Jam KerjaSenin - Sabtu 8:00 AM-4:00PMEMAIL:3dpotret@gmail.com
2.png
05/Aug/2025

Perkembangan motorik kasar adalah kemampuan anak untuk menggerakkan otot-otot besar tubuhnya, seperti kaki, tangan, dan batang tubuh. Kemampuan ini sangat fundamental karena menjadi dasar bagi aktivitas fisik dan kemandirian anak. Mengenali tahapan perkembangannya membantu orang tua memberikan stimulasi yang tepat dan mendeteksi dini jika ada keterlambatan.

Tahapan Penting Perkembangan Motorik Kasar:

  • Usia 0-3 Bulan: Bayi mulai mengangkat kepala saat tengkurap, menggerakkan lengan dan kaki secara acak, dan memegang mainan dengan genggaman refleks.
  • Usia 4-6 Bulan: Bayi sudah bisa berguling dari telentang ke tengkurap dan sebaliknya, duduk dengan bantuan, dan menahan kepala dengan lebih stabil.
  • Usia 7-9 Bulan: Sebagian besar bayi sudah bisa duduk tanpa bantuan, mulai merangkak, dan mencoba berdiri dengan berpegangan.
  • Usia 10-12 Bulan: Anak mulai merambat, berdiri tanpa bantuan, dan mungkin sudah mulai melangkah beberapa langkah pertama. Ini adalah fase penting menuju kemandirian berjalan.
  • Usia 13-18 Bulan: Sebagian besar anak sudah bisa berjalan sendiri, menaiki tangga dengan berpegangan, dan menendang bola kecil.
  • Usia 19-24 Bulan: Anak semakin lancar berjalan, mulai berlari dengan canggung, melompat dengan dua kaki, dan menaiki tangga tanpa berpegangan.
  • Usia 2-3 Tahun: Keterampilan motorik kasar semakin berkembang pesat. Anak bisa berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi, mengayuh sepeda roda tiga, dan melempar bola.

Tips Stimulasi: Berikan ruang aman untuk bergerak, ajak bermain di luar ruangan, dorong aktivitas seperti merangkak dan berjalan, serta sediakan mainan yang merangsang gerakan seperti bola. Jika Anda merasa khawatir tentang perkembangan motorik anak, segera konsultasikan dengan dokter anak atau ahli tumbuh kembang.

 


1.png
05/Aug/2025

Kehamilan seringkali dipandang sebagai perjalanan eksklusif bagi ibu, namun peran ayah tak kalah vital dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung. Keterlibatan ayah sejak awal kehamilan bukan hanya meringankan beban ibu, tetapi juga membangun ikatan emosional yang kuat dengan calon buah hati.

Bagaimana Ayah Bisa Berperan Aktif?

  • Dukungan Emosional: Dengarkan keluh kesah ibu, berikan kata-kata penyemangat, dan tunjukkan pengertian terhadap perubahan suasana hati. Kehamilan membawa fluktuasi emosi yang besar, dan kehadiran ayah sebagai pendengar setia sangat berarti.
  • Mendampingi Pemeriksaan Rutin: Hadir saat kunjungan dokter atau bidan tidak hanya menunjukkan dukungan, tetapi juga membantu ayah memahami perkembangan janin dan saran medis yang diberikan. Ini juga kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan berpartisipasi dalam setiap keputusan.
  • Membantu Kebutuhan Fisik Ibu: Tawarkan bantuan untuk pekerjaan rumah tangga, pijat ringan untuk meredakan nyeri punggung atau kaki bengkak, dan pastikan ibu mendapatkan istirahat yang cukup. Sedikit bantuan fisik bisa sangat mengurangi kelelahan ibu.
  • Mempelajari Seputar Kehamilan dan Persalinan: Bacalah buku, ikuti kelas prenatal bersama, atau tonton video edukasi. Pengetahuan ini akan membuat ayah lebih siap menghadapi persalinan dan peran sebagai orang tua.
  • Berbicara dengan Bayi dalam Kandungan: Ajak bayi berbicara, bacakan cerita, atau putar musik. Janin bisa mendengar suara dari luar, dan interaksi ini membantu membangun ikatan awal antara ayah dan bayi.
  • Merencanakan Masa Depan Bersama: Diskusikan persiapan kamar bayi, anggaran, dan peran masing-masing setelah bayi lahir. Perencanaan bersama mengurangi stres dan meningkatkan rasa kebersamaan.

