung tetap lurus.
  3. Tahan posisi ini selama 8-10 detik, sambil memastikan napas teratur. Setelah menahan posisi jongkok, naik kembali ke posisi berdiri dengan perlahan.
  4. Gerakan ini bisa diulang sebanyak 3 kali atau hingga Bunda merasa cukup lelah.

Dengan rutin melakukan senam jongkok, otot-otot yang terlibat dalam persalinan akan menjadi lebih kuat dan siap mendukung kelancaran proses kelahiran Si Kecil. Pastikan Bunda mendengarkan tubuh dan tidak memaksakan diri, ya!

Butterfly Pose

Butterfly pose dapat membantu membuka area panggul dan meningkatkan fleksibilitas tubuh, yang dapat mempermudah proses kelahiran. Selain itu, pose ini juga melatih Bunda untuk merasakan dan mengontrol kurva alami punggung bawah, yang dapat membantu selama fase dorongan persalinan. Cara melakukan butterfly pose:

  1. Duduklah di lantai dengan lutut terbuka lebar dan telapak kaki saling bertemu.
  2. Tempatkan tangan di bawah lutut untuk memberikan dukungan.
  3. Saat menghirup napas, duduk tegak dengan punggung bawah membentuk kurva alami (mirip seperti Cow Pose) dan dorong dada ke depan dan ke atas.
  4. Saat menghembuskan napas, turunkan dagu, condongkan tubuh ke belakang, dan bulatkan punggung (mirip seperti Cat Pose).
  5. Ulangi gerakan ini lima hingga sepuluh kali, atau selama terasa nyaman.

Pose ini membantu Bunda merasakan kurva alami punggung bawah dan mengakses kekuatan lebih saat mendorong, yang dapat meningkatkan efisiensi selama proses persalinan. Gerakan senam hamil ini juga dipercaya mengurangi risiko bengkak pada kaki selama masa kehamilan

Child’s Pose

Child’s pose adalah salah satu gerakan senam yoga yang sangat bermanfaat selama kehamilan untuk membantu meredakan ketegangan di area panggul dan mempersiapkan tubuh untuk persalinan. Selain itu, pose ini juga ideal untuk beristirahat di antara kontraksi menjelang persalinan, sehingga dapat membantu Bunda menghemat energi dan tetap rileks.

Cara melakukan child’s pose dengan bantuan bantal:

  1. Letakkan bantal atau tumpukan bantal di depan Bunda di atas matras.
  2. Berlututlah dengan jari-jari kaki saling menyentuh, dan pisahkan lutut sedikit lebih lebar dari matras.
  3. Secara perlahan, turunkan tubuh ke arah depan, dengan dada dan kepala disangga oleh bantal, sehingga perut Bunda memiliki ruang yang cukup.
  4. Rilekskan lengan di kedua sisi bantal.
  5. Tarik napas dalam 6-8 siklus pernapasan, lalu dorong tubuh perlahan kembali ke posisi duduk.

Memanfaatkan bantal untuk menopang tubuh membuat gerakan ini lebih nyaman dan aman. child’s pose membantu Bunda menjaga ketenangan dan fleksibilitas, serta memberikan dukungan selama kehamilan dan menunggu waktu persalinan.

Itulah beberapa gerakan senam ibu hamil untuk memperlancar persalinan dan juga berkontribusi pada kesehatan umum selama kehamilan, seperti menjaga kelenturan tubuh, memperkuat otot-otot inti, meningkatkan postur tubuh, serta membuat Bunda merasa lebih nyaman dan bugar sepanjang kehamilan dan lebih siap secara fisik untuk menghadapi persalinan.


WhatsApp-Image-2025-02-05-at-10.21.51.jpeg
05/Feb/2025

Ketahui cara menjaga kesehatan mental ibu setelah melahirkan agar mereka tidak mengalami depresi setelah melahirkan. Mulai dari menjaga pola tidur yang sehat hingga mendapatkan bantuan profesional. Setelah melahirkan, seorang ibu pasti bahagia dengan kehadiran buah hatinya. Sebaliknya, setelah melahirkan, banyak ibu mengalami perubahan fisik dan mental yang signifikan. Karena itu, menjaga kesehatan fisik dan mental ibu setelah melahirkan sangat penting untuk memaksimalkan peran barunya. Selain itu, seorang ibu lebih cenderung mengalami masalah kesehatan mental setelah melahirkan, seperti baby blues atau depresi pascapersalinan.

