Cara Mengendalikan Emosi Saat Mendisiplinkan Anak

Kenapa orangtua banyak yang tidak bisa menahan emosi pada anak?
Ada beberapa alasan mengapa orang tua tidak bisa menahan emosi pada anaknya yaitu sebagai berikut.
- Rasa takut
Orang tua biasanya marah karena takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada anaknya. Mereka bisa berteriak atau bahkan memukul anak karena ketakutan.
Sebagai contoh, ketika anak-anak bermain di tempat yang berbahaya, seperti di kolam yang dalam, dekat peralatan listrik, dan sebagainya.
Jika anak tidak mengindahkan teguran dan peringatan Anda,marah biasanya refleks.
Meskipun tujuannya bagus, jangan membuat situasi menjadi lebih buruk. Cobalah untuk mengendalikan emosi anak sebisa mungkin.
- Pengaruh stress
Orang tua juga dapat melampiaskan kekesalan kepada anak mereka karena ketakutan atau situasi pikiran atau stres yang berat. Hal ini terutama berlaku jika anak melakukan kesalahan atau ulah. Ibu malah memarahi anak meskipun kesalahannya kecil.
Jika hal ini dibiarkan terus terjadi, anak-anak akan bingung tentang apa yang diizinkan orangtua mereka lakukan dan apa yang dilarang.
Lalu, bagaimana cara mengendalikan emosi pada anak?
- Tentukan situasi saat Anda harus marah
Saat Anda marah kepada anak, masalahnya seringkali sederhana. Pertama, tetapkan batas-batas perilaku mana yang harus ditangani secara tegas dan mana yang masih dapat dibicarakan dengan baik.
Ingatlah bahwa memarahi atau menghukum anak tidak harus digunakan sebagai tanggapan atas semua kenakalan anak. Dengan demikian, Anda akan merasa lebih tenang ketika menghadapi ulah si Kecil.
Cara pertama untuk mengendalikan emosi anak adalah dengan memilih kesalahan yang paling signifikan, seperti bersikap buruk dengan orang lain.
Meskipun kesalahan kecil seperti meninggalkan jaket di lantai tidak perlu dimarahi.
- Jika ingin marah, segera tenangkan diri
Anda mungkin menjadi marah dan akhirnya berteriak atau membentak saat mendapati ulah si Kecil yang menjengkelkan. Hindari emosi yang tidak terkendali dengan menenangkan diri dan membuat perasaan setenang mungkin.
Salah satu cara terbaik untuk mengontrol emosi anak adalah dengan menarik napas sedalam mungkin. Kemudian embuskan beberapa kali sampai Anda merasa nyaman.
Kedua, Anda dapat pergi jauh dari si kecil, seperti ke kamar. Setelah anak merasa lebih tenang, mulailah berbicara dengannya dan memberi tahu dia untuk tidak melakukan hal yang sama lagi.
- Cobalah menghitung
Selain memberikan penegasan pada anak, menghitung satu sampai sekian juga dapat membantu anak mengontrol emosinya.
Sebagai ilustrasi, katakan, “Rapikan mainanmu sekarang.” Ibu menghitung sepuluh. Jangan pakai mainan ini lagi sampai sepuluh. Satu… dua…
Jika anak masih tidak mengikuti perintah Anda, coba memberinya peringatan lagi dengan cara yang tegas, tetapi jangan marah atau membentak dia.
- Hindari memukul
Untuk mengendalikan emosi anak selanjutnya, hindari memukul atau hukuman fisik lainnya.
Memukul akan mengajarkan anak-anak bahwa menyakiti orang lain adalah hal yang wajar. Ini dapat membuat mereka percaya bahwa kekerasan adalah cara untuk memecahkan masalah.
Selain itu, Anda tidak akan merasa lebih baik jika Anda memukul anak Anda. Anda tidak akan merasa lega; sebaliknya, Anda akan dihantui rasa bersalah dan emosi negatif lainnya.
- Coba kendalikan cara bicara
Anda dapat lebih mudah menenangkan dan menahan emosi Anda jika Anda berbicara dengan tenang, tetapi makian atau bentakan akan meningkatkan kemarahan Anda. Oleh karena itu, cara yang efektif untuk mengendalikan emosi anak adalah dengan mengontrol cara Anda berbicara.
Semakin sering Anda melakukan latihan, Anda dapat membuat anak mengerti bahwa perilakunya tidak benar.
- Hindari berkata kasar
Menurut Stanford Children Health, tindakan kasar terhadap anak juga merupakan jenis penganiayaan anak. Bahkan, ternyata hal itu dapat membekas dalam ingatan anak untuk waktu yang lama.
Oleh karena itu, memilih kata-kata yang baik adalah cara untuk mengajarkan anak Anda untuk mengendalikan emosinya saat mereka marah.
Perkataan kasar hanya akan menyakiti hati dan trauma anak, tetapi perkataan yang baik dapat membuatnya sadar akan kesalahannya.
- Hindari mengancam dengan hal yang mustahil
Anda mungkin memberikan ancaman yang tidak mungkin ketika Anda terbawa emosi, seperti, “Mama akan potong tanganmu kalau kamu pecahkan gelas lagi!” Padahal Anda tidak mungkin memotong tangan anak sendiri, bukan?
Anak-anak mungkin kehilangan kepercayaan mereka pada ancaman yang tidak dapat dicapai ini. Untuk menghindari efek jera, ia bahkan akan menganggap kemarahan Anda tidak signifikan.
Selain itu, hindari ancaman kekerasan. Ini secara tidak langsung memengaruhi anak. Jangan sampai dia berpikir bahwa, ketika dia marah, memotong tangan orang lain adalah sesuatu yang masuk akal.
- Tundalah berbuat sesuatu saat sedang marah
Saat Anda marah, pikirkan apa yang membuat Anda marah. Anda harus bertindak sampai kemarahan mereda.
Jika marah tetap ada dalam diri Anda, itu tidak akan berdampak apa-apa. Ini hanya akan terjadi jika Anda bertindak.
Kebanyakan kali, orang menyesali perbuatannya karena terbawa emosi hingga kekerasan pada anak.
Kesimpulan
Orang tua sering kesulitan menahan emosi saat mendisiplinkan anak karena takut dan stres. Untuk mengatasi hal ini, penting bagi orang tua untuk menghindari hukuman fisik atau ancaman yang tidak masuk akal, dan memilih situasi yang benar-benar memerlukan teguran. Mengendalikan emosi dan mendisiplinkan anak dengan cara yang lebih baik dan positif dapat dicapai dengan berbicara dengan tenang, menghitung sebagai peringatan, dan menghindari tindakan impulsif atau kata-kata kasar saat marah. Orang tua dapat membantu anak mereka belajar mengendalikan perilaku mereka dengan cara ini tanpa menghasilkan trauma atau efek negatif jangka panjang.