Melibatkan diri secara aktif dalam kehamilan akan memperkuat hubungan pasangan dan menciptakan fondasi yang kokoh untuk keluarga baru.

 


magang-5.png
02/Aug/2025

Kehamilan adalah masa perubahan besar, baik fisik maupun emosional. Tidak jarang ibu hamil mengalami stres, baik karena perubahan hormon, kekhawatiran tentang persalinan, atau adaptasi peran baru. Namun, stres berlebihan yang berkepanjangan dapat berdampak negatif pada kesehatan ibu dan perkembangan janin.

Bagaimana cara mengelola stres selama kehamilan?

  • Identifikasi Pemicu Stres: Kenali apa yang membuat Anda merasa cemas atau stres, lalu cari cara untuk menghadapinya atau menghindarinya jika memungkinkan.
  • Berbagi Perasaan: Jangan memendam kekhawatiran Anda. Berbicaralah dengan pasangan, teman dekat, keluarga, atau bahkan profesional kesehatan. Berbagi beban bisa sangat membantu.
  • Istirahat Cukup: Kelelahan dapat memperburuk stres. Usahakan untuk tidur 7-9 jam setiap malam dan luangkan waktu untuk beristirahat di siang hari jika memungkinkan.
  • Berolahraga Ringan: Aktivitas fisik seperti berjalan kaki ringan, yoga prenatal, atau berenang dapat membantu melepaskan endorfin yang meningkatkan suasana hati. Pastikan aktivitas ini aman untuk kehamilan Anda.
  • Menerapkan Teknik Relaksasi: Coba meditasi, latihan pernapasan dalam, atau mendengarkan musik menenangkan. Aplikasi meditasi atau kelas yoga prenatal bisa sangat membantu.
  • Makan Makanan Sehat: Nutrisi yang baik tidak hanya penting untuk bayi, tetapi juga dapat memengaruhi suasana hati Anda.
  • Batasi Informasi Negatif: Hindari terlalu banyak membaca atau menonton berita yang bisa memicu kecemasan.
  • Siapkan Diri untuk Persalinan: Mengikuti kelas prenatal dapat membantu Anda merasa lebih siap dan mengurangi kekhawatiran tentang proses persalinan.

 


magang-4.png
02/Aug/2025

Imunisasi adalah salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam mencegah penyakit menular berbahaya pada anak-anak. Melalui imunisasi, sistem kekebalan tubuh anak dilatih untuk mengenali dan melawan virus atau bakteri penyebab penyakit tertentu, sehingga memberikan perlindungan maksimal.

Mengapa imunisasi itu penting?

  • Mencegah Penyakit Serius: Imunisasi melindungi anak dari penyakit yang berpotensi fatal seperti campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, dan hepatitis B.
  • Melindungi Komunitas: Ketika sebagian besar populasi diimunisasi, terbentuklah kekebalan kelompok (herd immunity) yang melindungi bayi yang terlalu muda untuk diimunisasi atau orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
  • Mengurangi Risiko Komplikasi: Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seringkali memiliki komplikasi serius seperti pneumonia, kerusakan otak, kelumpuhan, bahkan kematian.
  • Menghemat Biaya Kesehatan: Mencegah penyakit melalui imunisasi jauh lebih hemat daripada mengobati penyakit tersebut dan komplikasinya.

Pastikan anak Anda mendapatkan jadwal imunisasi lengkap sesuai rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) atau Kementerian Kesehatan. Jangan mudah percaya pada informasi yang tidak benar mengenai imunisasi. Konsultasikan selalu dengan dokter anak untuk mendapatkan informasi yang akurat dan memastikan anak Anda terlindungi.