Perbedaan Baby Blues dan Depresi Pascapersalinan

Pada dasarnya, baby blues dan depresi pascapersalinan memiliki ciri-ciri yang mirip, seperti muncul perasaan sedih sepanjang hari, khawatir, mudah emosi, tidak berenergi, sulit tidur, dan sulit berkonsentrasi. Namun, baby blues dan depresi pascapersalinan berbeda. Ini disebabkan oleh waktu dan intensitas gejala yang dialami pasien. Baby blues biasanya memiliki gejala yang mereda dan hilang dalam waktu dua minggu setelah persalinan. Namun, pada depresi pascapersalinan, gejala cenderung bertahan lebih dari dua minggu. Pasca persalinan juga dapat menyebabkan depresi yang lebih parah, seperti muncul pikiran untuk bunuh diri, merasa diri tidak berharga, kehilangan nafsu makan atau menjadi berlebihan, dan gerakan yang lebih lambat. Oleh karena itu, ibu yang mengalami depresi pascapersalinan tidak dapat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan cara yang normal dan membutuhkan bantuan medis.

Cara Menjaga Kesehatan Mental Ibu Setelah Melahirkan

Menurut informasi dari situs WHO, sekitar 13% ibu yang baru saja melahirkan mengalami masalah kesehatan mental, khususnya depresi. Di negara-negara berkembang, angka ini bahkan mencapai 19,8%. Untuk menjaga mental ibu setelah melahirkan dan mencegah depresi pascapersalinan, ada beberapa hal yang bisa diterapkan ibu setelah melahirkan si Kecil. Ini dia cara menjaga kesehatan mental ibu setelah melahirkan:

  • Pastikan mendapatkan tidur yang cukup

Saat baru melahirkan, jadwal tidur mungkin menjadi sangat tidak teratur karena bayi sering terbangun di malam hari. Namun, penting untuk memahami bahwa kurang tidur bisa memengaruhi suasana hati, bahkan menyebabkan stres atau depresi. Tipsnya adalah dengan memanfaatkan waktu tidur bayi. Cobalah untuk tidur saat bayi juga sedang tertidur, meskipun hanya dalam waktu yang singkat. Selain itu, jangan ragu untuk meminta bantuan pasangan, keluarga, atau teman dekat untuk menjaga bayi selama beberapa saat agar ibu bisa mendapat tidur yang cukup.

  • Berbicara dengan orang yang dipercaya

Saat baru melahirkan, mungkin banyak keluh kesah yang dirasakan seorang ibu, mulai dari rasa sakit, lelah, atau perasaan cemas dengan kesehatan dan perkembangan bayi. Cobalah untuk berbicara tentang perasaan Anda secara terbuka dengan orang yang dipercaya, baik itu pasangan, keluarga, atau sahabat. Berbicara dengan seseorang yang dapat memahami dan mendukung Anda sangat penting untuk menjaga kesehatan mental ibu setelah melahirkan.

  • Percaya pada diri sendiri dalam merawat bayi

Saat baru melahirkan, mungkin akan ada banyak orang yang memberi saran mengenai bagaimana cara merawat bayi. Untuk menghindari stres, fokuslah pada apa yang dibutuhkan oleh Anda dan sang bayi, bukan pada apa yang dikatakan orang lain. Terlebih lagi jika terdapat pendapat negatif dari orang lain mengenai sang bayi, sebaiknya jangan terlalu terpengaruh oleh pendapat negatif, melainkan fokus pada kesehatan dan kebahagiaan Anda serta sang bayi

  • Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Sebagai seorang ibu yang baru melahirkan, Anda mungkin merasa terbebani ketika melihat ibu yang lainnya tampak begitu sempurna dalam menjalani peran mereka. Sebaiknya, hindarilah membandingkan diri Anda dengan orang lain, terutama dengan apa yang Anda lihat di media sosial. Perlu diingat bahwa setiap ibu dan bayi memiliki proses perjalanan yang berbeda. Apa yang berhasil untuk orang lain belum tentu akan sama hasilnya untuk Anda. Jadi, fokuslah pada proses Anda sendiri, karena hanya Anda yang tahu apa yang terbaik untuk Anda dan si Kecil.

