Jam KerjaSenin - Sabtu 8:00 AM-4:00PMEMAIL:3dpotret@gmail.com
Mengatasi-Perut-Kembung-pada-Bayi-Penyebab-Gejala-dan-Solusi-yang-Bisa-Dilakukan-di-Rumah.jpg
05/Jun/2025

Perut kembung merupakan salah satu masalah pencernaan yang sangat umum dialami oleh bayi, bahkan menjadi keluhan yang sering dikeluhkan oleh orang tua dari berbagai usia anak. Meskipun terlihat sepele, kondisi ini dapat membuat bayi merasa sangat tidak nyaman, mereka menjadi lebih rewel, mengalami penurunan nafsu makan, bahkan kesulitan untuk tidur dengan nyenyak. Salah satu penyebab utama dari kondisi ini adalah banyaknya peluang bagi bayi untuk menelan udara, baik saat menyusu langsung dari payudara, menggunakan botol susu, maupun ketika mereka menangis dengan intensitas tinggi.

Perut kembung paling sering dialami oleh bayi pada dua rentang usia, yaitu saat mereka berusia 0–3 bulan dan 6–12 bulan. Pada masa awal kehidupan, sistem pencernaan bayi belum berkembang secara sempurna, sehingga lebih rentan mengalami gangguan seperti kembung. Ketika bayi memasuki usia 6 bulan ke atas, masalah ini kerap muncul kembali, kali ini sebagai respons tubuh terhadap proses adaptasi sistem pencernaan dalam mencerna makanan padat atau Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Tak jarang, kembung juga muncul bersamaan dengan gangguan lain seperti muntah, diare, konstipasi, atau nyeri perut. Pada banyak kasus, bayi yang mengalami kembung akan lebih mudah muntah.

Apa Saja Penyebab Kembung pada Bayi?

  1. Makan atau Minum Sambil Bermain

Memberi makanan atau minuman kepada bayi ketika ia sedang aktif bermain bisa menyebabkan bayi menelan makanan dengan tergesa-gesa. Akibatnya, udara yang ikut tertelan dalam jumlah besar dapat masuk ke lambung dan meningkatkan risiko kembung, bahkan tersedak.

  1. Menangis Terlalu Lama

Menangis secara terus-menerus membuat bayi banyak menelan udara. Udara ini kemudian masuk ke dalam saluran pencernaan, menyebabkan perut terasa penuh dan tidak nyaman.

  1. Terlalu Banyak Makan atau Minum Susu

Memberikan susu atau makanan dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan kembung. Hal ini disebabkan oleh kemampuan sistem pencernaan bayi yang masih terbatas dalam mencerna volume besar. Makanan atau susu yang tidak tercerna akan masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri di sana, menghasilkan gas yang menyebabkan perut bayi terasa begah.

  1. Intoleransi Laktosa

Beberapa bayi mengalami kesulitan mencerna laktosa dalam susu karena tubuhnya belum menghasilkan cukup enzim laktase. Ketika laktosa tidak tercerna, ia akan turun ke usus besar dan mengalami fermentasi oleh bakteri, menghasilkan gas dan menyebabkan kembung. Kondisi ini dikenal sebagai *transient lactose intolerance* dan sering terjadi karena perkembangan usus yang belum matang.

  1. Kelainan Kongenital

Dalam kasus yang lebih serius, kembung bisa menjadi gejala dari kelainan bawaan sejak lahir. Beberapa di antaranya meliputi kondisi di mana usus mengalami puntiran (volvulus), masuknya bagian atas usus ke dalam bagian bawahnya (invaginasi), kelainan pada sistem saraf usus bawah (Hirschsprung), atau bahkan tidak terbentuknya bagian usus tertentu (atresia).

 

Cara Efektif Mengatasi Perut Kembung pada Bayi di Rumah

Untungnya, orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana namun efektif di rumah untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat perut kembung pada bayi. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:

  1. Posisi Menyusui yang Tepat

Saat menyusui baik secara langsung maupun melalui botol usahakan posisi kepala bayi sedikit lebih tinggi daripada perutnya. Hal ini memungkinkan susu mengalir ke dasar lambung, sedangkan udara naik ke atas, sehingga bayi lebih mudah bersendawa. Menggunakan bantal menyusui juga dapat membantu menjaga posisi ini tetap stabil dan nyaman.

  1. Membantu Bayi Bersendawa

Sendawa adalah cara alami untuk mengeluarkan udara dari lambung. Lakukan sendawa setelah dan bahkan selama sesi menyusui. Jika bayi belum bersendawa, coba posisikan bayi telentang selama beberapa menit, lalu angkat dan coba kembali. Bersikaplah sabar karena terkadang dibutuhkan beberapa kali percobaan.

  1. Memberikan Pijatan Lembut

Pijatan pada area perut bayi bisa membantu melancarkan pergerakan gas di dalam usus. Lakukan gerakan memutar secara perlahan dengan tangan yang hangat. Gerakan kaki seperti mengayuh sepeda saat bayi berbaring telentang juga bisa merangsang pengeluaran gas. Selain itu, posisi tengkurap sambil digosok punggungnya atau mandi air hangat juga bisa membantu meredakan kembung.

  1. Memilih Peralatan Menyusui yang Tepat

Jika menggunakan botol susu, penting untuk memilih dot dengan lubang yang sesuai. Ukuran lubang yang terlalu besar dapat menyebabkan bayi menelan terlalu cepat, sedangkan yang terlalu kecil membuat bayi harus mengisap terlalu kuat, yang juga bisa menyebabkan tertelannya udara. Lakukan uji coba sederhana: teteskan susu formula dingin dari dot, dan pastikan tetesannya keluar satu kali setiap detik.

Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?

Langkah-langkah penanganan di atas umumnya cukup efektif untuk meredakan perut kembung pada bayi. Namun, apabila kondisi bayi tidak membaik, atau kembung disertai dengan gejala lain seperti demam, muntah hebat, atau diare, maka segera konsultasikan dengan tenaga medis. Penanganan profesional diperlukan untuk memastikan bahwa tidak ada kondisi yang lebih serius di balik keluhan tersebut.

Menjaga kenyamanan pencernaan bayi adalah bagian penting dari tumbuh kembangnya. Dengan memahami penyebab dan cara penanganan perut kembung, orang tua dapat memberikan perhatian dan penanganan yang tepat sejak dini.


5-Kebiasaan-Sederhana-yang-Terbukti-Penting-untuk-Kesehatan-dan-Tumbuh-Kembang-Balita.jpg
04/Jun/2025

Menjaga kesehatan balita tidak hanya sebatas pada imunisasi atau kunjungan rutin ke dokter. Di balik langkah-langkah medis yang umum dilakukan, terdapat berbagai kebiasaan harian yang tampak remeh namun ternyata sangat berdampak besar terhadap tumbuh kembang si kecil. Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, berikut lima kebiasaan sederhana yang sebaiknya diterapkan dalam keseharian anak-anak usia dini.

