Jam KerjaSenin - Sabtu 8:00 AM-4:00PMEMAIL:3dpotret@gmail.com
Cara-Efektif-Mengatasi-Pilek-pada-Anak-Kecil-agar-Tidak-Semakin-Parah.png
07/Jul/2025

Sistem kekebalan tubuh anak yang belum matang membuat mereka lebih mudah terserang penyakit, terutama saat cuaca tak menentu yang mendorong penyebaran virus dan bakteri. Salah satu penyakit yang kerap menyerang anak adalah pilek. Kondisi ini biasanya ditandai dengan keluarnya cairan bening dari hidung atau ingus, yang dalam waktu sekitar seminggu bisa berubah menjadi kuning atau hijau.

Meski tampak mengganggu, ingus sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan kuman. Namun, jika jumlahnya berlebihan dan menyumbat hidung, bisa menimbulkan gangguan pernapasan pada anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui cara-cara yang dapat membantu meredakan pilek dan membuat anak merasa lebih nyaman.

 

Langkah-Langkah Meredakan Pilek pada Anak

  1. Istirahat yang Cukup

Istirahat merupakan kunci utama dalam membantu pemulihan anak saat pilek. Kurangnya waktu tidur atau istirahat bisa membuat tubuh anak semakin lemah dan memperpanjang proses penyembuhan. Pastikan anak beristirahat dengan cukup selama masa sakit.

  1. Gunakan Pelembap Udara

Menggunakan pelembap udara di ruangan anak dapat membantu menghangatkan udara dan melunakkan lendir di dalam hidung. Udara yang lembap dan hangat juga membantu membuka rongga hidung, sehingga pernapasan menjadi lebih lega.

  1. Semprot Hidung dengan Larutan Saline

Larutan saline dapat membantu mengencerkan lendir dan meredakan sumbatan hidung. Semprotkan larutan ke dalam hidung anak sebanyak dua hingga tiga kali sambil anak dibaringkan. Lendir biasanya akan keluar melalui bersin atau batuk setelahnya.

  1. Gunakan Penyedot Ingus

Alat penyedot ingus atau bulb syringe dapat digunakan jika ingus tidak juga keluar setelah menggunakan saline. Alat ini sangat berguna, terutama bagi bayi di bawah usia enam bulan, karena dapat mempercepat pengeluaran lendir dan membantu anak bernapas lebih lega.

  1. Perhatikan Posisi Tidur

Mengatur posisi kepala anak sedikit lebih tinggi daripada tubuhnya ketika tidur dapat membantu pernapasan. Posisi ini juga mencegah lendir menumpuk di saluran hidung.

  1. Cukupi Asupan Cairan

Pastikan anak mendapat cukup cairan untuk membantu proses penyembuhan. Untuk bayi di bawah satu tahun, berikan ASI sesering mungkin. Sementara untuk anak yang lebih besar, berikan air hangat, bisa dicampur sedikit madu. Cairan hangat membantu mengencerkan lendir dan membuat anak lebih mudah bernapas.

 

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?

Meskipun pilek biasanya sembuh dalam waktu satu minggu, ada kalanya gejala yang muncul menunjukkan kondisi yang lebih serius. Segera konsultasikan ke dokter jika anak mengalami:

  • Batuk dengan banyak lendir
  • Kesulitan bernapas
  • Kelelahan yang luar biasa
  • Hilangnya nafsu makan
  • Sakit kepala
  • Nyeri di wajah atau tenggorokan hingga sulit menelan
  • Demam di atas 39,3°C
  • Nyeri di dada atau perut
  • Pembengkakan kelenjar di leher
  • Sakit telinga

 

Mengenali gejala awal dan melakukan perawatan dengan tepat dapat membantu anak lebih cepat pulih dari pilek. Jika kondisi tidak kunjung membaik atau justru memburuk, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis.


Waspadai-dan-Tangani-Diare-pada-Balita-dengan-Tepat.png
03/Jul/2025

Diare merupakan gangguan kesehatan yang sangat umum terjadi pada siapa saja. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diare adalah kondisi di mana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek hingga cair, bahkan bisa berupa air saja, dan terjadi lebih sering dari biasanya, yakni tiga kali atau lebih dalam sehari.

Jika berlangsung kurang dari 14 hari, kondisi ini dikategorikan sebagai diare akut. Namun jika lebih dari 14 hari, maka disebut sebagai diare kronis atau persisten. Penting pula untuk memahami tingkat keparahan dehidrasi akibat diare, terutama pada balita, karena kehilangan cairan dapat membahayakan jiwa.

 

Tiga Tingkat Dehidrasi Akibat Diare:

  1. Diare Tanpa Dehidrasi

Balita masih tampak aktif, tetap ingin minum seperti biasa, matanya tidak cekung, dan elastisitas kulit (turgor) kembali dengan cepat. Kehilangan cairan diperkirakan kurang dari 5% dari berat badannya.

  1. Diare dengan Dehidrasi Ringan hingga Sedang

Balita terlihat gelisah atau rewel, matanya cekung, merasa lebih haus dari biasanya, turgor kulit kembali agak lambat, dan kehilangan cairan antara 5-10% dari berat badan.

  1. Diare dengan Dehidrasi Berat

Balita tampak sangat lemas atau lunglai, mata sangat cekung, malas minum, turgor kulit kembali sangat lambat (lebih dari dua detik), dan kehilangan cairan melebihi 10% dari berat badan.

 

Penyebab Diare dan Faktor Risiko

Penyebab utama diare adalah infeksi oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan parasit. Penularannya terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta kontak langsung dengan tinja penderita. Risiko meningkat bila kebersihan lingkungan buruk atau daya tahan tubuh rendah. Pada bayi, kurangnya pemberian ASI hingga usia dua tahun membuat mereka lebih rentan karena kehilangan perlindungan antibodi alami. Anak yang mengalami malnutrisi atau gizi buruk juga lebih mudah terserang diare.

Diare sangat erat kaitannya dengan perilaku manusia dan kondisi lingkungan. Penyakit ini seringkali muncul karena kontaminasi air atau sanitasi yang buruk, terutama jika ditambah dengan kebiasaan hidup tidak higienis.