  • Jaga pola makan dan rutin berolahraga

Menjaga pola makan tidak hanya penting untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan mental. Pastikan Anda mengonsumsi makanan yang seimbang, seperti buah, sayur, protein, dan karbohidrat. Selain itu, usahakan untuk berolahraga secara teratur, karena kegiatan ini dapat membantu meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Lakukan olahraga ringan yang disukai, seperti berjalan kaki, yoga, atau senam kegel. Selain berkontribusi pada kesehatan tubuh, aktivitas fisik juga dapat meningkatkan produksi hormon endorfin yang membantu menjaga kesehatan mental.

  • Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional

Cara menjaga mental ibu setelah melahirkan yang terakhir adalah dengan meminta bantuan tenaga profesional. Merasa emosional dan kelelahan setelah melahirkan adalah hal yang normal. Namun, berbeda halnya jika seorang ibu yang baru melahirkan mengalami depresi pascapersalinan. Jika Anda merasa cemas, stres, sedih yang berkepanjangan, tidak dapat berpikir jernih, atau merasa tidak menikmati momen bersama bayi, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

Itu dia berbagai infomasi mengenai tips cara menjaga mental ibu setelah melahirkan.


WhatsApp-Image-2025-02-05-at-10.03.09.jpeg
05/Feb/2025

Balita selalu menantang untuk diasuh. Meskipun mereka ingin mulai mandiri dan melakukan banyak hal, mereka tidak selalu bisa bergerak secepat yang mereka inginkan atau mengatakan apa yang mereka inginkan dengan jelas. Selain itu, balita cenderung mengalami kesulitan saat berurusan dengan batasan, kompromi, dan kekecewaan. Karena itu, tidak mengherankan jika emosi mereka kemudian bergejolak atau tantrum. Ya, terima kasih, sayangi, dan asuh mereka dengan baik. Pola pengasuhan yang tepat dapat membantu Si Kecil belajar berperilaku baik, mematuhi aturan, dan menjadi bahagia.

Metode Pengasuhan untuk Balita

Balita selalu menantang untuk diasuh. Meskipun mereka ingin mulai mandiri dan melakukan banyak hal, mereka tidak selalu bisa bergerak secepat yang mereka inginkan atau mengatakan apa yang mereka inginkan dengan jelas. Selain itu, balita cenderung mengalami kesulitan saat berurusan dengan batasan, kompromi, dan kekecewaan. Karena itu, tidak mengherankan jika emosi mereka kemudian bergejolak atau tantrum. Ya, terima kasih, sayangi, dan asuh mereka dengan baik. Pola pengasuhan yang tepat dapat membantu Si Kecil belajar berperilaku baik, mematuhi aturan, dan menjadi bahagia.

1. Tunjukkan Cinta

Pastikan kucuran kasih sayang untuk anak melebihi jumlah konsekuensi atau hukuman. Dengan menunjukkan cinta, seperti memeluk, mencium, memuji, dan memberi perhatian, anak akan paham bahwa orangtuanya mencintainya. Jadi, ketika ia harus dihukum akan sesuatu atau diminta mematuhi aturan, ia akan tahu bahwa itu adalah demi kebaikannya.

2. Prioritaskan Keselamatan

Alih-alih membebani anak dengan aturan sejak awal, yang mungkin hanya membuatnya frustasi, lebih prioritaskanlah untuk mengarahkan mereka pada keselamatan terlebih dahulu. Kemudian secara bertahap tambahkan aturan sedikit demi sedikit.