 

  1. Mencuci Tangan Sebelum Menyusui dan Memberi Makan

Meski terdengar sepele, mencuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh makanan balita memiliki dampak yang signifikan. Penelitian internasional menunjukkan bahwa kebiasaan ini dapat menurunkan risiko diare hingga 40%. Diare sendiri masih menjadi salah satu penyebab utama kematian anak di bawah lima tahun di Indonesia.

Langkah pencegahannya sangat mudah: cukup mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama minimal 20 detik sebelum menyusui atau memberi makan. Tindakan sederhana ini bisa menjadi penyelamat nyawa dan langkah awal dari gaya hidup higienis dalam keluarga.

 

  1. Rutin Membersihkan Mainan Anak

Mainan merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia balita, namun juga bisa menjadi perantara penyebaran kuman. Banyak balita yang secara alami memasukkan mainannya ke mulut. Permukaan mainan yang jarang dibersihkan dapat menjadi tempat berkembang biaknya berbagai mikroorganisme berbahaya, termasuk virus penyebab gangguan pencernaan dan pernapasan.

Membersihkan mainan secara rutin dengan air sabun hangat atau disinfektan yang aman bagi anak menjadi langkah penting untuk mencegah infeksi. Kebiasaan ini juga membangun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar anak tetap bersih dan sehat.

 

  1. Memastikan Balita Tidur Cukup dan Berkualitas

Waktu tidur bagi balita bukan sekadar momen istirahat. Selama tidur, tubuh anak memproduksi hormon pertumbuhan dan memperkuat sistem kekebalan tubuhnya. Kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan gangguan perilaku, penurunan daya tahan tubuh, serta memperlambat perkembangan fisik dan kognitif.

Membentuk rutinitas tidur yang teratur seperti membacakan dongeng sebelum tidur, menjauhkan gadget satu jam sebelumnya, dan menciptakan suasana kamar yang tenang bisa menjadi kunci agar si kecil mendapatkan tidur yang berkualitas setiap malam.

 

  1. Memberi Makan Sesuai Tanda Lapar Anak

Anak yang tampak susah makan sering membuat orang tua khawatir, hingga kadang mengambil langkah memaksa mereka makan. Padahal, memaksa anak untuk makan justru dapat menurunkan nafsu makan dan membentuk pola makan yang tidak sehat di masa depan.

Pendekatan yang disarankan oleh para ahli adalah “responsive feeding”, yaitu memberi makan berdasarkan sinyal lapar dan kenyang yang ditunjukkan oleh anak. Pendekatan ini tidak hanya mendukung pertumbuhan yang ideal, tetapi juga mengajarkan anak mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami sejak dini.

 

  1. Membiasakan Anak Terpapar Sinar Matahari Pagi

Paparan sinar matahari pagi, terutama sebelum pukul 9, sangat bermanfaat bagi tubuh balita karena membantu produksi vitamin D secara alami. Vitamin D sangat penting dalam menunjang pertumbuhan tulang dan memperkuat sistem imun.

Mengajak anak bermain di luar rumah saat pagi hari, meskipun hanya sebentar, dapat memberikan manfaat kesehatan jangka panjang. Selain meningkatkan kadar vitamin D, kegiatan ini juga dapat mendukung perkembangan motorik dan memberikan stimulasi sensorik yang penting bagi tumbuh kembang anak.

Dengan menerapkan lima kebiasaan sederhana ini, orang tua telah mengambil langkah konkret dalam menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan balita. Tak perlu menunggu anak sakit untuk bertindak dalam pencegahan dan perhatian pada hal-hal kecil justru menjadi fondasi penting dalam membesarkan anak yang sehat, kuat, dan bahagia.


Panduan-Lengkap-Perawatan-Bayi-Baru-Lahir-Dari-Kontak-Kulit-hingga-Bepergian-Aman.jpg
02/Jun/2025

Bayi baru lahir (BBL) adalah bayi dengan usia 0 hingga 28 hari, masa yang sangat krusial dalam tumbuh kembang dan pembentukan ikatan emosional antara bayi dan orang tua. Dalam periode emas ini, perawatan yang tepat sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan emosional bayi. Berikut adalah metode perawatan yang penting diterapkan pada bayi baru lahir:

 

Sentuhan Awal: Skin-to-Skin dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Segera setelah lahir, bayi sebaiknya diletakkan di dada ibu agar terjadi kontak langsung antara kulit keduanya. Teknik ini dikenal sebagai perawatan metode kanguru.

Inisiasi menyusu dini (IMD) tidak hanya memberikan kehangatan emosional, tetapi juga menurunkan risiko kematian bayi serta meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. IMD juga terbukti meningkatkan daya tahan tubuh bayi.

Tidak perlu khawatir bila dalam proses IMD bayi belum menyusu secara aktif kontak dan proses ini sendiri sudah memberi banyak manfaat dan memperbesar peluang menyusui yang sukses.

 

 

Ikatan Emosional yang Kuat: Bounding Attachment dan Rawat Gabung

Perawatan rawat gabung dilakukan dengan menempatkan bayi dalam satu kamar dengan ibu sejak hari pertama persalinan dan dilanjutkan di rumah. Ini memberi banyak manfaat, seperti:

  • Mendukung keberhasilan ASI eksklusif karena bayi dapat menyusu kapan saja tanpa jadwal ketat.
  • Ibu lebih mudah mengenali tanda lapar bayi.
  • Mencegah pembengkakan payudara.
  • Mengurangi risiko bayi mengalami kondisi kuning (ikterik).
  • Menurunkan kemungkinan bayi kehilangan berat badan secara berlebihan.
  • Bayi menjadi lebih tenang.
  • Risiko infeksi menurun.
  • Menurunkan risiko depresi pascamelahirkan dan meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayi.

 

Pola Tidur Bayi yang Sehat

Bayi baru lahir umumnya tidur hingga 20 jam sehari. Agar tidur bayi tetap aman dan nyaman, beberapa hal penting diperhatikan:

  • Gunakan alas tidur yang rata dan tidak terlalu empuk.
  • Posisi tidur terbaik adalah terlentang, karena dapat mencegah sindrom kematian mendadak pada bayi atau Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).

 

Merawat Tali Pusat

Perawatan tali pusat sangat penting untuk mencegah infeksi. Beberapa langkah yang perlu diperhatikan:

  • Jaga agar tali pusat tetap kering dan bersih.
  • Hindari terkena air seni atau tinja bayi.
  • Jika tali pusat kotor, bersihkan menggunakan air bersih dan sabun, lalu keringkan dengan kain bersih.
  • Tidak perlu mempercepat proses pelepasan—biarkan tali pusat terlepas dengan sendirinya.