 

 

 

Langkah Pencegahan dan Penanganan Diare di Rumah

Untuk mencegah dehidrasi akibat diare pada balita, beberapa tindakan dapat dilakukan secara mandiri di rumah:

  • Tingkatkan frekuensi dan durasi pemberian ASI.
  • Berikan larutan oralit untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh hingga diare berhenti.
  • Konsumsi tablet zinc setiap hari selama sepuluh hari berturut-turut, meskipun diare sudah mereda. Zinc membantu mengurangi tingkat keparahan, durasi, dan mencegah kambuhnya diare dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
  • Berikan cairan yang mudah dijangkau seperti air putih, kuah sayur, atau sup.
  • Segera bawa balita ke fasilitas kesehatan apabila kondisi tidak membaik.

 

Panduan Pemberian Makan Berdasarkan Usia

  • 0–6 bulan: Berikan ASI eksklusif sesuai kebutuhan bayi, setidaknya delapan kali sehari. Hindari pemberian makanan atau minuman selain ASI.
  • 6–24 bulan: Lanjutkan pemberian ASI dan mulai berikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang lunak seperti bubur, susu, atau buah seperti pisang.
  • 9–12 bulan: Tambahkan MPASI dengan tekstur yang lebih padat seperti nasi tim dan bubur nasi yang dicampur protein hewani atau nabati seperti telur, ayam, ikan, tempe, wortel, atau kacang hijau.
  • 12–24 bulan: Teruskan pemberian ASI dan perkenalkan makanan keluarga secara bertahap sesuai kemampuan anak.
  • 2 tahun ke atas: Berikan makanan keluarga tiga kali sehari dengan porsi sepertiga hingga setengah porsi orang dewasa, serta makanan selingan bergizi dua kali sehari.

 

Anjuran Makan untuk Diare Persisten

  • Jika anak masih menyusu ASI, tingkatkan frekuensinya di pagi, siang, dan malam.
  • Jika anak mengonsumsi susu formula atau susu lain, kurangi takarannya dan prioritaskan ASI. Gantilah sebagian susu dengan bubur nasi yang ditambah tempe.
  • Hindari pemberian susu kental manis.
  • Untuk makanan lainnya, sesuaikan dengan panduan berdasarkan kelompok umur.

Memahami gejala, penyebab, dan penanganan diare secara tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius pada balita. Lingkungan bersih, pemberian ASI yang cukup, dan pola makan sehat merupakan kunci utama dalam menjaga kesehatan pencernaan anak.


Merespons-dengan-Cinta-Seni-Memberi-MPASI-Sesuai-Tanda-Tanda-Anak.jpg
09/Jun/2025

Memasuki fase Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) adalah salah satu babak penting dalam tumbuh kembang anak yang membutuhkan perhatian penuh dari orang tua. Bukan sekadar memberi makan, proses ini menuntut pemahaman mendalam tentang kebutuhan dan sinyal yang diberikan si kecil. Salah satu pendekatan yang disarankan dalam dunia kesehatan anak adalah metode responsive feeding, suatu cara memberi makan yang memperhatikan aspek 5W+1H: apa, kapan, di mana, mengapa, siapa, dan bagaimana pemberian makanan dilakukan.

Dalam prinsip responsive feeding, orang tua diajak untuk lebih peka terhadap respons anak terhadap makanan. Setiap kali anak menelan, menolak, atau bahkan memalingkan wajah, itu bukan sekadar tingkah laku biasa, melainkan bentuk komunikasi yang menunjukkan kesiapan atau penolakan terhadap makanan. Pendekatan ini menolak praktik pemaksaan makan. Sebaliknya, orang tua perlu memahami isyarat lapar dan kenyang anak, sehingga makanan diberikan dengan cara dan waktu yang sesuai dengan kondisi fisiologis si kecil. Dengan begitu, risiko makan berlebihan atau overfeeding yang berujung pada obesitas pun dapat dihindari.

 

Metode ini tidak hanya membentuk pola makan yang sehat, tetapi juga membentuk dasar disiplin dalam kehidupan anak. Jadwal makan yang konsisten akan melatih anak mengenali rasa lapar dan waktu makan secara alami. Anak pun belajar menghargai makanan dan mengenali kapan tubuhnya memintanya untuk makan.

Pada usia sekitar enam bulan, saat MPASI diperkenalkan, penting bagi orang tua untuk menyuapi anak dengan penuh kasih dan kegembiraan. Suasana yang menyenangkan akan menciptakan asosiasi positif antara makan dan perasaan bahagia. Sebaliknya, apabila anak diberikan makanan dengan cara yang memaksa atau menakutkan, pengalaman makan bisa menjadi traumatis. Pengalaman negatif ini bisa berakar dalam memori anak dan terbawa hingga ia dewasa.

Saat anak menolak makan  jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia sedang ‘rewel’. Penolakan bisa disebabkan oleh hal-hal sederhana namun signifikan: mungkin waktu antara camilan dan makan utama terlalu dekat, anak sedang mengantuk, mood-nya sedang tidak baik, merasa tidak nyaman karena popok penuh, atau sedang mengalami pertumbuhan gigi yang menyakitkan. Di sinilah kepekaan orang tua benar-benar diuji. Anak yang belum mampu berbicara mengandalkan bahasa tubuhnya untuk menyampaikan ketidaknyamanan, dan tugas orang tua lah untuk memahami isyarat itu.

 

Faktor lain yang mendukung keberhasilan responsive feeding adalah keberagaman dalam menu dan penyajian makanan. Anak, meski masih sangat kecil, bisa mengalami kebosanan apabila disuguhi makanan yang sama terus-menerus. Maka, penting untuk menciptakan variasi rasa, warna, dan tekstur makanan. Penggunaan gula dan garam diperbolehkan dalam jumlah terbatas, asalkan tidak berlebihan dan tetap mempertahankan nilai gizi.