3. Cegah Amarah yang Meledak-ledak

Normal bagi seorang balita untuk memiliki amarah yang meledak-ledak. Terlebih jika ia belum pandai berbicara untuk mengutarakan maksudnya. Namun, ajarilah ia untuk mengatur emosinya. Kurangi frekuensi, durasi, atau intensitas kemarahan anak dengan cara berikut:

  • Ketahui batasan anak. Ia mungkin berperilaku salah karena dia tidak mengerti atau tidak dapat melakukan apa yang kamu minta. Jangan paksakan jika hal ini terjadi
  • Jelaskan cara mengikuti aturan. Daripada selalu berkata “Jangan!”, ajarkan dengan kalimat yang bernada positif. Misalnya, ketika anak bertengkar karena berebut mainan, katakan padanya “Mengapa kalian tidak bergantian?”
  • Terima jawaban ‘tidak’ dengan tenang. Jangan bereaksi berlebihan saat anak mengatakan tidak pada apa yang kamu katakan. Ulangi permintaan dengan tenang dan sabar, tanpa membentak. Coba juga untuk mengalihkan perhatian anak atau membuat permainan dari perilaku yang baik. Anak akan lebih cenderung melakukan apa yang kamu katakan jika kamu membuat suatu kegiatan menyenangkan.
  • Tawarkan pilihan, bila memungkinkan. Dorong kemandirian anak dengan membiarkannya memilih piyama atau cerita pengantar tidur.
  • Hindari situasi yang dapat memicu atau kemarahan. Misalnya, hindari jalan-jalan panjang di mana anak harus duduk diam atau tidak bisa bermain, atau membawa aktivitas.
  • Tetap pada jadwal. Pertahankan rutinitas harian agar anak tahu apa yang diharapkan.
  • Dorong komunikasi. Ingatkan anak untuk menggunakan kata-kata dalam mengungkapkan perasaannya.

4. Terapkan Konsekuensi

Terlepas dari upaya terbaik yang bisa kamu lakukan, anak biasanya akan tetap melanggar aturan. Untuk mendorong anak bekerja sama, pertimbangkan untuk menggunakan metode ini:

  • Konsekuensi alami. Biarkan anak melihat konsekuensi dari tindakannya, selama itu tidak berbahaya. Misalnya, jika anak melempar dan memecahkan mainan, jangan langsung memberinya mainan baru. Biarkan ia menyadari bahwa ia tidak akan memiliki mainan untuk dimainkan.
  • Konsekuensi logis. Buat konsekuensi untuk tindakan anak, dengan memberitahunya jika dia tidak mengambil mainannya, kamu akan mengambil mainan itu selama sehari. Bantu anak dengan tugas itu, jika perlu. Jika anak tidak mau bekerja sama, ikuti konsekuensinya.
  • Hak istimewa yang ditahan. Jika anak tidak berperilaku baik, balas dengan mengambil sesuatu yang disukai anak, seperti mainan favorit atau sesuatu yang terkait dengan kelakuan buruknya. Jangan mengambil sesuatu yang dibutuhkan anak, seperti makanan.
  • Batas waktu. Ketika anak bertindak buruk, turun ke levelnya dan dengan tenang menjelaskan mengapa perilaku itu tidak dapat diterima. Ajak ia melakukan kegiatan yang lebih tepat. Jika perilaku buruk berlanjut, terapkan batas waktu sampai anak tenang dan dapat mendengarkan kamu. Setelah itu, yakinkan kembali anak tentang cintamu padanya dan bimbinglah dia ke aktivitas positif.

5. Beri Contoh yang Baik

FAnak-anak belajar bagaimana bertindak dengan memperhatikan orangtuanya. Jadi, salah satu cara terbaik untuk menunjukkan pada anak bagaimana berperilaku adalah dengan memberikan contoh positif baginya untuk diikuti.

 


WhatsApp-Image-2025-02-05-at-09.44.46.jpeg
05/Feb/2025

Meningkatkan kekebalan tubuh seseorang, baik orang dewasa maupun anak balita, seringkali dapat dicapai dengan mengonsumsi vitamin. Vitamin dapat ditemukan dalam makanan dan minuman sehat, bukan hanya dalam bentuk suplemen. Seberapa banyak vitamin yang diperlukan untuk balita, dan apa saja jenisnya? Ini adalah informasinya.