 

Memandikan Bayi dengan Aman

Bayi dapat mulai dilap dengan air hangat setelah 6 jam kelahiran. Memandikannya perlu dilakukan dengan cara yang lembut dan aman:

  • Gunakan air hangat-hangat kuku, sabun, dan sampo khusus bayi.
  • Hindari waktu mandi yang terlalu pagi atau terlalu sore.
  • Gunakan produk seminimal mungkin karena kulit bayi masih sangat sensitif.

 

Tips Aman Bepergian Bersama Bayi

Jika ingin membawa bayi keluar rumah, pastikan kondisinya sehat. Perhatikan hal-hal berikut:

  • Kenakan pakaian yang cukup hangat agar bayi tidak kedinginan.
  • Saat bepergian dengan mobil, selalu gunakan car seat khusus untuk bayi demi keselamatan.
  • Bayi dapat bepergian menggunakan pesawat setelah berusia dua bulan.
  • Hindari perjalanan udara jika bayi mengalami infeksi telinga, karena perubahan tekanan saat lepas landas atau mendarat bisa menimbulkan nyeri—meski biasanya hanya berlangsung sebentar.

Perawatan bayi baru lahir membutuhkan ketelatenan, kasih sayang, dan pengetahuan yang cukup. Dengan memahami dan menerapkan langkah-langkah ini, orang tua dapat memberikan fondasi terbaik bagi tumbuh kembang anak di masa depan.


artikel-38-e1747280406631.jpg
15/May/2025

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan parameter antropometri dari World Health Organization (WHO), stunting didefinisikan sebagai kondisi ketika tinggi badan anak berdasarkan usia (TB/U) berada di bawah minus dua standar deviasi (di bawah -2 SD).

Kondisi ini mencerminkan gangguan pertumbuhan kronis akibat kurangnya asupan gizi yang terjadi dalam jangka panjang, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan—mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Menurut Indeks Perkembangan Anak Usia Dini (Early Childhood Development Index/ECDI), stunting parah terjadi saat skor Z dari TB/U anak berada di bawah -3 SD. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak dan kecerdasan anak.

Dampak Jangka Pendek dan Panjang Stunting

Secara jangka pendek, stunting bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak, penurunan kecerdasan, masalah metabolisme, serta keterlambatan pertumbuhan fisik. Tak hanya itu, anak yang mengalami stunting juga cenderung memiliki kebutuhan biaya kesehatan yang lebih tinggi akibat meningkatnya risiko penyakit.

Dampak jangka panjangnya bahkan lebih kompleks. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami penurunan kemampuan kognitif, daya tahan tubuh yang rendah, hingga rentan terserang penyakit degeneratif seperti diabetes, obesitas, jantung, stroke, bahkan disabilitas di usia dewasa.

Fakta Global dan Nasional

Menurut laporan WHO, sekitar 155 juta anak di dunia mengalami stunting. Prevalensinya lebih tinggi di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah (32 persen) dibandingkan negara berpenghasilan menengah ke atas (6,9 persen) atau tinggi (2,5 persen).

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting tercatat sebesar 30,8 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang (3,8 persen), gizi kurus (10,2 persen), atau gizi gemuk (8 persen). Namun, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka stunting berhasil ditekan menjadi 24,4 persen.

Dampak terhadap Masa Depan Anak

Studi menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada masa awal kehidupan akan berdampak jangka panjang dan bersifat irreversible atau tidak dapat diubah. Salah satunya adalah gangguan perkembangan kognitif yang dapat memengaruhi kemampuan belajar, produktivitas, dan kualitas hidup anak saat dewasa.

Selain itu, anak stunting juga lebih berisiko mengalami keterlambatan perkembangan kemampuan motorik, gangguan bicara dan bahasa, serta penurunan kualitas intelektual.

“Stunting berkaitan erat dengan kemampuan kognitif yang rendah, dan ini bisa berdampak pada produktivitas serta daya saing generasi masa depan,” ujar peneliti kesehatan masyarakat, mengutip hasil kajian beberapa studi sebelumnya.

Perlu Upaya Serius dan Terpadu

Stunting bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga dapat menjadi indikator tantangan masa depan bangsa. Dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi, pendidikan, sosial, dan bahkan politik.

Sayangnya, sebagian besar penelitian selama ini masih fokus pada aspek pertumbuhan dan perkembangan anak secara terpisah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan ilmiah yang lebih menyeluruh, seperti melalui metode Systematic Literature Review, untuk melihat hubungan langsung antara stunting dan tumbuh kembang anak secara komprehensif.

Penanganan Stunting, Bukan Sekadar Pemenuhan Gizi

Upaya pencegahan stunting tidak hanya terbatas pada pemberian makanan bergizi, tetapi juga mencakup edukasi gizi, peningkatan sanitasi lingkungan, layanan kesehatan ibu dan anak, serta penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Penanganan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin, pemenuhan gizi seimbang, dan konsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia. Ibu hamil juga perlu mendapatkan edukasi kesehatan, menghindari stres serta paparan zat berbahaya, dan memperoleh dukungan psikologis serta sosial dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Deteksi dini risiko kehamilan dan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga medis profesional menjadi langkah penting untuk mencegah bayi lahir stunting. Dengan kolaborasi lintas sektor dan meningkatnya kesadaran masyarakat, Indonesia diharapkan dapat menurunkan angka stunting secara signifikan serta melahirkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan kompetitif di masa depan.

Referensi:
  • Kemenkes RI. (2021). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
  • Rao, N. et al. (2020). The Lancet Global Health: Nutrition Interventions and Child Development.
  • Probosiwi, R. (2017). Stunting dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Anak. Jurnal Gizi dan Kesehatan
  • Cegah Stunting (2021), Mengenal Studi Status Gizi Indonesia 2021

Ibu-anak-18.png
11/Sep/2024

Rutinitas harian yang dapat diprediksi membantu anak-anak mengetahui apa yang diharapkan dan apa yang diharapkan dari mereka, sehingga mengurangi perilaku yang mengganggu. Rutinitas harian harus berjalan secara konsisten sehingga memungkinkan bayi untuk fokus pada permainan dan pembelajaran mereka.

Manfaat mengatur rutinitas untuk balita

  • Memiliki Rasa Aman

Balita memiliki jadwal dan rutinitas harian yang teratur, yang memungkinkannya merasa nyaman dan aman di lingkungannya. Dengan kata lain, anak tidak perlu khawatir tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari dan harus memiliki waktu untuk mempersiapkan diri.

  • Memberi kontrol dan percaya diri

Anak akan lebih bahagia ketika ada keteraturan karena mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Anak-anak dapat memperoleh rasa kontrol dan mendapatkan dukungan dalam pertumbuhan harga diri mereka dengan memahami peran mereka dalam rutinitas keluarga.