Penggunaan alat makan pun tidak boleh dianggap sepele. Peralatan yang digunakan harus bersih dan tepat, tidak hanya demi kebersihan, tetapi juga agar anak merasa nyaman saat makan. Bahkan hal kecil seperti talenan harus diperhatikan dan pisahkan talenan untuk memotong sayuran dan buah dari yang digunakan untuk memotong daging, demi mencegah kontaminasi silang dan masuknya mikroorganisme berbahaya ke dalam makanan anak.

Menghindari gangguan atau distraksi saat makan juga menjadi bagian penting dalam metode ini. Makan sambil menonton gawai atau berjalan-jalan memang seringkali dijadikan solusi agar anak makan dengan mudah, tetapi justru bisa mengacaukan sinyal kenyang dan lapar pada anak. Anak yang terdistraksi akan kesulitan mengenali rasa kenyang, sehingga rentan mengalami makan berlebihan. Sebaiknya, biasakan anak makan dalam posisi duduk dengan suasana yang tenang dan fokus. Ini juga melatih anak untuk memahami rutinitas dan disiplin sejak dini.

Sinyal lapar pada anak bisa ditunjukkan dengan beberapa cara seperti merengek, menangis tanpa sebab jelas, atau memasukkan tangan ke dalam mulut. Sedangkan tanda kenyang bisa dilihat dari perilaku menggeser piring, menolak sendok, atau mulai memalingkan wajah dari makanan. Orang tua yang jeli akan mampu merespons dengan tepat sesuai kebutuhan anak, dan bukan sesuai ambisi pribadi untuk menghabiskan satu porsi penuh.

Tak kalah penting, orang tua juga harus memastikan bahwa MPASI yang diberikan mengandung nutrisi yang seimbang. Setelah usia enam bulan, salah satu zat gizi yang sering tidak tercukupi adalah zat besi. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mulai memperkenalkan makanan kaya zat besi, seperti daging, ikan, atau telur, yang telah dimasak matang sempurna dan dihaluskan sesuai kemampuan makan anak.

 

Pembuatan MPASI secara mandiri menjadi pilihan terbaik karena memungkinkan orang tua untuk mengontrol bahan, tekstur, dan rasa yang sesuai. Selain protein hewani, penting juga memenuhi kebutuhan energi melalui karbohidrat dan lemak, serta menambahkan sumber protein nabati, vitamin, dan mineral yang penting untuk perkembangan anak.

Pada akhirnya, metode responsive feeding bukan hanya tentang memberi makan, tetapi tentang membentuk hubungan sehat antara anak dan makanan. Hubungan yang dibangun sejak dini ini akan menjadi fondasi bagi kebiasaan makan yang baik sepanjang hidup anak. Orang tua yang berhasil menerapkan pendekatan ini tidak hanya membantu anak tumbuh sehat secara fisik, tetapi juga membentuk kedekatan emosional yang kuat dimulai dari aktivitas sehari-hari yang sesederhana memberi makan dengan cinta dan perhatian.


Mengatasi-Perut-Kembung-pada-Bayi-Penyebab-Gejala-dan-Solusi-yang-Bisa-Dilakukan-di-Rumah.jpg
05/Jun/2025

Perut kembung merupakan salah satu masalah pencernaan yang sangat umum dialami oleh bayi, bahkan menjadi keluhan yang sering dikeluhkan oleh orang tua dari berbagai usia anak. Meskipun terlihat sepele, kondisi ini dapat membuat bayi merasa sangat tidak nyaman, mereka menjadi lebih rewel, mengalami penurunan nafsu makan, bahkan kesulitan untuk tidur dengan nyenyak. Salah satu penyebab utama dari kondisi ini adalah banyaknya peluang bagi bayi untuk menelan udara, baik saat menyusu langsung dari payudara, menggunakan botol susu, maupun ketika mereka menangis dengan intensitas tinggi.

Perut kembung paling sering dialami oleh bayi pada dua rentang usia, yaitu saat mereka berusia 0–3 bulan dan 6–12 bulan. Pada masa awal kehidupan, sistem pencernaan bayi belum berkembang secara sempurna, sehingga lebih rentan mengalami gangguan seperti kembung. Ketika bayi memasuki usia 6 bulan ke atas, masalah ini kerap muncul kembali, kali ini sebagai respons tubuh terhadap proses adaptasi sistem pencernaan dalam mencerna makanan padat atau Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Tak jarang, kembung juga muncul bersamaan dengan gangguan lain seperti muntah, diare, konstipasi, atau nyeri perut. Pada banyak kasus, bayi yang mengalami kembung akan lebih mudah muntah.

Apa Saja Penyebab Kembung pada Bayi?

  1. Makan atau Minum Sambil Bermain

Memberi makanan atau minuman kepada bayi ketika ia sedang aktif bermain bisa menyebabkan bayi menelan makanan dengan tergesa-gesa. Akibatnya, udara yang ikut tertelan dalam jumlah besar dapat masuk ke lambung dan meningkatkan risiko kembung, bahkan tersedak.

  1. Menangis Terlalu Lama

Menangis secara terus-menerus membuat bayi banyak menelan udara. Udara ini kemudian masuk ke dalam saluran pencernaan, menyebabkan perut terasa penuh dan tidak nyaman.

  1. Terlalu Banyak Makan atau Minum Susu

Memberikan susu atau makanan dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan kembung. Hal ini disebabkan oleh kemampuan sistem pencernaan bayi yang masih terbatas dalam mencerna volume besar. Makanan atau susu yang tidak tercerna akan masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri di sana, menghasilkan gas yang menyebabkan perut bayi terasa begah.

  1. Intoleransi Laktosa

Beberapa bayi mengalami kesulitan mencerna laktosa dalam susu karena tubuhnya belum menghasilkan cukup enzim laktase. Ketika laktosa tidak tercerna, ia akan turun ke usus besar dan mengalami fermentasi oleh bakteri, menghasilkan gas dan menyebabkan kembung. Kondisi ini dikenal sebagai *transient lactose intolerance* dan sering terjadi karena perkembangan usus yang belum matang.