Seberapa penting vitamin untuk balita?

Tubuh manusia adalah mesin kuat yang dapat melakukan segalanya sendiri. Namun, vitamin diperlukan untuk membantu tubuh mempertahankan nutrisi tertentu untuk melawan bakteri dan penyakit. Menurut laman Kids Health, balita dapat mendapatkan jumlah vitamin yang mereka butuhkan melalui makanan. Semakin banyak variasi makanan yang dikonsumsi, semakin bervariasi pula jumlah vitamin yang diterima. Sebenarnya, si Kecil tidak perlu suplemen vitamin jika dia mendapatkan cukup vitamin dari makanannya sehari-hari. Namun, balita harus mengonsumsi suplemen dalam beberapa situasi, seperti yang berikut ini.

  • Balita tidak mendapatkan gizi seimbang dari makanan yang dikonsumsi.
  • Si Kecil cenderung susah makan.
  • Anak-anak dengan kondisi kronis tertentu, seperti asma dan masalah pencernaan
  • Balita yang terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji dan olahan.
  • Anak-anak vegetarian yang memerlukan suplemen zat besi.
  • Balita terlalu banyak minum soda yang membuat tubuh melepaskan vitamin dan mineral dari tubuh.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum Anda memberikan suplemen vitamin kepada balita Anda.Hal ini penting untuk menjaga kondisi kesehatan anak tetap baik.

Seberapa banyak vitamin yang diperlukan untuk balita?

Ada banyak jenis vitamin yang dibutuhkan tubuh. Meski manfaatnya sangat banyak, bukan berarti harus mengonsumsi dalam jumlah banyak. Ada takaran saji vitamin untuk balita agar kesehatan tubuhnya tidak terganggu. Berikut anjuran takaran vitamin berdasarkan angka kecukupan gizi 2019.

Balita usia 1—3 tahun

  • Vitamin A: 400 mcg
  • Vitamin B1: 0,5 mg
  • Vitamin B2: 0,5 mg
  • Vitamin B3: 6 mg
  • Vitamin B4 (kolin): 200 mg
  • Vitamin B5: 2 mg
  • Vitamin B6: 0,5 mg
  • Vitamin B7 (biotin): 8 mcg
  • Vitamin B9: 160 mcg
  • Vitamin B12: 1,5 mcg
  • Vitamin C: 40 mg
  • Vitamin D: 15 mcg
  • Vitamin E: 6 mg
  • Vitamin K: 15 mcg

Balita usia 4—6 tahun

  • Vitamin A: 450 mcg
  • Vitamin B1: 0,6 mg
  • Vitamin B2: 0,6 mg
  • Vitamin B3: 8 mg
  • Vitamin B4 (kolin): 250 mg
  • Vitamin B5: 3 mg
  • Vitamin B6: 0,6 mg
  • Vitamin B7 (biotin): 12 mcg
  • Vitamin B9: 200 mcg
  • Vitamin B12: 1,5 mcg
  • Vitamin C: 45 mg
  • Vitamin D: 15 mcg
  • Vitamin E: 7 mg
  • Vitamin K: 20 mcg

Ketika Anda dianjurkan oleh dokter untuk memberikan vitamin pada balita, pastikan melihat angka kecukupan gizi pada label di produk suplemennya. Kemudian cocokkan dengan daftar di atas agar asupan vitamin untuk si Kecil tepat sesuai dengan usianya.

Jenis vitamin yang diperlukan untuk balita usia 2—5 tahun

Vitamin larut air dan vitamin larut lemak adalah dua kelompok yang berbeda dari vitamin yang sudah dijelaskan sebelumnya. Ada apa? Berikut ini adalah penjelasan dan pilihan makanan yang dapat Anda berikan kepada si Kecil.