 


magang-3.png
02/Aug/2025

Stimulasi tumbuh kembang anak tidak selalu membutuhkan mainan mahal atau alat canggih. Interaksi aktif dan berkualitas dari orang tua adalah kunci utama. Masa balita adalah periode emas di mana otak anak berkembang sangat pesat, sehingga stimulasi yang tepat akan membentuk dasar yang kuat untuk kemampuan kognitif, motorik, sosial, dan emosionalnya.

Bagaimana cara stimulasi yang efektif?

  • Ajak Berbicara dan Bernyanyi: Sejak bayi, ajak anak berbicara tentang apa pun, bacakan buku, dan nyanyikan lagu. Ini membantu perkembangan bahasa dan kemampuan komunikasi.
  • Permainan Interaktif: Bermain adalah cara anak belajar. Permainan sederhana seperti cilukba, menyusun balok, atau bermain peran dapat mengembangkan kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan motorik halus.
  • Memberikan Kesempatan Bereksplorasi: Biarkan anak menjelajahi lingkungan yang aman. Ini mendorong rasa ingin tahu dan melatih keterampilan motorik kasar.
  • Libatkan dalam Kegiatan Sehari-hari: Ajak anak membantu kegiatan rumah tangga sederhana sesuai usianya. Ini melatih kemandirian dan tanggung jawab.
  • Membaca Buku Bersama: Membaca sejak dini menumbuhkan minat baca, memperkaya kosakata, dan mempererat ikatan emosional.
  • Memperkenalkan Warna dan Bentuk: Ajarkan anak tentang warna dan bentuk melalui benda-benda di sekitarnya.
  • Mendorong Interaksi Sosial: Jika memungkinkan, ajak anak bertemu dengan anak-anak lain untuk melatih keterampilan sosial dan berbagi.

magang-2-1.png
02/Aug/2025

Setiap kehamilan itu unik, namun ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai karena bisa mengindikasikan masalah serius. Mengenali tanda bahaya kehamilan sejak dini sangat penting untuk segera mendapatkan penanganan medis dan memastikan keselamatan ibu serta bayi.

Kapan Anda harus segera mencari pertolongan medis?

  • Pendarahan Vaginal: Pendarahan dalam jumlah berapa pun, terutama yang disertai nyeri, harus segera diperiksakan. Ini bisa menjadi tanda keguguran, kehamilan ektopik, atau masalah plasenta.
  • Nyeri Perut Hebat atau Kram: Nyeri yang intens dan menetap, terutama di trimester kedua atau ketiga, bisa menjadi tanda persalinan prematur, solusio plasenta, atau masalah lain.
  • Sakit Kepala Hebat yang Tidak Mereda: Jika disertai penglihatan kabur, mual, atau bengkak pada wajah dan tangan, ini bisa menjadi gejala preeklampsia.
  • Pembengkakan Mendadak pada Wajah, Tangan, dan Kaki: Pembengkakan berlebihan dan tiba-tiba, terutama jika disertai gejala lain seperti sakit kepala, juga bisa menjadi tanda preeklampsia.
  • Demam Tinggi (di atas 38°C): Demam bisa menjadi tanda infeksi yang memerlukan penanganan segera.
  • Penurunan Gerakan Janin yang Signifikan: Jika Anda merasa bayi bergerak lebih sedikit dari biasanya, atau tidak bergerak sama sekali, segera hubungi dokter.
  • Pecah Ketuban Sebelum Waktunya: Meskipun tidak ada kontraksi, keluarnya cairan dari vagina yang bukan urine, terutama jika berjumlah banyak, perlu segera diperiksakan.

 


tugas-magang.png
02/Aug/2025

Masa kehamilan adalah periode krusial di mana asupan nutrisi ibu hamil sangat memengaruhi tumbuh kembang janin. Memenuhi kebutuhan gizi seimbang bukan hanya penting untuk kesehatan ibu, tetapi juga menjadi bekal terbaik bagi bayi yang akan lahir.