  1. Kelainan Kongenital

Dalam kasus yang lebih serius, kembung bisa menjadi gejala dari kelainan bawaan sejak lahir. Beberapa di antaranya meliputi kondisi di mana usus mengalami puntiran (volvulus), masuknya bagian atas usus ke dalam bagian bawahnya (invaginasi), kelainan pada sistem saraf usus bawah (Hirschsprung), atau bahkan tidak terbentuknya bagian usus tertentu (atresia).

 

Cara Efektif Mengatasi Perut Kembung pada Bayi di Rumah

Untungnya, orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana namun efektif di rumah untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat perut kembung pada bayi. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:

  1. Posisi Menyusui yang Tepat

Saat menyusui baik secara langsung maupun melalui botol usahakan posisi kepala bayi sedikit lebih tinggi daripada perutnya. Hal ini memungkinkan susu mengalir ke dasar lambung, sedangkan udara naik ke atas, sehingga bayi lebih mudah bersendawa. Menggunakan bantal menyusui juga dapat membantu menjaga posisi ini tetap stabil dan nyaman.

  1. Membantu Bayi Bersendawa

Sendawa adalah cara alami untuk mengeluarkan udara dari lambung. Lakukan sendawa setelah dan bahkan selama sesi menyusui. Jika bayi belum bersendawa, coba posisikan bayi telentang selama beberapa menit, lalu angkat dan coba kembali. Bersikaplah sabar karena terkadang dibutuhkan beberapa kali percobaan.

  1. Memberikan Pijatan Lembut

Pijatan pada area perut bayi bisa membantu melancarkan pergerakan gas di dalam usus. Lakukan gerakan memutar secara perlahan dengan tangan yang hangat. Gerakan kaki seperti mengayuh sepeda saat bayi berbaring telentang juga bisa merangsang pengeluaran gas. Selain itu, posisi tengkurap sambil digosok punggungnya atau mandi air hangat juga bisa membantu meredakan kembung.

  1. Memilih Peralatan Menyusui yang Tepat

Jika menggunakan botol susu, penting untuk memilih dot dengan lubang yang sesuai. Ukuran lubang yang terlalu besar dapat menyebabkan bayi menelan terlalu cepat, sedangkan yang terlalu kecil membuat bayi harus mengisap terlalu kuat, yang juga bisa menyebabkan tertelannya udara. Lakukan uji coba sederhana: teteskan susu formula dingin dari dot, dan pastikan tetesannya keluar satu kali setiap detik.

Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?

Langkah-langkah penanganan di atas umumnya cukup efektif untuk meredakan perut kembung pada bayi. Namun, apabila kondisi bayi tidak membaik, atau kembung disertai dengan gejala lain seperti demam, muntah hebat, atau diare, maka segera konsultasikan dengan tenaga medis. Penanganan profesional diperlukan untuk memastikan bahwa tidak ada kondisi yang lebih serius di balik keluhan tersebut.

Menjaga kenyamanan pencernaan bayi adalah bagian penting dari tumbuh kembangnya. Dengan memahami penyebab dan cara penanganan perut kembung, orang tua dapat memberikan perhatian dan penanganan yang tepat sejak dini.


5-Kebiasaan-Sederhana-yang-Terbukti-Penting-untuk-Kesehatan-dan-Tumbuh-Kembang-Balita.jpg
04/Jun/2025

Menjaga kesehatan balita tidak hanya sebatas pada imunisasi atau kunjungan rutin ke dokter. Di balik langkah-langkah medis yang umum dilakukan, terdapat berbagai kebiasaan harian yang tampak remeh namun ternyata sangat berdampak besar terhadap tumbuh kembang si kecil. Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, berikut lima kebiasaan sederhana yang sebaiknya diterapkan dalam keseharian anak-anak usia dini.

 

  1. Mencuci Tangan Sebelum Menyusui dan Memberi Makan

Meski terdengar sepele, mencuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh makanan balita memiliki dampak yang signifikan. Penelitian internasional menunjukkan bahwa kebiasaan ini dapat menurunkan risiko diare hingga 40%. Diare sendiri masih menjadi salah satu penyebab utama kematian anak di bawah lima tahun di Indonesia.

Langkah pencegahannya sangat mudah: cukup mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama minimal 20 detik sebelum menyusui atau memberi makan. Tindakan sederhana ini bisa menjadi penyelamat nyawa dan langkah awal dari gaya hidup higienis dalam keluarga.

 

  1. Rutin Membersihkan Mainan Anak

Mainan merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia balita, namun juga bisa menjadi perantara penyebaran kuman. Banyak balita yang secara alami memasukkan mainannya ke mulut. Permukaan mainan yang jarang dibersihkan dapat menjadi tempat berkembang biaknya berbagai mikroorganisme berbahaya, termasuk virus penyebab gangguan pencernaan dan pernapasan.

Membersihkan mainan secara rutin dengan air sabun hangat atau disinfektan yang aman bagi anak menjadi langkah penting untuk mencegah infeksi. Kebiasaan ini juga membangun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar anak tetap bersih dan sehat.

 

  1. Memastikan Balita Tidur Cukup dan Berkualitas

Waktu tidur bagi balita bukan sekadar momen istirahat. Selama tidur, tubuh anak memproduksi hormon pertumbuhan dan memperkuat sistem kekebalan tubuhnya. Kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan gangguan perilaku, penurunan daya tahan tubuh, serta memperlambat perkembangan fisik dan kognitif.

Membentuk rutinitas tidur yang teratur seperti membacakan dongeng sebelum tidur, menjauhkan gadget satu jam sebelumnya, dan menciptakan suasana kamar yang tenang bisa menjadi kunci agar si kecil mendapatkan tidur yang berkualitas setiap malam.

 

  1. Memberi Makan Sesuai Tanda Lapar Anak

Anak yang tampak susah makan sering membuat orang tua khawatir, hingga kadang mengambil langkah memaksa mereka makan. Padahal, memaksa anak untuk makan justru dapat menurunkan nafsu makan dan membentuk pola makan yang tidak sehat di masa depan.