1. Vitamin larut air

Vitamin yang termasuk ke dalam kelompok ini yaitu vitamin B dan vitamin C. Kelompok vitamin larut air merupakan jenis vitamin yang lebih mudah diproses di dalam tubuh. Ini karena tubuh menyerap vitamin B dan C langsung ke dalam peredaran darah, dan kemudian vitamin ini akan beredar bebas dalam darah. Tubuh lebih mudah mengeluarkan kelompok vitamin larut air melalui penyaringan di ginjal. Selanjutnya, ginjal akan mengeluarkan vitamin yang berlebihan ke dalam urine. Menurut Kids Health, vitamin B sangat penting untuk metabolisme anak balita dan memberikan energi yang mereka butuhkan. Salah satu tugas penting vitamin B adalah untuk meningkatkan sel darah merah yang membawa oksigen dalam darah. Untuk menjaga kesehatan balita Anda, Anda harus mengonsumsi makanan berikut yang mengandung banyak vitamin B.

  • Ikan dan makanan laut.
  • Daging.
  • Telur.
  • Susu dan produk olahannya.
  • Sayur berdaun hijau.
  • Kacang-kacangan.

Selain itu, vitamin C membantu tubuh menghindari infeksi dan menjaga jaringan tubuh seperti gusi, tulang, dan pembuluh darah tetap sehat. Vitamin C bahkan membantu penyembuhan luka pada balita. Berikut adalah beberapa makanan yang mengandung vitamin C.

  • Kelompok buah sitrus seperti jeruk dan lemon.
  • Stroberi.
  • Tomat.
  • Brokoli.
  • Kiwi.
  • Sawi.

2. Vitamin larut lemak

Ini adalah kelompok vitamin A, D, E, dan K. Setelah masuk ke dalam usus, mereka akan masuk ke sistem limfatik dan kemudian masuk ke dalam darah. Untuk alasan apa disebut vitamin larut lemak? Ini karena tubuh balita kekurangan lemak, yang mengurangi penyerapan vitamin. Setelah vitamin diserap oleh tubuh, mereka disimpan di sel lemak dan hati. Karena berfungsi sebagai stok untuk digunakan tubuh ketika membutuhkannya, vitamin A, D, E, dan K tahan lama. Namun, banyaknya vitamin larut lemak yang dikonsumsi balita dapat membahayakan tubuh karena dapat tersimpan lama di dalam tubuh. Misalnya, kelebihan vitamin A dapat menyebabkan sakit kepala, mual, sakit perut, hingga gangguan penglihatan. Berikut adalah beberapa jenis vitamin larut lemak dan sumber makanannya yang dapat Anda berikan kepada balita Anda. Karena berfungsi sebagai stok untuk digunakan tubuh ketika membutuhkannya, vitamin A, D, E, dan K tahan lama. Namun, banyaknya vitamin larut lemak yang dikonsumsi balita dapat membahayakan tubuh karena dapat tersimpan lama di dalam tubuh. Misalnya, kelebihan vitamin A dapat menyebabkan sakit kepala, mual, sakit perut, hingga gangguan penglihatan..


WhatsApp-Image-2025-02-05-at-09.20.46.jpeg
05/Feb/2025

Memenuhi kebutuhan gizi anak tidak hanya saat dia mulai MPASI tetapi juga saat dia sudah masuk usia balita. Balita mulai memahami apa yang ia sukai dan tidak sukai saat mereka tumbuh lebih besar. Saat ini, ibu harus mencari cara agar anak mereka tetap mau makan, tetapi dengan nutrisi yang baik untuk balita. Untuk memastikan bahwa perkembangan balita berjalan dengan baik, berikut panduan tentang kebutuhan gizi seimbang.