Apa saja nutrisi yang wajib dipenuhi?

  • Asam Folat: Sangat vital di awal kehamilan untuk mencegah cacat lahir pada otak dan sumsum tulang belakang bayi. Sumbernya bisa didapat dari sayuran hijau gelap, kacang-kacangan, dan sereal yang difortifikasi.
  • Zat Besi: Mencegah anemia pada ibu dan mendukung pembentukan sel darah merah pada janin. Daging merah tanpa lemak, bayam, dan lentil adalah pilihan yang baik.
  • Kalsium: Penting untuk pembentukan tulang dan gigi janin yang kuat, serta menjaga kesehatan tulang ibu. Susu, yogurt, keju, dan brokoli kaya akan kalsium.
  • Protein: Mendukung pertumbuhan sel dan jaringan janin. Daging, ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan adalah sumber protein berkualitas.
  • Vitamin D: Membantu penyerapan kalsium dan penting untuk sistem kekebalan tubuh. Paparan sinar matahari pagi dan ikan berlemak seperti salmon adalah sumbernya.

Selain itu, pastikan asupan karbohidrat kompleks untuk energi dan serat untuk mencegah sembelit. Konsumsi air putih yang cukup juga sangat dianjurkan. Hindari makanan mentah atau setengah matang, makanan tinggi gula dan lemak jenuh, serta kafein berlebihan.


Memahami-Alergi-pada-Anak-Gejala-Penyebab-dan-Penanganannya.png
29/Jul/2025

Alergi pada anak merupakan kondisi yang kerap kali bersifat genetik. Artinya, risiko anak mengalami alergi akan meningkat jika salah satu atau kedua orang tuanya, atau bahkan anggota keluarga lainnya, memiliki riwayat alergi tertentu, seperti asma, eksim, atau rhinitis alergi. Faktor keturunan ini berperan besar dalam menentukan sensitivitas tubuh anak terhadap berbagai alergen.

Alergen sendiri merupakan zat pemicu alergi, dan pada anak-anak, jenisnya bisa sangat beragam. Beberapa jenis alergen yang umum memicu reaksi alergi antara lain:

  • Makanan tertentu seperti kacang-kacangan, susu, telur, ikan, dan makanan laut
  • Bahan iritan seperti debu, asap rokok, polusi udara, serta aroma menyengat dari parfum
  • Zat yang berasal dari hewan dan tumbuhan, seperti bulu hewan peliharaan, gigitan serangga, dan serbuk sari tanaman
  • Bahan kimia yang terdapat dalam detergen, pembersih rumah tangga, dan pestisida
  • Obat-obatan, terutama jenis antibiotik

 

Gejala Alergi pada Anak: Dari Ringan hingga Berat

Reaksi alergi pada anak bisa muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah terpapar alergen. Tingkat keparahannya pun bervariasi, mulai dari gejala ringan hingga yang berpotensi membahayakan nyawa atau dikenal sebagai syok anafilaktik.

 

Gejala alergi ringan biasanya meliputi:

  • Pembengkakan pada wajah, kelopak mata, atau bibir
  • Bersin, batuk, dan hidung berair
  • Gatal-gatal pada kulit
  • Munculnya ruam dan bentol-bentol di permukaan kulit
  • Keluhan pencernaan seperti muntah, sakit perut, dan diare

 

Sementara itu, gejala alergi berat atau syok anafilaktik bisa dikenali melalui tanda-tanda seperti:

  • Nyeri pada dada
  • Tekanan darah yang menurun drastis
  • Pembengkakan di lidah atau tenggorokan
  • Kesulitan bernapas, napas berbunyi, atau sesak
  • Sulit berbicara atau suara berubah menjadi serak
  • Hilang kesadaran atau pingsan

Karena batuk dan pilek akibat alergi sering menyerupai gejala flu, penting untuk memperhatikan perbedaannya. Gejala alergi umumnya tidak disertai demam, tidak seperti flu yang sering kali disertai suhu tubuh meningkat. Pada kasus alergi berat, gejala ringan biasanya muncul terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh gejala yang lebih serius.