  • Dapat tidur lebih nyenyak

Rutinitas yang konsisten dapat membantu anak tidur dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Mereka lebih cenderung tidak rewel ketika tiba waktunya tidur malam karena mereka sudah mengetahui rutinitas tersebut. Waktu tidur yang teratur juga memastikan bahwa anak tidur cukup sepanjang hari. Rutinitas tidak hanya memungkinkan anak tidur dengan cukup, tetapi juga membantu pertumbuhan mereka, mendapatkan nutrisi yang cukup, menghabiskan waktu bersama keluarga, mengatur suasana hati dan perasaan, dan tetap sehat sejak dini. Anak-anak yang memiliki rutinitas cenderung tidur lebih awal dan lebih nyenyak.

  • Bantu balita beradaptasi dengan perubahan

Memiliki jadwal kegiatan yang teratur juga dapat membantu balita beradaptasi dengan perubahan. Selain itu, jika ada hal yang harus membuatnya tidur lebih awal, anak akan tetap tenang karena tahu saat dia bangun, itu adalah waktunya untuk bermain.

Contoh jadwal kegiatan rutinitas balita di rumah

Sebenarnya, tidak ada jadwal rutinitas balita yang benar-benar ideal dan cocok untuk semua anak. Pada dasarnya, hal itu tentang menemukan ritme yang memenuhi kebutuhan keluarga secara keseluruhan sambil tetap mengisi semua “cangkir” perkembangan balita. Termasuk jadwal makan dan ngemil yang teratur, tidur yang cukup, dan banyak kesempatan untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama orang tua di rumah. Berikut ini adalah beberapa contoh rencana harian yang dapat dilakukan anak-anak saat masih kecil di rumah untuk menjadi sehat dan cerdas:

  • 06.30 hingga 08.00 pagi: Bangun tidur

Anak-anak biasanya terbangun dari tidurnya antara pukul 06.30 dan 08.00 pagi. Waktu bangun rata-rata setiap anak, menurut Healthline. Jangan khawatir jika anak terbangun lebih awal atau bahkan lebih lama dari jadwal. Anda dapat menyesuaikan kegiatan berikutnya sebisa mungkin.

  • 08.00 hingga 09.00 pagi: Makan sarapan

Sarapan sangat penting untuk pertumbuhan anak usia balita. Sesuai usianya, ibu dapat meminta anaknya membantu menyiapkan makanan dan melakukan tugas sederhana lainnya. Misalnya, membantu mengelap meja setelah makan atau menambah susu ke sereal.

  • 09.00 hingga 10.00 pagi: Waktu bermain

Waktu bermain sangat penting untuk perkembangan balita karena memungkinkan mereka berekspresi secara bebas dan bereksperimen dengan bahasa dan imajinasi mereka sendiri. Bunda dapat memberi anak waktu untuk bermain bebas atau permainan tidak terorganisir. Ini dapat mencakup bermain balok sederhana atau bermain peran.

  • 10.00 hingga 11.00 pagi: Waktu di luar ruangan

Jika ada taman bermain terdekat, pergilah untuk bermain bersama dan berolahraga. Jika tidak ada, Si Kecil dapat bermain di depan rumah, tentunya di bawah pengawasan orang tua. Berada di luar rumah tidak hanya memberi anak udara segar, tetapi juga dapat mengurangi stres dan meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya.

  • 11.00 hingga 12.00 siang: Kegiatan bebas

Kegiatan sehari-hari anak mungkin berbeda selama liburan. Ini bagus untuk banyak hal, seperti membaca buku, bercerita, dan berbicara dengan saudara.

  • 12.00 hingga 13.00 siang: Makan siang dan bersantai

Setelah makan siang, anak biasanya akan istirahat sebentar untuk menenangkan diri dan bersantai sebelum waktu tidur siang tiba. Bunda dapat mulai menutup gorden dan memainkan musik lembut untuk membiarkan anak rileks.

  • 13.00 hingga 15.00 sore: Tidur siang atau waktu tenang

Seorang konsultan tidur bernama Nicole Johnson mengatakan bahwa sebagian besar balita tidur siang hanya sekali sekitar usia lima belas hingga delapan belas bulan, menurut Healthline.

  • 15.00 hingga 15.30 sore: Camilan sore

Pada titik ini, anak biasanya akan mulai mencari camilan kecil. Bunda dapat membuat camilan seperti yoghurt atau buah potong yang anak suka.

  • 15.30 hingga 16:30: Permainan bebas

Tidak perlu khawatir jika anak-anak senang bermain, Bunda. Sebagian besar hari anak-anak harus dihabiskan untuk berinteraksi dan mengeksplorasi dunia sekitarnya, salah satu caranya adalah dengan bermain.

  • 15.30 hingga 17.00 sore: Persiapan makan malam

Anda dapat mulai menggunakan balita saat Anda mempersiapkan makan malam, seperti mengambil piring atau membersihkan meja. Selain itu, kegiatan ini mengajarkan anak tanggung jawab.

  • 17.00 hingga 18.00 sore: Makan malam dan waktu keluarga

Para ahli menjelaskan bahwa makan bersama sebagai keluarga memiliki beberapa tujuan penting. Salah satunya adalah meningkatkan kemampuan komunikasi anak-anak dan menumbuhkan perasaan aman. Setelah itu, jangan lupa untuk menjaga aktivitas tetap tenang karena waktu tidur sudah dekat.

  • 19.00 hingga 19.30 malam: Rutinitas sebelum tidur

Setelah mandi dan menggosok gigi, membaca cerita, menyanyikan lagu, memeluk atau berbicara dengan anak adalah beberapa kebiasaan sebelum tidur. Ini akan menunjukkan bahwa waktunya untuk tidur.

  • 19.30 malam: Waktu tidur

Saat ini, rata-rata anak mulai tidur nyenyak. Jangan ragu untuk mengubah jadwal jika terasa sulit untuk diikuti. Tetapi anak-anak dan keluarga mungkin perlu beberapa hari atau minggu untuk mendapatkan ritme yang sesuai.

Rutinitas harian yang konsisten membantu balita merasa aman dan nyaman, memberikan mereka prediktabilitas dalam hari-hari mereka, serta mengurangi kecemasan dan perilaku yang mengganggu. Dengan rutinitas yang teratur, anak-anak dapat fokus pada eksplorasi dan pembelajaran, yang mendukung perkembangan fisik, emosional, dan kognitif mereka.

Menerapkan jadwal yang fleksibel tetapi terstruktur memberikan anak kesempatan untuk beradaptasi dengan perubahan dengan lebih baik, membantu mereka mengembangkan rasa tanggung jawab, kontrol diri, dan kemandirian. Selain itu, dengan rutinitas tidur yang konsisten, anak-anak akan mendapatkan waktu istirahat yang cukup, yang penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan otak mereka.