Kebutuhan gizi balita usia 1-3 tahun

Sebagai acuan, menurut angka kecukupan gizi tahun 2013, status kebutuhan gizi makro harian balita usia satu sampai tiga tahun meliputi:

  • Energi: 1125 kilo kalori (kkal)
  • Protein: 26 gram
  • Karbohidrat: 155 gram
  • Lemak: 44 gram
  • Air: 1200 milimeter (ml)
  • Serat: 16 gram

Sementara kebutuhan zat gizi mikro harian anak, meliputi:

Vitamin

Jenis vitamin yang perlu didapatkan oleh anak usia 1-3 tahun yaitu:

  • Vitamin A: 400 mikrogram (mcg)
  • Vitamin D: 15 mcg
  • Vitamin E: 6 miligram (mg)
  • Vitamin K: 15 mcg

Sementara takaran dan jenis mineral yang beri diperoleh si kecil usia 1-3 tahun, seperti:

Mineral

  • Kalsium: 650 gram
  • Fosfor: 500 gram
  • Magnesium: 60 mg
  • Natrium: 1000 mg
  • Besi: 8 mg

Kebutuhan gizi makro dan mikro balita dari satu tahun hingga tiga tahun harus dipenuhi dengan berbagai mineral di atas untuk menjaga kesehatan mereka.

Panduan untuk menu dan pola makan yang sehat untuk balita 1 – 3 Tahun

Menurut Healthy Children, anak-anak berusia antara satu dan tiga tahun harus mengonsumsi makanan sehat tiga kali sehari dan dua kali sehari. Namun, anak-anak harus tetap makan makanan yang sehat. Menu makanannya dapat disesuaikan dengan anggota keluarga lainnya. Di usia dua tahun, balita mulai berbicara lebih banyak dan membutuhkan nutrisi yang seimbang.

Karbohidrat

Makanan mengandung karbohidrat kompleks dan sederhana. Menurut Kids Health, karbohidrat sederhana adalah nama lain untuk gula yang ada di gula putih, buah, susu, madu, permen, dan sebagainya. Karbohidrat kompleks, di sisi lain, adalah jenis karbohidrat yang lebih sulit dicerna dan menyebabkan anak kenyang lebih cepat. Beberapa makanan yang mengandung karbohidrat kompleks adalah umbi-umbian (kentang dan ubi), roti, pasta, jagung, gandum, dan singkong. Makanan-makanan di atas tidak hanya mengandung karbohidrat yang membantu balita makan, tetapi juga mengandung vitamin, mineral, dan serat yang membantu pencernaan.

Protein

Dalam kadar yang berbeda, berbagai jenis makanan, yaitu produk hewani dan nabati, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein balita.Produk hewani memiliki tingkat protein yang lebih tinggi; beberapa jenisnya termasuk susu, telur, daging, ayam, dan makanan laut. Di sisi lain, produk nabati, seperti biji-bijian, kacang-kacangan, dan sayuran, memiliki jumlah protein yang lebih rendah. Berikut adalah penjelasan tentang jenis protein mana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.

Lemak

Untuk meningkatkan asupan lemak balita, pastikan untuk meningkatkan kualitas lemak dan menyesuaikannya dengan kebutuhan kalori mereka. Selain itu, pastikan sumber lemaknya sehat. American Heart Association menyarankan anak usia dua hingga tiga tahun mengonsumsi sekitar tiga puluh hingga tiga puluh lima persen dari kalorinya berupa lemak. Anak-anak berusia 4-18 tahun mengonsumsi 25-35 persen kalori setiap hari. Minyak sayur, ikan, dan kacang-kacangan adalah beberapa sumber lemak tak jenuh.

Serat

Beberapa jenis makanan mengandung serat, tetapi survei yang diterbitkan dalam Journal of Human Nutrition and Dietetics menemukan bahwa 95% orang dewasa dan balita tidak mengonsumsi cukup serat. Bahkan anak-anak dan balita seringkali tidak memenuhi kebutuhan serat harian mereka. Meskipun demikian, pilihan makanan yang kaya serat dapat membantu mengontrol rasa lapar, menjaga kadar gula darah tetap stabil, dan menjaga berat badan balita pada tingkat yang ideal. Sesuaikan menu Anda dengan porsi makan si kecil, seperti pisang, apel, wortel, oatmeal, atau roti gandum, yang mengandung banyak serat. Untuk meningkatkan nafsu makan balita Anda, tambahkan jenis makanan yang mengandung berbagai nutrisi lainnya.