 

Cara Mengetahui dan Menangani Alergi Anak dengan Tepat

Untuk memastikan penyebab alergi, dokter akan merekomendasikan serangkaian pemeriksaan. Dua metode yang umum digunakan adalah tes darah dan uji tusuk kulit. Tes darah berfungsi untuk menilai tingkat respons antibodi IgE terhadap zat alergen. Sedangkan uji tusuk kulit dilakukan dengan meneteskan sejumlah kecil alergen ke kulit dan melihat reaksinya, biasanya dilakukan saat kondisi anak sedang stabil.

Selain pemeriksaan medis, orang tua juga dianjurkan untuk memperhatikan pola munculnya gejala setelah anak mengonsumsi makanan tertentu. Makanan laut, telur, susu, dan kacang adalah beberapa jenis yang perlu diwaspadai. Catatan mengenai reaksi tubuh anak terhadap jenis makanan ini dapat sangat membantu dalam proses diagnosis alergi.

Untuk mengatasi alergi ringan, dokter biasanya akan meresepkan obat-obatan seperti:

  • Antihistamin, yang bekerja menghambat pelepasan histamin dalam tubuh, zat yang menyebabkan reaksi alergi
  • Kortikosteroid, yang membantu mengurangi peradangan
  • Dekongestan, untuk meredakan hidung tersumbat atau pilek yang berkaitan dengan alergi

 

Namun jika anak menunjukkan gejala alergi berat, tindakan medis segera sangat diperlukan. Keterlambatan penanganan bisa berakibat fatal, terutama dalam kasus syok anafilaktik.

Selain memberikan penanganan ketika alergi muncul, upaya pencegahan juga memegang peranan penting. Orang tua perlu menjaga agar anak tidak kontak langsung atau tidak sengaja terpapar alergen pemicu, baik melalui makanan, udara, maupun benda-benda di sekitar rumah.

Dengan pemahaman yang tepat mengenai penyebab, gejala, dan cara penanganannya, orang tua dapat lebih sigap dalam melindungi anak dari risiko alergi yang mungkin muncul, sekaligus memastikan kualitas hidupnya tetap terjaga dengan baik.


Perkembangan-Motorik-Balita-Usia-1–5-Tahun-Panduan-Lengkap-Tanpa-Basa-Basi.png
21/Jul/2025

Perkembangan motorik pada balita mencakup dua aspek utama: motorik kasar (gerakan besar, seperti berjalan, berlari) dan motorik halus (gerakan detail menggunakan tangan dan jari). Berikut uraian lengkapnya usia per usia:

Usia 1–2 Tahun

Motorik Kasar

  • Sekitar usia 12 bulan, anak mulai berdiri sendiri, belajar berjalan penuh di usia 18 bulan.
  • Menjelang usia 2 tahun, kemampuan meningkat: berlari, melompat, menendang, bahkan melempar bola.

Motorik Halus

  • Pada 1 tahun, anak bisa meraih dan menggenggam benda dengan tangan, meski masih belajar memasukkan mainan ke dalam kotak.
  • Menjelang 2 tahun, ia mampu menyusun balok hingga enam tingkat dan membuka lembaran buku.

 

Usia 2–3 Tahun

Motorik Kasar

  • Di usia 24 bulan, anak sudah mahir berlari, berjalan mundur, melompat, dan mengambil benda sambil jongkok.
  • Saat 30 bulan, ia mulai bisa menopang tubuh dengan satu kaki selama 1–2 detik.

Motorik Halus

  • Anak gemar mencoret-coret dan coretannya mulai jelas, menunjukkan koordinasi mata-jari yang baik.
  • Di usia 2,5 tahun, bisa menyusun balok hingga delapan Tingkat.