Meskipun tidak ada jadwal yang benar-benar sempurna untuk setiap anak, orang tua dapat menemukan ritme yang sesuai dengan kebutuhan keluarga dan mengutamakan waktu makan, bermain, dan tidur yang konsisten. Yang paling penting, rutinitas harian ini tidak hanya menciptakan stabilitas dan kenyamanan, tetapi juga memberikan dasar yang kuat untuk mendukung kesehatan dan kecerdasan anak sejak usia dini.


Ibu-anak-17.png
11/Sep/2024

Anak-anak yang tidak bisa diam membuat banyak orang tua kewalahan. Anak-anak yang aktif biasanya ingin bermain dengan berbagai hal, seperti berlari, melompat, bermain dengan teman, atau terus membuat sesuatu di rumah berantakan. Orang tua atau pengasuh mungkin merasa terganggu terkadang karena hal itu, terutama jika mereka melakukan aktivitas seperti membersihkan dan membereskan rumah. Sebenarnya, anak yang terlalu aktif bukanlah gangguan. Sebaliknya, terlalu aktif menunjukkan kecerdasan kinestetis yang tinggi. Oleh karena itu, mereka cenderung tidak bisa diam ketika belajar, tetapi mereka tetap fokus dan berkonsentrasi. Anda disarankan untuk mendampingi si Kecil daripada memarahinya karena tingkah lakunya yang hiperaktif.

Akibatnya, sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui cara mengajar anak mereka dengan aktif sehingga mereka dapat memaksimalkan kemampuan mereka dan mengontrol perilaku mereka. Anda dapat mencoba beberapa metode berikut untuk mengatasi anak hiperaktif:

  •  Kenalkan si Kecil dengan Berbagai Aktivitas yang Menarik

Anak-anak yang aktif cenderung lebih cocok untuk belajar dengan gaya kinestetis karena gaya ini menuntut anak-anak untuk bergerak lebih banyak dan berinteraksi dengan objek pembelajarannya. Orang tua harus mencari aktivitas positif untuk anak-anak karena sangat mungkin si Kecil merasa bosan dengan mainan atau aktivitasnya. Misalnya, anak-anak dapat diajak untuk membantu orang tua membersihkan rumah, seperti membersihkan mainannya sendiri atau hal-hal kecil lainnya. Jika orang tua memasak, libatkan si Kecil untuk melakukan tugas sederhana, seperti memetik sayur, agar anak tidak mengganggu pekerjaan orang tua.

  • Lakukan Aktivitas di Luar Rumah 

Cara lain untuk mengatasi anak hiperaktif adalah mengajaknya bermain di luar rumah. Ini dapat membantu anak meluapkan energinya dan memenuhi keinginan mereka untuk bergerak. Anda dapat mengajak anak-anak Anda bermain di taman, berenang, sepak bola, atau trampolin, antara aktivitas fisik lainnya. Saat berada di luar rumah, jangan lupa untuk selalu memperhatikan anak-anak Anda agar tidak berlari ke tengah jalan atau menghilang dari pandangan Anda.

  • Berani Kotor

Anda tidak perlu khawatir jika anak Anda bermain dengan barang-barang yang kotor, seperti cat atau pasir. Melakukan aktivitas ini juga membantu perkembangan motorik dan kognitifnya. Sudah jelas bahwa tugas Anda sebagai orang tua hanyalah mengawasinya. Setelah itu, jangan lupa untuk membantunya membersihkan tangannya dan area tubuh lainnya yang kotor.

  • Perhatikan Apa yang Digemari

Orang tua harus mempertimbangkan apa yang menarik dan paling digemari si Kecil saat menawarkan berbagai aktivitas setiap hari. Biasanya, anak yang tidak bisa diam akan duduk diam untuk waktu yang lama ketika mereka bermain sesuatu yang mereka sukai. Jika Anda tahu aktivitas apa yang disukainya, Anda dapat mengajaknya bermain apabila dia tidak bisa diam.

  • Masuk Dalam Komunitas Tertentu

Orang tua dapat memasukkan si Kecil ke kelompok sosial tertentu, seperti olahraga, sebagai salah satu cara mendidik anak yang hiperaktif. Bergabung dengan komunitas dapat membantu anak hiperaktif menghabiskan lebih banyak energi dan mengajarkannya bersosialisasi dengan orang lain, seperti pendidik dan teman sebaya. Sebagai orang tua, Anda harus tetap dampingi anak Anda dengan baik dan sabar agar perilakunya bermanfaat, meskipun perilaku anak yang sangat aktif terkadang membuat lelah. Melabeli anak yang aktif dengan kata-kata negatif seperti nakal, bandel, atau sejenisnya tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, cari cara untuk membuat sikap hiperaktifnya menjadi semangat atau penuh keingintahuan.

Sebagai penutup, anak yang hiperaktif bukanlah sebuah masalah, melainkan potensi besar yang perlu diarahkan dengan bijak. Daripada memarahi atau melabeli mereka secara negatif, orang tua bisa mendampingi anak dengan menyediakan aktivitas yang sesuai, baik di dalam maupun di luar rumah. Dengan memberi mereka ruang untuk bergerak dan mengeksplorasi, serta mengenali minat mereka, orang tua dapat membantu anak mengembangkan kecerdasannya dengan optimal. Sabar, kreatif, dan fleksibel adalah kunci dalam mendidik anak hiperaktif agar mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri, sehat, dan bahagia.


Ibu-anak-16.png
11/Sep/2024

     Saat anak memasuki masa pubertas, mereka akan mengalami banyak perubahan fisik dan mental. Beberapa anak bertahan dengan baik, tetapi yang lain kewalahan dengan semua perubahan itu. Sebagai orang tua, peran ibu sangat penting untuk memberikan dukungan dan perhatian untuk membantu anak melewati masa pubertas dengan baik dan positif. Namun, ibu mungkin bingung bagaimana mendampingi anak remaja melalui perubahan fisik, psikologis, dan emosional yang mereka alami. Jangan khawatir, ibu dapat melakukan banyak hal untuk membantu anak remaja mereka. Salah satunya adalah dengan meyakinkan anak bahwa ibu adalah orang yang mereka bisa hubungi saat mereka perlu teman bicara. Baca lebih lanjut tentang cara mendampingi anak memasuki masa pubertas di sini.

Cara Mendampingi Anak Remaja Melalui Masa Pubertas

Masa pubertas biasanya dimulai pada usia 7 dan 13 tahun pada anak perempuan dan sekitar usia 9 hingga 15 tahun pada anak laki-laki. Beberapa anak memulai pubertas lebih awal daripada yang lain. Sejumlah perubahan fisik yang terjadi pada anak remaja biasanya menandai masa pubertas. Misalnya, anak perempuan akan mengalami menstruasi, pertumbuhan payudara, dan pertumbuhan rambut di beberapa bagian tubuhnya, sedangkan anak laki-laki akan bertambah tinggi, memiliki jakun, jerawat, dll.