Pendekatan yang disarankan oleh para ahli adalah “responsive feeding”, yaitu memberi makan berdasarkan sinyal lapar dan kenyang yang ditunjukkan oleh anak. Pendekatan ini tidak hanya mendukung pertumbuhan yang ideal, tetapi juga mengajarkan anak mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami sejak dini.

 

  1. Membiasakan Anak Terpapar Sinar Matahari Pagi

Paparan sinar matahari pagi, terutama sebelum pukul 9, sangat bermanfaat bagi tubuh balita karena membantu produksi vitamin D secara alami. Vitamin D sangat penting dalam menunjang pertumbuhan tulang dan memperkuat sistem imun.

Mengajak anak bermain di luar rumah saat pagi hari, meskipun hanya sebentar, dapat memberikan manfaat kesehatan jangka panjang. Selain meningkatkan kadar vitamin D, kegiatan ini juga dapat mendukung perkembangan motorik dan memberikan stimulasi sensorik yang penting bagi tumbuh kembang anak.

Dengan menerapkan lima kebiasaan sederhana ini, orang tua telah mengambil langkah konkret dalam menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan balita. Tak perlu menunggu anak sakit untuk bertindak dalam pencegahan dan perhatian pada hal-hal kecil justru menjadi fondasi penting dalam membesarkan anak yang sehat, kuat, dan bahagia.


Panduan-Lengkap-Perawatan-Bayi-Baru-Lahir-Dari-Kontak-Kulit-hingga-Bepergian-Aman.jpg
02/Jun/2025

Bayi baru lahir (BBL) adalah bayi dengan usia 0 hingga 28 hari, masa yang sangat krusial dalam tumbuh kembang dan pembentukan ikatan emosional antara bayi dan orang tua. Dalam periode emas ini, perawatan yang tepat sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan emosional bayi. Berikut adalah metode perawatan yang penting diterapkan pada bayi baru lahir:

 

Sentuhan Awal: Skin-to-Skin dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Segera setelah lahir, bayi sebaiknya diletakkan di dada ibu agar terjadi kontak langsung antara kulit keduanya. Teknik ini dikenal sebagai perawatan metode kanguru.

Inisiasi menyusu dini (IMD) tidak hanya memberikan kehangatan emosional, tetapi juga menurunkan risiko kematian bayi serta meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. IMD juga terbukti meningkatkan daya tahan tubuh bayi.

Tidak perlu khawatir bila dalam proses IMD bayi belum menyusu secara aktif kontak dan proses ini sendiri sudah memberi banyak manfaat dan memperbesar peluang menyusui yang sukses.

 

 

Ikatan Emosional yang Kuat: Bounding Attachment dan Rawat Gabung

Perawatan rawat gabung dilakukan dengan menempatkan bayi dalam satu kamar dengan ibu sejak hari pertama persalinan dan dilanjutkan di rumah. Ini memberi banyak manfaat, seperti:

  • Mendukung keberhasilan ASI eksklusif karena bayi dapat menyusu kapan saja tanpa jadwal ketat.
  • Ibu lebih mudah mengenali tanda lapar bayi.
  • Mencegah pembengkakan payudara.
  • Mengurangi risiko bayi mengalami kondisi kuning (ikterik).
  • Menurunkan kemungkinan bayi kehilangan berat badan secara berlebihan.
  • Bayi menjadi lebih tenang.
  • Risiko infeksi menurun.
  • Menurunkan risiko depresi pascamelahirkan dan meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayi.

 

Pola Tidur Bayi yang Sehat

Bayi baru lahir umumnya tidur hingga 20 jam sehari. Agar tidur bayi tetap aman dan nyaman, beberapa hal penting diperhatikan:

  • Gunakan alas tidur yang rata dan tidak terlalu empuk.
  • Posisi tidur terbaik adalah terlentang, karena dapat mencegah sindrom kematian mendadak pada bayi atau Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).

 

Merawat Tali Pusat

Perawatan tali pusat sangat penting untuk mencegah infeksi. Beberapa langkah yang perlu diperhatikan:

  • Jaga agar tali pusat tetap kering dan bersih.
  • Hindari terkena air seni atau tinja bayi.
  • Jika tali pusat kotor, bersihkan menggunakan air bersih dan sabun, lalu keringkan dengan kain bersih.
  • Tidak perlu mempercepat proses pelepasan—biarkan tali pusat terlepas dengan sendirinya.

 

Memandikan Bayi dengan Aman

Bayi dapat mulai dilap dengan air hangat setelah 6 jam kelahiran. Memandikannya perlu dilakukan dengan cara yang lembut dan aman:

  • Gunakan air hangat-hangat kuku, sabun, dan sampo khusus bayi.
  • Hindari waktu mandi yang terlalu pagi atau terlalu sore.
  • Gunakan produk seminimal mungkin karena kulit bayi masih sangat sensitif.

 

Tips Aman Bepergian Bersama Bayi

Jika ingin membawa bayi keluar rumah, pastikan kondisinya sehat. Perhatikan hal-hal berikut:

  • Kenakan pakaian yang cukup hangat agar bayi tidak kedinginan.
  • Saat bepergian dengan mobil, selalu gunakan car seat khusus untuk bayi demi keselamatan.
  • Bayi dapat bepergian menggunakan pesawat setelah berusia dua bulan.
  • Hindari perjalanan udara jika bayi mengalami infeksi telinga, karena perubahan tekanan saat lepas landas atau mendarat bisa menimbulkan nyeri—meski biasanya hanya berlangsung sebentar.

Perawatan bayi baru lahir membutuhkan ketelatenan, kasih sayang, dan pengetahuan yang cukup. Dengan memahami dan menerapkan langkah-langkah ini, orang tua dapat memberikan fondasi terbaik bagi tumbuh kembang anak di masa depan.


artikel-38-e1747280406631.jpg
15/May/2025

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan parameter antropometri dari World Health Organization (WHO), stunting didefinisikan sebagai kondisi ketika tinggi badan anak berdasarkan usia (TB/U) berada di bawah minus dua standar deviasi (di bawah -2 SD).