Cairan

Usia, ukuran tubuh anak, kesehatan, tingkat aktivitas, dan kondisi cuaca memengaruhi jumlah cairan yang diperlukan balita, menurut laman kesehatan anak. Ketika anak balita bergerak aktif, seperti bermain permainan atau berolahraga, mereka biasanya minum lebih banyak. Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2013, anak-anak berusia 2-5 tahun membutuhkan jumlah cairan berikut:

  • Balita usia 1-3 tahun: 1200 ml
  • Balita usia 4-6 tahun: 1500 ml

Jumlah cairan yang diperlukan anak balita di atas tidak harus berasal dari air putih atau air mineral; mereka dapat menggunakan susu UHT atau formula yang mereka konsumsi setiap hari. Anda dapat memberi mereka air putih setelah makan, saat bangun pagi, atau setelah berolahraga. Anak memerlukan cairan untuk mengisi kembali keringatnya yang hilang saat beraktivitas atau berolahraga. Ketika si kecil ingin tidur atau sebagai selingan, susu bisa diberikan. Anak balita berusia 1-5 tahun sangat aktif dan membutuhkan banyak air untuk memenuhi kebutuhan cairan mereka. Karena balita sering mengabaikan rasa haus saat bermain, mereka lebih cenderung mengalami dehidrasi.

Zat besi

Menurut Angka Kecukupan Gizi yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan, kebutuhan zat besi harus dipenuhi anak usia 1-5 tahun:

  • 1 – 3 tahun sebesar 7 mg/hari
  • 4– 6 tahun 10 mg/hari

Tanpa zat besi, tubuh tidak mampu membuat hemoglobin dan tidak bisa memproduksi sel darah merah yang cukup. Ini berarti sel-sel di dalam tubuh tidak akan mendapatkan cukup oksigen. Kalau sudah begini, anak bisa mengalami anemia atau kurang darah.Gizi penting yang mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah anemia adalah zat besi. Menurut ICHWB 2023, anak yang memenuhi kebutuhan zat besi setiap harinya mengalami peningkatan tinggi 0,5 cm. Ini dapat dicapai melalui asupan gizi yang seimbang, terutama protein hewani yang tinggi zat besi. Salah satu pilihan makanan tambahan untuk memenuhi kebutuhan zat besi Anak adalah susu. Untuk memenuhi kebutuhan zat besi harian si Kecil, berikan susu pertumbuhan yang difortifikasi dengan zat besi dan vitamin C. Untuk mencegah anemia defisiensi besi, kombinasi zat besi dan vitamin C dapat membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih baik.

Kebutuhan gizi balita usia 4-5 tahun

Berdasarkan tabel Angka Kecukupan Gizi 2013 status kebutuhan gizi makro harian balita usia pra sekolah (4-5 tahun) meliputi:

  • Energi: 1600 kilo kalori (kkal)
  • Protein: 35 gram
  • Karbohidrat: 220 gram
  • Lemak: 62 gram
  • Air: 1500 milimeter (ml)
  • Serat: 22 gram

Sementara kebutuhan zat gizi mikro harian anak, meliputi:

Vitamin

Jenis vitamin yang perlu didapatkan oleh anak prasekolah usia 4-5 tahun yaitu:

  • Vitamin A: 450 mikrogram (mcg)
  • Vitamin D: 15 mcg
  • Vitamin E: 7 miligram (mg)
  • Vitamin K: 20 mcg

Sementara takaran dan jenis mineral yang beri diperoleh anak prasekolah usia 4-5 tahun, seperti:

Mineral

  • Kalsium: 1000 gram
  • Fosfor: 500 gram
  • Magnesium: 95 mg
  • Natrium: 1200 mg
  • Besi: 9 mg

Kebutuhan gizi makro dan mikro balita harus dipenuhi jika mereka ingin tetap sehat. Untuk informasi lebih lanjut, konsultasikan dengan dokter anak Anda.


3DPotret 2025. All rights reserved.

WeCreativez WhatsApp Support
Tanya saja kak