Tidak semua anak dapat menyesuaikan diri dengan semua perubahan fisik tersebut. Mereka mungkin merasa malu atau khawatir tentang hal-hal seperti bentuk tubuh mereka, suara mereka, perasaan seksual mereka, atau ketertarikan romantis, dan sebagainya. Ditambah lagi, anak remaja mungkin menjadi lebih sensitif karena perubahan hormon yang cukup besar. Itu sebabnya anak-anak terkadang sulit untuk “didekati”.Namun, tidak perlu khawatir; berikut adalah beberapa cara ibu dapat mendampingi anak mereka melalui masa pubertas:

  • Membantu anak memahami perubahan yang terjadi

Perubahan fisik yang terjadi pada tubuh anak remaja ibu mungkin merupakan tanda pubertas yang paling jelas. Mulai dari bintik jerawat, rambut, dan bau tubuh, hingga perubahan bentuk tubuh dan perkembangan organ seksual, perubahan suara, ereksi, menstruasi bulanan, dan masih banyak lagi, perubahan fisik bisa sangat banyak dan sulit untuk dipahami.Oleh karena itu, ibu dapat membantu anak remaja ibu dengan memberi tahu mereka apa yang terjadi dan bagaimana merawat tubuh mereka saat mereka menjadi remaja. Beritahu anak bahwa perubahan tersebut adalah normal dan akan terjadi pada semua anak, jadi dia tidak perlu malu. Selain itu, ajarkan anak-anak tentang penggunaan deodoran dan perawatan kulit yang tepat; ajarkan anak laki-laki cara mencukur; dan berikan penjelasan tentang cara menjaga kebersihan selama menstruasi. Bantu mereka mengembangkan rutinitas harian baru di rumah dan menemukan solusi profesional yang masuk akal untuk masalah yang sangat sulit.

  • Bersabar dan siap menjadi teman bicara

Pikiran dan tubuh anak dapat dipengaruhi oleh perubahan hormon yang terjadi selama masa pubertas. Ini berarti bahwa anak remaja ibu tidak hanya akan menghadapi perubahan fisik, tetapi mereka juga akan menghadapi kesulitan dengan pikiran dan perasaan mereka. Mereka mungkin mengalami emosi yang kuat atau kebingungan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Mereka juga mungkin terlalu sensitif, mudah marah, dan cemas dengan bagaimana mereka terlihat. Anggota keluarga biasanya adalah yang pertama terkena dampak dari perubahan mood remaja. Oleh karena itu, saat anak remaja ibu meledak dengan amarah, cobalah untuk bersabar dan tetap tenang. Tunggu sampai anak tenang sebelum mengajaknya berbicara. Kemudian, yakinkan anak remaja dan ibu bahwa emosi yang beragam adalah normal selama pubertas. Pastikan anak-anak Anda tahu bahwa ibu mereka akan mendukung dan memahami mereka dalam mengajarkan mereka bagaimana mengatur emosi mereka. Yang terpenting, pastikan mereka tahu bahwa mereka dapat berbicara dengan ibu mereka tentang hal-hal apa pun.

  • Beri edukasi seks

Proses di mana anak laki-laki dan perempuan menjadi dewasa secara seksual dikenal sebagai pubertas. Jadi, mengajarkan anak remaja tentang seks ketika mereka memasuki masa pubertas sangat penting. Anak-anak harus memahami sistem reproduksi untuk memahami perubahan fisik yang mereka alami dan dampak dari berhubungan seks tanpa kondom. Anak laki-laki dan anak perempuan keduanya harus diketahui bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengandung.

  • Membangun citra diri yang baik dan positif

Kehidupan remaja dipengaruhi oleh media sosial. Hal itu dapat membuat mereka tidak percaya diri karena membuat mereka membandingkan diri dengan teman-teman atau orang-orang terkenal. Jika anak perempuan ibu merasa dirinya jelek, berjerawat, atau bertanya-tanya mengapa payudara mereka tidak membesar seperti anak perempuan lain, yakinkan mereka bahwa mereka cantik sebagaimana adanya. Bantu anak-anak memahami bahwa mereka akan mengalami perubahan fisik yang sama seperti anak-anak lain, hanya saja mereka akan terjadi dalam waktu yang berbeda. Yakinkan anak bahwa tubuhnya akan berkembang secara seimbang pada akhirnya.

  • Mendorong anak menerapkan hidup sehat

Anak-anak dan ibu-ibu harus didorong untuk mengonsumsi makanan sehat, tidur yang cukup, berolahraga secara teratur, dan menemukan cara sehat untuk mengurangi stres.

Sebagai kesimpulan, masa pubertas adalah fase penting dalam perkembangan anak yang penuh dengan perubahan, baik fisik maupun emosional. Meskipun setiap anak akan mengalami pubertas dengan cara yang berbeda, peran ibu dalam mendampingi, memberi pemahaman, serta menjadi tempat anak berbagi sangatlah vital. Dengan memberi dukungan yang penuh kasih sayang, membangun komunikasi yang terbuka, serta memberikan pendidikan yang tepat mengenai perubahan tubuh dan kesehatan reproduksi, ibu dapat membantu anak-anak melewati masa ini dengan lebih percaya diri dan positif. Pubertas bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan kesempatan bagi anak untuk berkembang menjadi individu yang dewasa dan sehat, dengan dukungan penuh dari orang tua.


Ibu-anak-15.png
11/Sep/2024

Orang tua sering dibuat pusing dengan permintaan anak akan mainan dan barang-barang yang disukai teman-temannya ketika anak mulai bersekolah. Meskipun kita mungkin membelinya, mengikuti keinginan anak untuk membeli sesuatu akan membahayakan masa depan mereka. Karena itu, sepertinya perlu mengajarkan anak-anak cara mengelola uang dari usia dini. Ini harus mengajarkan mereka nilai uang dan barang, memahami bahwa orang tua tidak selalu dapat memenuhi kebutuhan mereka, pandai membedakan antara keinginan dan kebutuhan, dan menjadi orang dewasa yang pandai mengelola uang mereka sendiri.

Mulai Kapan anak-anak harus belajar mengelola uang?

Menurut Beth Kobliner, pengarang buku Make Your Kid a Money Genius (Even If You’re Not), kebiasaan mengelola uang mulai terbentuk pada usia tujuh tahun. Namun, pada usia tiga tahun, anak-anak mulai memahami konsep menabung dan membeli.

Ada tiga tahapan yang bisa kita lakukan untuk mulai mengajari anak mengelola uang, menurut usianya.