Kondisi ini mencerminkan gangguan pertumbuhan kronis akibat kurangnya asupan gizi yang terjadi dalam jangka panjang, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan—mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Menurut Indeks Perkembangan Anak Usia Dini (Early Childhood Development Index/ECDI), stunting parah terjadi saat skor Z dari TB/U anak berada di bawah -3 SD. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak dan kecerdasan anak.

Dampak Jangka Pendek dan Panjang Stunting

Secara jangka pendek, stunting bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak, penurunan kecerdasan, masalah metabolisme, serta keterlambatan pertumbuhan fisik. Tak hanya itu, anak yang mengalami stunting juga cenderung memiliki kebutuhan biaya kesehatan yang lebih tinggi akibat meningkatnya risiko penyakit.

Dampak jangka panjangnya bahkan lebih kompleks. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami penurunan kemampuan kognitif, daya tahan tubuh yang rendah, hingga rentan terserang penyakit degeneratif seperti diabetes, obesitas, jantung, stroke, bahkan disabilitas di usia dewasa.

Fakta Global dan Nasional

Menurut laporan WHO, sekitar 155 juta anak di dunia mengalami stunting. Prevalensinya lebih tinggi di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah (32 persen) dibandingkan negara berpenghasilan menengah ke atas (6,9 persen) atau tinggi (2,5 persen).

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting tercatat sebesar 30,8 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang (3,8 persen), gizi kurus (10,2 persen), atau gizi gemuk (8 persen). Namun, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka stunting berhasil ditekan menjadi 24,4 persen.

Dampak terhadap Masa Depan Anak

Studi menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada masa awal kehidupan akan berdampak jangka panjang dan bersifat irreversible atau tidak dapat diubah. Salah satunya adalah gangguan perkembangan kognitif yang dapat memengaruhi kemampuan belajar, produktivitas, dan kualitas hidup anak saat dewasa.

Selain itu, anak stunting juga lebih berisiko mengalami keterlambatan perkembangan kemampuan motorik, gangguan bicara dan bahasa, serta penurunan kualitas intelektual.

“Stunting berkaitan erat dengan kemampuan kognitif yang rendah, dan ini bisa berdampak pada produktivitas serta daya saing generasi masa depan,” ujar peneliti kesehatan masyarakat, mengutip hasil kajian beberapa studi sebelumnya.

Perlu Upaya Serius dan Terpadu

Stunting bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga dapat menjadi indikator tantangan masa depan bangsa. Dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi, pendidikan, sosial, dan bahkan politik.

Sayangnya, sebagian besar penelitian selama ini masih fokus pada aspek pertumbuhan dan perkembangan anak secara terpisah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan ilmiah yang lebih menyeluruh, seperti melalui metode Systematic Literature Review, untuk melihat hubungan langsung antara stunting dan tumbuh kembang anak secara komprehensif.

Penanganan Stunting, Bukan Sekadar Pemenuhan Gizi

Upaya pencegahan stunting tidak hanya terbatas pada pemberian makanan bergizi, tetapi juga mencakup edukasi gizi, peningkatan sanitasi lingkungan, layanan kesehatan ibu dan anak, serta penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Penanganan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin, pemenuhan gizi seimbang, dan konsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia. Ibu hamil juga perlu mendapatkan edukasi kesehatan, menghindari stres serta paparan zat berbahaya, dan memperoleh dukungan psikologis serta sosial dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Deteksi dini risiko kehamilan dan persalinan di fasilitas kesehatan oleh tenaga medis profesional menjadi langkah penting untuk mencegah bayi lahir stunting. Dengan kolaborasi lintas sektor dan meningkatnya kesadaran masyarakat, Indonesia diharapkan dapat menurunkan angka stunting secara signifikan serta melahirkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan kompetitif di masa depan.

Referensi:
  • Kemenkes RI. (2021). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
  • Rao, N. et al. (2020). The Lancet Global Health: Nutrition Interventions and Child Development.
  • Probosiwi, R. (2017). Stunting dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Anak. Jurnal Gizi dan Kesehatan
  • Cegah Stunting (2021), Mengenal Studi Status Gizi Indonesia 2021

WhatsApp-Image-2025-02-05-at-10.34.31.jpeg
05/Feb/2025

Senam ibu hamil membantu mempersiapkan tubuh Bunda agar persalinan berjalan lebih lancar. Rutin berolahraga bisa membuat otot-otot tubuh, terutama di area panggul, menjadi lebih kuat dan lentur, sehingga mempermudah proses kelahiran Si Kecil. Beberapa gerakan yang direkomendasikan, seperti senam ringan, senam jongkok, child’s pose, dan butterfly pose, dirancang untuk meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan otot yang diperlukan saat melahirkan. Yuk, simak lebih lanjut untuk mengetahui gerakan-gerakan ini dan cara melakukannya dengan benar.

Senam Ringan

Senam ringan adalah salah satu cara yang efektif untuk membantu tubuh Bunda mempersiapkan persalinan, terutama saat memasuki trimester ketiga. Gerakan sederhana yang bisa Bunda coba termasuk goyangan pinggul dan langkah kecil di tempat. Caranya, Bunda bisa berdiri tegak dengan kaki sedikit terbuka, lalu perlahan goyangkan pinggul dari sisi ke sisi sambil bernapas dalam-dalam. Langkah kecil di tempat sambil menggerakkan lengan secara perlahan juga bisa membantu menjaga kelenturan dan mengurangi ketegangan pada otot. Mainkan lagu-lagu lembut yang Bunda suka untuk memberikan semangat dan membuat suasana lebih rileks. Senam ringan ini membantu membuka panggul dan mempersiapkan jalan lahir bayi. Saat Bunda bergerak dengan ritme yang nyaman, tubuh mulai menemukan pola alami yang mendukung proses persalinan. Selain itu, senaman ringan dapat membantu aliran darah lebih baik ke panggul, yang akan menurunkan Si Kecil ke posisi yang paling tepat untuk lahir. Selain itu, gerakan yang teratur, rileks, dan rileks membantu Bunda tetap tenang, yang sangat penting untuk menangani kontraksi dengan lebih baik.