 

Usia 3–4 Tahun

Motorik Kasar

  • Di awal usia 3 tahun, anak bisa menyeimbangkan tubuh dengan angkat satu kaki sekitar 1–3 detik dan memanjat serta berlari dengan lancer.
  • Mereka kerap naik turun tangga sendiri dan melompat dengan lincah.

Motorik Halus

  • Ketertarikan pada coretan lanjutan muncul: anak mulai meniru bentuk sederhana seperti kotak, segitiga, hingga menggambar manusia dengan bagian tubuh lengkap pada usia 42–45 bulan.
  • Cara memegang alat tulis semakin tepat dan ia bisa menyusun menara balok dengan enam–delapan susun.

Usia 4–5 Tahun

Motorik Kasar

  • Anak kini mampu menjaga keseimbangan saat berlari, melompat sambil berjalan, dan menopang satu kaki 1–4 detik.
  • Imajinasi berkombinasi dengan gerakan, seperti berpura-pura menggiring bola.

Motorik Halus

  • Di usia ini, ia mampu menggunting mengikuti pola, meniru gambar manusia lengkap, dan menggunakan sendok saat makan.
  • Kemandirian makin meningkat: makan menjadi lebih teratur, aktivitas menulis dan menggambar makin kompleks.

Masalah Umum dan Penyebab

  • Keterlambatan berjalan dapat diakibatkan oleh faktor genetik, gangguan neurologis (hipotonia, dysmorphic), malnutrisi, trauma, hingga kebiasaan membatasi ruang gerak anak.
  • Infeksi seperti meningitis atau ensefalitis, serta kekurangan nutrisi seperti vitamin D, kalsium, dan fosfat juga ikut memengaruhi.

 

Tips Mendukung Perkembangan Motorik

Usia 1–2 tahun

  • Ajak ke ruang luas seperti taman, tempatkan mainan sedikit jauh untuk memancing anak berjalan atau merangkak sambil pandu arah (kanan atau kiri).
  • Dorong motorik halusnya dengan memfasilitasi menggambar; anak usia 1–2 tahun sangat antusias dengan warna dan coretan.

Usia 3–5 tahun

  • Berikan kegiatan kreatif: bermain lilin atau tanah liat, menggambar, menggunakan spons dan pipet, berkebun, memberi makan burung, menulis dengan alat tulis seru, mencuci kaus kaki, serta menyusun kancing.
  • Rintangan sederhana, olahraga ringan, timpaan tangga, atau gymnastic untuk menyalurkan energi sekaligus melatih keseimbangan dan kekuatan tubuh.

Setiap tahap pertumbuhan usia 1–5 tahun diiringi kemajuan dari berdiri dan menggenggam hingga keseimbangan kompleks dan keterampilan halus yang terkoordinasi. Perbedaan tempo tiap anak itu wajar; jika ada keterlambatan signifikan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak. Stimulasi aktif, kreatif, dan menyenangkan sesuai usia sangat membantu mendukung perkembangan motorik optimal pada anak.


Kenali-7-Penyakit-Kulit-yang-Umum-Terjadi-pada-Anak-dan-Cara-Mengatasinya.png
15/Jul/2025

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga rentan mengalami berbagai jenis penyakit kulit. Kulit anak yang masih sensitif membuatnya lebih mudah bereaksi terhadap berbagai pemicu seperti udara kering, infeksi, alergi, kuman, hingga iritasi. Reaksi ini dapat memicu berbagai kondisi, mulai dari yang ringan hingga yang memerlukan penanganan medis serius.

Sebagian penyakit kulit dapat sembuh dengan perawatan mandiri di rumah, tetapi ada pula yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan khusus dari dokter. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali jenis-jenis penyakit kulit yang sering menyerang anak serta cara mengatasinya.

