Pentingnya Ajarkan Pngelolaan Sampah sedini Mungkin

Saat ini pencemaran sampah plastik di laut kian hari semakin memprihatinkan. Beberapa penelitian menyebutkan, jika produksi sampah plastik tidak bisa ditekan, diperkirakan tahun 2050 sampah plastik di laut akan lebih banyak daripada ikan.
Untuk itu, saat ini sangat penting mengenalkan pengelolaan sampah kepada anak sejak dini. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh pengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Cahaya Insani Jakarta, Evi Sulfiana. Ia mengungkapkan, bahwa pembelajaran tentang sampah, pengelolaan dan ancaman bahaya sampah telah diajarkan kepada anak didiknya.
Oleh karena itu, sejak usia dini, anak-anak harus mulai diajarkan, dibiasakan serta diberi contoh untuk membuang sampah pada tempatnya. Lebih bagus, kata dia, jika anak mulai diajarkan untuk memilah sampah.
emang tidak mudah mengajarkan anak untuk membuang sampah dan memilahnya. Namun secara garis besar, kata dia, anak-anak sudah diberi pemahaman ke mana dia harus membuang sampah kertas, plastik atau sisa makanannya.
Ajak anak mengenal benda sekitar
Usia 1-3 tahun kerap dianggap sebagai golden age atau usia emas. Usia ini bisa jadi momen orang tua untuk mengenalkan benda-benda sekitar sekaligus memberikan stimulasi demi tumbuh kembangnya.
Berikan petunjuk verbal maupun visual
Saat masuk usia TK, anak mulai memiliki inisiatif. Berkaitan dengan sampah, anak ingin buang sampah sendiri. Namun orang tua perlu memberikan bimbingan dengan menyediakan tempat sampah berbeda menurut jenis dan mengolah sampah menjadi benda baru. Anda pun bisa membantu anak dengan memberikan petunjuk verbal maupun visual.
Apresiasi
Saat anak mulai praktik dan bisa melakukan secara berulang misal 2-3 kali benar memasukkan sampah sesuai jenis, berikan apresiasi. Reti mengingatkan apresiasi harus spesifik seperti, ‘Wah hebat ya sudah betul masukan sampahnya!’, ‘Terima kasih ya sudah buang sampah kertas ke tempatnya’.
Diskusi
Anak yang sudah beranjak SD, paparan nilai tak hanya hadir dari orang tua tetapi juga teman sebaya, tontonan juga lingkungan.
Orang tua tetap bisa menanamkan nilai positif lewat sarana diskusi. Anak diajak diskusi mengenai pemilahan sampah, membuat kompos, juga aktivitas-aktivitas sederhana demi kelestarian lingkungan hidup.
Ajarkan konsekuensi, bukan hukuman
Biasanya orang tua mengajarkanreward and punishment atau hadiah dan hukuman. Akan tetapi Reti berpendapat sebaiknya anak juga diberitahu konsekuensi, bukan serta merta menghukum akibat melakukan kesalahan. Konsekuensi yang perlu diajarkan meliputi konsekuensi logis dan natural.
Orang tua harus kompak
Perlu kekompakan orang tua jika ingin anak bisa mengelola sampah. Orang tua yang tidak kompak akan menimbulkan kebingungan pada anak. Sebagai contoh, ibu benar-benar membuang sampah pada wadah sesuai jenisnya. Namun ayah membuang sampah asal saja.
Manfaat pengolahan sampah dengan baik dapat pula menghemat sumber daya alam yang ada. Sehingga bahan alam dapat terawat dengan baik. Seperti penggunaan tissue yang terbuat dari serat pohon yang membuat hutan menjadi rusak yang kemudian berpengaruh terhadap ekosistem yang ada didalamnya.