Senam Jongkok

Senam jongkok dapat membantu memperkuat otot paha dan panggul, yang berperan langsung dalam proses persalinan. Untuk memulai, ikuti langkah-langkahnya berikut ini:

  1. Berdiri dengan posisi tegak, lalu letakkan tangan di pinggang.
  2. Secara perlahan, turunkan tubuh ke posisi jongkok sambil menjaga punggung tetap lurus.
  3. Tahan posisi ini selama 8-10 detik, sambil memastikan napas teratur. Setelah menahan posisi jongkok, naik kembali ke posisi berdiri dengan perlahan.
  4. Gerakan ini bisa diulang sebanyak 3 kali atau hingga Bunda merasa cukup lelah.

Dengan rutin melakukan senam jongkok, otot-otot yang terlibat dalam persalinan akan menjadi lebih kuat dan siap mendukung kelancaran proses kelahiran Si Kecil. Pastikan Bunda mendengarkan tubuh dan tidak memaksakan diri, ya!

Butterfly Pose

Butterfly pose dapat membantu membuka area panggul dan meningkatkan fleksibilitas tubuh, yang dapat mempermudah proses kelahiran. Selain itu, pose ini juga melatih Bunda untuk merasakan dan mengontrol kurva alami punggung bawah, yang dapat membantu selama fase dorongan persalinan. Cara melakukan butterfly pose:

  1. Duduklah di lantai dengan lutut terbuka lebar dan telapak kaki saling bertemu.
  2. Tempatkan tangan di bawah lutut untuk memberikan dukungan.
  3. Saat menghirup napas, duduk tegak dengan punggung bawah membentuk kurva alami (mirip seperti Cow Pose) dan dorong dada ke depan dan ke atas.
  4. Saat menghembuskan napas, turunkan dagu, condongkan tubuh ke belakang, dan bulatkan punggung (mirip seperti Cat Pose).
  5. Ulangi gerakan ini lima hingga sepuluh kali, atau selama terasa nyaman.

Pose ini membantu Bunda merasakan kurva alami punggung bawah dan mengakses kekuatan lebih saat mendorong, yang dapat meningkatkan efisiensi selama proses persalinan. Gerakan senam hamil ini juga dipercaya mengurangi risiko bengkak pada kaki selama masa kehamilan

Child’s Pose

Child’s pose adalah salah satu gerakan senam yoga yang sangat bermanfaat selama kehamilan untuk membantu meredakan ketegangan di area panggul dan mempersiapkan tubuh untuk persalinan. Selain itu, pose ini juga ideal untuk beristirahat di antara kontraksi menjelang persalinan, sehingga dapat membantu Bunda menghemat energi dan tetap rileks.

Cara melakukan child’s pose dengan bantuan bantal:

  1. Letakkan bantal atau tumpukan bantal di depan Bunda di atas matras.
  2. Berlututlah dengan jari-jari kaki saling menyentuh, dan pisahkan lutut sedikit lebih lebar dari matras.
  3. Secara perlahan, turunkan tubuh ke arah depan, dengan dada dan kepala disangga oleh bantal, sehingga perut Bunda memiliki ruang yang cukup.
  4. Rilekskan lengan di kedua sisi bantal.
  5. Tarik napas dalam 6-8 siklus pernapasan, lalu dorong tubuh perlahan kembali ke posisi duduk.

Memanfaatkan bantal untuk menopang tubuh membuat gerakan ini lebih nyaman dan aman. child’s pose membantu Bunda menjaga ketenangan dan fleksibilitas, serta memberikan dukungan selama kehamilan dan menunggu waktu persalinan.

Itulah beberapa gerakan senam ibu hamil untuk memperlancar persalinan dan juga berkontribusi pada kesehatan umum selama kehamilan, seperti menjaga kelenturan tubuh, memperkuat otot-otot inti, meningkatkan postur tubuh, serta membuat Bunda merasa lebih nyaman dan bugar sepanjang kehamilan dan lebih siap secara fisik untuk menghadapi persalinan.


WhatsApp-Image-2025-02-05-at-10.21.51.jpeg
05/Feb/2025

Ketahui cara menjaga kesehatan mental ibu setelah melahirkan agar mereka tidak mengalami depresi setelah melahirkan. Mulai dari menjaga pola tidur yang sehat hingga mendapatkan bantuan profesional. Setelah melahirkan, seorang ibu pasti bahagia dengan kehadiran buah hatinya. Sebaliknya, setelah melahirkan, banyak ibu mengalami perubahan fisik dan mental yang signifikan. Karena itu, menjaga kesehatan fisik dan mental ibu setelah melahirkan sangat penting untuk memaksimalkan peran barunya. Selain itu, seorang ibu lebih cenderung mengalami masalah kesehatan mental setelah melahirkan, seperti baby blues atau depresi pascapersalinan.

Perbedaan Baby Blues dan Depresi Pascapersalinan

Pada dasarnya, baby blues dan depresi pascapersalinan memiliki ciri-ciri yang mirip, seperti muncul perasaan sedih sepanjang hari, khawatir, mudah emosi, tidak berenergi, sulit tidur, dan sulit berkonsentrasi. Namun, baby blues dan depresi pascapersalinan berbeda. Ini disebabkan oleh waktu dan intensitas gejala yang dialami pasien. Baby blues biasanya memiliki gejala yang mereda dan hilang dalam waktu dua minggu setelah persalinan. Namun, pada depresi pascapersalinan, gejala cenderung bertahan lebih dari dua minggu. Pasca persalinan juga dapat menyebabkan depresi yang lebih parah, seperti muncul pikiran untuk bunuh diri, merasa diri tidak berharga, kehilangan nafsu makan atau menjadi berlebihan, dan gerakan yang lebih lambat. Oleh karena itu, ibu yang mengalami depresi pascapersalinan tidak dapat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan cara yang normal dan membutuhkan bantuan medis.