  1. Eksim (Dermatitis Atopik)
    Eksim merupakan peradangan kulit yang ditandai dengan ruam merah dan rasa gatal. Dalam beberapa kasus, ruam dapat disertai pembengkakan, luka terbuka, hingga infeksi kulit. Lokasi yang paling sering terdampak adalah wajah, siku, bagian belakang lutut, tangan, dan kaki.

Penanganan:
Biasanya dokter akan merekomendasikan penggunaan pelembap khusus dan sabun lembut yang diformulasikan untuk kulit sensitif. Namun, karena setiap anak memiliki kondisi kulit yang berbeda, perawatan yang cocok untuk satu anak belum tentu efektif untuk anak lain. Konsultasi medis tetap diperlukan agar penanganan sesuai dengan kebutuhan spesifik anak.

  1. Biduran (Urtikaria)
    Biduran muncul dalam bentuk ruam merah yang terasa gatal dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti gigitan serangga, alergi, stres, infeksi, atau perubahan suhu.

Penanganan:
Pemberian antihistamin terbukti efektif meredakan gejala dalam waktu singkat. Namun, bila anak menunjukkan gejala serius seperti kesulitan bernapas, segera bawa ke instalasi gawat darurat untuk mendapatkan penanganan intensif.

  1. Infeksi Jamur
    Kulit anak yang sering berkeringat atau lembap rentan terkena infeksi jamur. Gejalanya meliputi ruam merah disertai rasa gatal yang dapat mengganggu kenyamanan dan aktivitas harian.

Penanganan:
Dokter biasanya akan meresepkan krim antijamur dan jika diperlukan, obat dalam bentuk sirup. Kebersihan kulit anak harus selalu dijaga agar infeksi tidak kambuh kembali.

  1. Impetigo
    Impetigo merupakan infeksi kulit menular akibat bakteri, yang ditandai dengan luka berisi cairan atau nanah dan keropeng kekuningan, terutama pada area wajah.

Penanganan:
Penggunaan antibiotik sangat diperlukan untuk mengatasi infeksi ini. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan dosis dan jenis antibiotik yang tepat, serta pastikan pengobatan dilakukan hingga tuntas guna mencegah resistensi antibiotik.

  1. Kutil
    Kutil adalah benjolan kecil yang tumbuh di kulit akibat infeksi human papilloma virus (HPV). Kutil dapat muncul di berbagai bagian tubuh dan menyebar melalui kontak langsung.

Penanganan:
Sebagian besar kutil pada anak dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Namun, jika tidak kunjung sembuh atau semakin mengganggu, konsultasikan ke dokter untuk tindakan medis lebih lanjut.

  1. Roseola
    Roseola disebabkan oleh infeksi virus yang diawali dengan demam tinggi, kemudian diikuti munculnya ruam pada kulit, terutama di bagian lengan atas dan leher. Ruam ini biasanya tidak gatal dan memudar dalam waktu sekitar 24 jam.

Penanganan:
Untuk meredakan demam, orang tua dapat memberikan asetaminofen sesuai dosis yang dianjurkan. Ruamnya sendiri umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus karena akan hilang dengan sendirinya.

  1. Cacar Air (Varisela)
    Cacar air adalah penyakit menular akibat virus varicella zoster. Gejalanya berupa ruam merah yang berkembang menjadi lepuh berisi cairan, disertai rasa gatal, dan dapat menyebar ke seluruh tubuh.

Penanganan:
Dokter akan memberikan antivirus serta obat tambahan untuk meredakan gejala. Selama masa penyembuhan, anak perlu tetap di rumah untuk mencegah penularan ke orang lain.

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
Gejala seperti ruam, kemerahan, atau pembengkakan pada kulit anak memang umum terjadi. Namun, bila gejala berlangsung lama, memburuk, atau disertai tanda-tanda serius seperti demam tinggi atau gangguan pernapasan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter. Diagnosis yang tepat dan penanganan dini dapat mencegah komplikasi lebih lanjut serta mempercepat pemulihan anak.


3DPotret 2025. All rights reserved.

WeCreativez WhatsApp Support
Tanya saja kak