Usia 3-5 Tahun: Tahan Keinginannya

Pelajaran utama yang dapat diberikan kepada anak-anak di kelompok termuda ini bukanlah berapa banyak seribu rupiah, tetapi bagaimana menunda keinginan mereka. Orang tua kadang-kadang tidak tega menolak keinginan anak untuk membeli mainan atau permen, terutama yang murah.Pilih keinginan anak yang dapat ditunda. Jika anak meminta mainan, kita bisa mengatakan kepadanya, “Mama tidak punya uang sebanyak ini, bagaimana jika kita menabung dulu?” Ini akan mendorong anak untuk mulai mengumpulkan uang untuk memenuhi keinginan mereka.Untuk membuat menabung menjadi lebih menyenangkan, kita bisa meminta anak-anak menggambar apa yang mereka ingin beli dan meletakkannya di celengannya. Selain itu, sesuaikan jumlah uang yang akan ditabung dengan harga barang, sehingga anak-anak tidak patah hati karena uangnya tidak kunjung mencapai tujuan mereka.

Untuk tugas yang sering dilakukan, seperti membeli susu dan sereal di supermarket, buat komitmen sejak awal, seperti, “Kita nanti mau beli susu dan sereal ya, Nak. Tidak beli mainan, ya.” Anak-anak juga belajar untuk setia dan sabar.Pada usia ini, anak-anak juga dapat belajar mengatur uang yang mereka dapatkan, baik uang saku maupun angpau. Dia dapat dimasukkan ke dalam tiga kotak berbeda: saving (tabungan), spending (pengeluaran), dan sharing (sedekah).Ajak anak Anda untuk memasukkan uang ke dalam semua toples ketika dia mendapatkan uang. Beritahu dia juga toples mana yang harus dibuka saat membeli permen atau memberi sedekah.

Usia 6-10 Tahun: Libatkan Dalam Proses Belanja

Ajari anak-anak Anda cara membelanjakan uang mereka karena mereka sudah mampu mengambil keputusan sendiri di usia ini. Contohnya, kita dapat melibatkan anak-anak untuk memilih barang apa yang ingin mereka beli dengan membandingkan harganya. Kemudian, kita dapat memberi mereka sejumlah uang agar mereka dapat memilih sendiri barang yang mereka butuhkan. Bimbing anak untuk membedakan apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka inginkan selama proses ini. Ini penting untuk membantu mereka membuat prioritas di masa depan.

Usia 11-13 Tahun: Membuat Tujuan Jangka Panjang

Anak-anak dapat diajak berpikir lebih jauh pada usia remaja, yang merupakan kelompok usia berikutnya. Jika mereka menabung hanya untuk membeli permen saat kecil, sekarang saatnya untuk membuat tujuan jangka panjang. Target mengajak mereka untuk menabung lebih lama dengan harapan memperoleh lebih banyak uang dan dapat membeli barang yang lebih berharga. Menabung di bank adalah pilihan yang mungkin. Misalnya, ajak anak-anak Anda menghitung jumlah tabungan yang akan mereka miliki jika mereka lulus SMP, menggunakan komponen bunga dan bagi hasil. Bagaimana jika anak tidak mencapai tujuan mereka? Beri dia kesempatan untuk belajar dari kesalahannya. Ketika uangnya selalu habis untuk membeli jajanan favoritnya sepulang sekolah, dia mungkin merasa kesal karena tidak bisa membeli mainan yang dia inginkan di akhir bulan. Ini mengajarkan anak untuk mengelola keinginannya dengan lebih konsisten. Tidak ada kata terlambat untuk memulai membimbing anak kita untuk menjadi anak yang cerdas dalam mengelola uang, apapun usianya saat ini. Sebagai orang tuanya, kita juga akan mendapat manfaatnya.

Mengajarkan anak menabung dan mengelola uang sejak dini adalah investasi jangka panjang yang sangat berharga. Dengan membiarkan anak merasakan sendiri dampak dari keputusan finansial mereka, mereka akan belajar tanggung jawab dan pentingnya disiplin dalam menabung. Tak ada kata terlambat untuk mulai membimbing anak menjadi pribadi yang bijak dalam mengelola keuangan. Keterampilan ini tidak hanya akan membantu mereka di masa kini, tetapi juga akan memberikan manfaat besar bagi masa depan mereka — dan kita sebagai orang tua akan turut merasakan manfaatnya.

 


Ibu-anak-14.png
11/Sep/2024

Mengajarkan anak kebersihan harus dimulai sejak dini, bahkan jika terdengar sepele. Dengan cara ini, anak-anak akan mempertahankan kebiasaan ini hingga mereka remaja dan dewasa. Di usia remaja, anak-anak juga akan mengalami perubahan hormon yang menyebabkan keringat dan bau badan. Menjaga pola hidup bersih di usia yang masih dini juga penting untuk mencegah infeksi virus dan bakteri. Lantas, bagaimana tips mengajarkan anak kebersihan sejak dini?

Mengajarkan Kebersihan Sejak Dini sesuai Usia

Mengajarkan anak kebersihan sejak dini tidak hanya baik untuk kesehatan mereka sendiri, tetapi juga berdampak pada cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak yang bersih lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, pastinya akan tidak menyenangkan untuk berhubungan dengan orang yang bau dan kotor. Oleh karena itu, menjaga kebersihan diri sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak dapat merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri ketika dia tampil bersih dan wangi, yang merupakan bagian dari menghargai diri sendiri. Cara mengajarkan kebersihan anak sesuai usia adalah sebagai berikut:

  • Usia Bayi

Usia anak menentukan bagaimana mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menjaga kebersihan sejak dini. Untuk usia bayi, praktik langsung dapat dilakukan. Misalnya, seorang ibu dapat mengajarkan anaknya untuk mandi dua kali sehari dan ayah atau ibu dapat berbicara tentang pentingnya mandi dengan benar. Ketika makanan anak tumpah, itu dibersihkan segera. mengelap mulut dan tangan anak yang kotor dan menekankan pentingnya menjaga kebersihan. Meskipun anak masih bayi, hal-hal ini dapat menjadi kebiasaan yang akan bertahan hingga dia dewasa.

  • Usia Balita

Sama seperti ketika bayi balita, ibu dan ayah terus melakukan apa yang sudah mereka lakukan sejak bayi. Anak hanya diajarkan untuk bekerja sendiri ketika ia cukup besar. Mengingatkan anak untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan adalah contohnya. Dibersihkan segera setelah makanan jatuh. Orang tua harus memberi tahu anak bagian tubuh mana yang harus dibersihkan saat mandi dan mengingatkan mereka untuk menyikat gigi dua kali sehari.

  • Usia Anak Sekolah dan Remaja

Seharusnya anak-anak sudah dapat menjaga kebersihan diri secara mandiri di usia sekolah dan remaja. Misalnya, mengganti pakaian secara teratur, membedakan pakaian yang dipakai di rumah dari pakaian yang dipakai di luar, dan mencuci tangan setelah melakukan aktivitas di luar. Seiring bertambahnya usia, tubuh remaja pasti mengalami perubahan. Ini berarti mereka harus diingatkan untuk selalu menjaga kebersihan, terutama di bagian tubuh seperti organ genital, ketiak, dan area lainnya. Dia mulai menggunakan sabun pencuci wajah dan deodoran khusus selain mandi. Remaja laki-laki dan perempuan juga mulai memiliki kebutuhan yang berbeda, yang berarti mereka membutuhkan sabun pembersih wajah yang berbeda.

