Stunting Masih Jadi Masalah Kesehatan Serius, Ini Dampak Jangka Pendek dan Panjangnya

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan parameter antropometri dari World Health Organization (WHO), stunting didefinisikan sebagai kondisi ketika tinggi badan anak berdasarkan usia (TB/U) berada di bawah minus dua standar deviasi (di bawah -2 SD).
Kondisi ini mencerminkan gangguan pertumbuhan kronis akibat kurangnya asupan gizi yang terjadi dalam jangka panjang, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan—mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Menurut Indeks Perkembangan Anak Usia Dini (Early Childhood Development Index/ECDI), stunting parah terjadi saat skor Z dari TB/U anak berada di bawah -3 SD. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak dan kecerdasan anak.
Dampak Jangka Pendek dan Panjang Stunting
Secara jangka pendek, stunting bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak, penurunan kecerdasan, masalah metabolisme, serta keterlambatan pertumbuhan fisik. Tak hanya itu, anak yang mengalami stunting juga cenderung memiliki kebutuhan biaya kesehatan yang lebih tinggi akibat meningkatnya risiko penyakit.
Dampak jangka panjangnya bahkan lebih kompleks. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami penurunan kemampuan kognitif, daya tahan tubuh yang rendah, hingga rentan terserang penyakit degeneratif seperti diabetes, obesitas, jantung, stroke, bahkan disabilitas di usia dewasa.
Fakta Global dan Nasional
Menurut laporan WHO, sekitar 155 juta anak di dunia mengalami stunting. Prevalensinya lebih tinggi di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah (32 persen) dibandingkan negara berpenghasilan menengah ke atas (6,9 persen) atau tinggi (2,5 persen).
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting tercatat sebesar 30,8 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang (3,8 persen), gizi kurus (10,2 persen), atau gizi gemuk (8 persen). Namun, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka stunting berhasil ditekan menjadi 24,4 persen.
Dampak terhadap Masa Depan Anak
Studi menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada masa awal kehidupan akan berdampak jangka panjang dan bersifat irreversible atau tidak dapat diubah. Salah satunya adalah gangguan perkembangan kognitif yang dapat memengaruhi kemampuan belajar, produktivitas, dan kualitas hidup anak saat dewasa.
Selain itu, anak stunting juga lebih berisiko mengalami keterlambatan perkembangan kemampuan motorik, gangguan bicara dan bahasa, serta penurunan kualitas intelektual.
“Stunting berkaitan erat dengan kemampuan kognitif yang rendah, dan ini bisa berdampak pada produktivitas serta daya saing generasi masa depan,” ujar peneliti kesehatan masyarakat, mengutip hasil kajian beberapa studi sebelumnya.
Perlu Upaya Serius dan Terpadu
Stunting bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga dapat menjadi indikator tantangan masa depan bangsa. Dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi, pendidikan, sosial, dan bahkan politik.
Sayangnya, sebagian besar penelitian selama ini masih fokus pada aspek pertumbuhan dan perkembangan anak secara terpisah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan ilmiah yang lebih menyeluruh, seperti melalui metode Systematic Literature Review, untuk melihat hubungan langsung antara stunting dan tumbuh kembang anak secara komprehensif.
Penanganan Stunting, Bukan Sekadar Pemenuhan Gizi
Upaya pencegahan stunting tidak hanya terbatas pada pemberian makanan bergizi, tetapi juga mencakup edukasi gizi, peningkatan sanitasi lingkungan, layanan kesehatan ibu dan anak, serta penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Penanganan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin, pemenuhan gizi seimbang, dan konsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia. Ibu hamil juga perlu mendapatkan edukasi kesehatan, menghindari stres serta paparan zat berbahaya, dan memperoleh dukungan psikologis serta sosial dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Deteksi dini risiko kehamilan dan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga medis profesional menjadi langkah penting untuk mencegah bayi lahir stunting. Dengan kolaborasi lintas sektor dan meningkatnya kesadaran masyarakat, Indonesia diharapkan dapat menurunkan angka stunting secara signifikan serta melahirkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan kompetitif di masa depan.
Referensi:
- Kemenkes RI. (2021). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
- Rao, N. et al. (2020). The Lancet Global Health: Nutrition Interventions and Child Development.
- Probosiwi, R. (2017). Stunting dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Anak. Jurnal Gizi dan Kesehatan
- Cegah Stunting (2021), Mengenal Studi Status Gizi Indonesia 2021