Mengajarkan kebersihan sejak dini adalah investasi penting untuk kesehatan fisik dan mental anak di masa depan. Dengan membiasakan anak menjaga kebersihan diri sesuai tahapan usia, orang tua tidak hanya melindungi mereka dari penyakit, tetapi juga membentuk kebiasaan positif yang akan mereka bawa hingga dewasa. Anak-anak yang terbiasa hidup bersih akan lebih percaya diri, lebih mudah berinteraksi, dan tumbuh menjadi individu yang menghargai kesehatan dan penampilan diri. Ajarkan kebersihan sejak dini, dan bantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan percaya diri.


Ibu-anak-13.png
11/Sep/2024

Tidur mempercepat perkembangan bayi dan anak-anak. Ini juga mempercepat perkembangan otak dan kecerdasan mereka. Mengapa hal ini terjadi? Hormon pertumbuhan sebagian besar dibuat saat mereka tidur, terutama di malam hari. Selain itu, latihan ini membantu pemulihan tubuh anak dan pembangunan otot dan jaringan pendukung.

  • Manfaat Tidur untuk Kecerdasan Anak

Penelitian menunjukkan bahwa tidur, terutama pada anak, dapat meningkatkan kewaspadaan, menurunkan stres, dan meningkatkan fungsi kognitif, seperti perhatian, memori, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Setelah tidur dan bangun dengan segar, si kecil sudah menyimpan energi untuk beraktivitas. Selain memberinya energi, tidur yang cukup membantunya menjadi lebih fokus, berkonsentrasi, dan menyaring lebih banyak informasi, yang berarti tidur membantu meningkatkan kecerdasan anak. Selain meningkatkan kecerdasan, tidur yang cukup dan berkualitas juga meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan kecemasan, dan menurunkan risiko masalah kesehatan lanjutan seperti obesitas. Performanya akademik anak dengan gangguan tidur sering menjadi masalah. Masalah tidur juga berdampak pada kesehatan mental anak.  Meskipun tidur sangat membantu perkembangan otak anak, Anda tidak harus menyuruh anak Anda tidur banyak untuk meningkatkan kecerdasannya. Banyak hal memengaruhi kecerdasan anak, bukan hanya tidur. Aktivitas bermain dan belajar, serta nutrisi yang baik, dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak.

  • Durasi Tidur yang Dibutuhkan Anak

Jumlah waktu yang dibutuhkan anak untuk tidur berbeda-beda di setiap tahapan usia mereka. Untuk mendukung pertumbuhannya, anak harus mengikuti jadwal tidur harian berikut:

– Bayi 0-2 bulan: 12-18 jam setiap hari, kurang lebih 8,5 jam tidur malam dan 7,5 jam tidur siang
– Bayi 3-11 bulan: 14-15 jam setiap hari, kurang lebih 11 jam tidur malam dan 7,5 jam tidur siang
– Balita 1-5 tahun: 12-14 jam, kurang lebih 10-11 jam tidur malam dan 2 jam tidur siang
– 10-17 tahun: 8-9 jam setiap hari

Jika waktu tidur anak tidak mencapai jumlah di atas, mereka dianggap mengalami penurunan kualitas tidur. Jika ini berlangsung terus-menerus, anak-anak dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, rewel, dan mengalami penurunan kemampuan untuk memproses dan mengingat data. Itu mempengaruhi kecerdasannya. Selain durasi, Anda juga harus memperhatikan kualitas tidur si kecil. Sering terbangun dan tidak nyenyak selama tidur akan mengganggu perkembangan anak.

  • Tips Penuhi Kebutuhan Tidur Anak

Ketahui Tanda si Kecil Mulai Mengantuk
Mungkin ada tanda-tanda yang berbeda pada anak-anak yang mengantuk, tetapi mereka biasanya menguap, mengusap mata, dan merasa gelisah. Jika Anda menemukan tanda-tanda ini pada anak Anda, ajaklah dia tidur.

Buat Jadwal Tidur
Untuk memenuhi kebutuhan tidur anak, buat jadwal tidur yang teratur agar anak tidak melewatkan jam tidurnya. Jadwal tidur yang teratur juga akan membantunya lebih rileks dan tidak lelah. Selain itu, perhatikan bagaimana anak Anda tidur siang. Anda harus membatasi jumlah waktu yang mereka tidur siang karena semakin lama mereka tidur siang, bisa berdampak pada seberapa baik mereka tidur malam.

– Ciptakan Suasana Tidur yang Nyaman
Untuk tidur dengan baik, anak harus memiliki tempat tidur yang nyaman. Pastikan suhu dan pencahayaan kamar anak sesuai; kamar terlalu gelap mungkin membuat tidak nyaman; dan gunakan lampu tidur dengan intensitas cahaya yang lebih redup. Untuk suhu kamar, aturlah agar tidak terlalu panas atau terlalu dingin; Anda juga bisa memasang aromaterapi, seperti lavender, untuk membuat suasana lebih santai dan tenang.

– Hindari Penggunaan Televisi dan Gadget Sebelum Tidur
Penggunaan perangkat elektronik atau menonton televisi sebelum tidur dapat mengganggu jadwal tidur si kecil karena mereka lebih suka menikmati tayangan atau permainan daripada tidur.

Hindari Makanan atau Minuman yang Manis atau Berkafein
Anda harus memperhatikan apa yang dimakan anak-anak sebelum tidur karena makanan atau minuman yang mengandung kafein atau gula dapat menyebabkan mereka sulit tidur. Untuk membantunya tidur lebih nyenyak, Anda bisa memberinya susu daripada makanan atau minuman seperti itu. Jika anak Anda masih minum susu formula, lanjutkan untuk memberinya sebelum tidur dan di tengah-tengah waktu sebelum tidur agar dia tetap terjaga dan tidur lebih lama. Sangat penting untuk memahami cara mengatur waktu tidur anak untuk memaksimalkan kecerdasannya. Konsultasikan dengan dokter anak jika anak menunjukkan tanda-tanda gangguan tidur, seperti sering terbangun, kesulitan memulai tidur, atau mengorok.

Tidur yang berkualitas dan cukup memainkan peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak, terutama dalam meningkatkan kecerdasan dan kesehatan fisik mereka. Dengan memahami pentingnya tidur serta menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan sehat, orang tua dapat membantu anak-anak tumbuh optimal secara fisik maupun mental. Ingatlah bahwa tidur bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kecerdasan, tetapi merupakan bagian penting dari pola hidup yang seimbang. Dengan memberikan perhatian khusus pada kebutuhan tidur anak, Anda sedang membantu mereka mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih cerah.


3DPotret 2025. All rights reserved.

WeCreativez WhatsApp Support
Tanya saja kak