Cara Menjaga Kesehatan Mental Ibu Setelah Melahirkan

Menurut informasi dari situs WHO, sekitar 13% ibu yang baru saja melahirkan mengalami masalah kesehatan mental, khususnya depresi. Di negara-negara berkembang, angka ini bahkan mencapai 19,8%. Untuk menjaga mental ibu setelah melahirkan dan mencegah depresi pascapersalinan, ada beberapa hal yang bisa diterapkan ibu setelah melahirkan si Kecil. Ini dia cara menjaga kesehatan mental ibu setelah melahirkan:

  • Pastikan mendapatkan tidur yang cukup

Saat baru melahirkan, jadwal tidur mungkin menjadi sangat tidak teratur karena bayi sering terbangun di malam hari. Namun, penting untuk memahami bahwa kurang tidur bisa memengaruhi suasana hati, bahkan menyebabkan stres atau depresi. Tipsnya adalah dengan memanfaatkan waktu tidur bayi. Cobalah untuk tidur saat bayi juga sedang tertidur, meskipun hanya dalam waktu yang singkat. Selain itu, jangan ragu untuk meminta bantuan pasangan, keluarga, atau teman dekat untuk menjaga bayi selama beberapa saat agar ibu bisa mendapat tidur yang cukup.

  • Berbicara dengan orang yang dipercaya

Saat baru melahirkan, mungkin banyak keluh kesah yang dirasakan seorang ibu, mulai dari rasa sakit, lelah, atau perasaan cemas dengan kesehatan dan perkembangan bayi. Cobalah untuk berbicara tentang perasaan Anda secara terbuka dengan orang yang dipercaya, baik itu pasangan, keluarga, atau sahabat. Berbicara dengan seseorang yang dapat memahami dan mendukung Anda sangat penting untuk menjaga kesehatan mental ibu setelah melahirkan.

  • Percaya pada diri sendiri dalam merawat bayi

Saat baru melahirkan, mungkin akan ada banyak orang yang memberi saran mengenai bagaimana cara merawat bayi. Untuk menghindari stres, fokuslah pada apa yang dibutuhkan oleh Anda dan sang bayi, bukan pada apa yang dikatakan orang lain. Terlebih lagi jika terdapat pendapat negatif dari orang lain mengenai sang bayi, sebaiknya jangan terlalu terpengaruh oleh pendapat negatif, melainkan fokus pada kesehatan dan kebahagiaan Anda serta sang bayi

  • Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Sebagai seorang ibu yang baru melahirkan, Anda mungkin merasa terbebani ketika melihat ibu yang lainnya tampak begitu sempurna dalam menjalani peran mereka. Sebaiknya, hindarilah membandingkan diri Anda dengan orang lain, terutama dengan apa yang Anda lihat di media sosial. Perlu diingat bahwa setiap ibu dan bayi memiliki proses perjalanan yang berbeda. Apa yang berhasil untuk orang lain belum tentu akan sama hasilnya untuk Anda. Jadi, fokuslah pada proses Anda sendiri, karena hanya Anda yang tahu apa yang terbaik untuk Anda dan si Kecil.

  • Jaga pola makan dan rutin berolahraga

Menjaga pola makan tidak hanya penting untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk kesehatan mental. Pastikan Anda mengonsumsi makanan yang seimbang, seperti buah, sayur, protein, dan karbohidrat. Selain itu, usahakan untuk berolahraga secara teratur, karena kegiatan ini dapat membantu meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Lakukan olahraga ringan yang disukai, seperti berjalan kaki, yoga, atau senam kegel. Selain berkontribusi pada kesehatan tubuh, aktivitas fisik juga dapat meningkatkan produksi hormon endorfin yang membantu menjaga kesehatan mental.

  • Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional

Cara menjaga mental ibu setelah melahirkan yang terakhir adalah dengan meminta bantuan tenaga profesional. Merasa emosional dan kelelahan setelah melahirkan adalah hal yang normal. Namun, berbeda halnya jika seorang ibu yang baru melahirkan mengalami depresi pascapersalinan. Jika Anda merasa cemas, stres, sedih yang berkepanjangan, tidak dapat berpikir jernih, atau merasa tidak menikmati momen bersama bayi, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

Itu dia berbagai infomasi mengenai tips cara menjaga mental ibu setelah melahirkan.


WhatsApp-Image-2025-02-05-at-10.03.09.jpeg
05/Feb/2025

Balita selalu menantang untuk diasuh. Meskipun mereka ingin mulai mandiri dan melakukan banyak hal, mereka tidak selalu bisa bergerak secepat yang mereka inginkan atau mengatakan apa yang mereka inginkan dengan jelas. Selain itu, balita cenderung mengalami kesulitan saat berurusan dengan batasan, kompromi, dan kekecewaan. Karena itu, tidak mengherankan jika emosi mereka kemudian bergejolak atau tantrum. Ya, terima kasih, sayangi, dan asuh mereka dengan baik. Pola pengasuhan yang tepat dapat membantu Si Kecil belajar berperilaku baik, mematuhi aturan, dan menjadi bahagia.

Metode Pengasuhan untuk Balita

Balita selalu menantang untuk diasuh. Meskipun mereka ingin mulai mandiri dan melakukan banyak hal, mereka tidak selalu bisa bergerak secepat yang mereka inginkan atau mengatakan apa yang mereka inginkan dengan jelas. Selain itu, balita cenderung mengalami kesulitan saat berurusan dengan batasan, kompromi, dan kekecewaan. Karena itu, tidak mengherankan jika emosi mereka kemudian bergejolak atau tantrum. Ya, terima kasih, sayangi, dan asuh mereka dengan baik. Pola pengasuhan yang tepat dapat membantu Si Kecil belajar berperilaku baik, mematuhi aturan, dan menjadi bahagia.

1. Tunjukkan Cinta

Pastikan kucuran kasih sayang untuk anak melebihi jumlah konsekuensi atau hukuman. Dengan menunjukkan cinta, seperti memeluk, mencium, memuji, dan memberi perhatian, anak akan paham bahwa orangtuanya mencintainya. Jadi, ketika ia harus dihukum akan sesuatu atau diminta mematuhi aturan, ia akan tahu bahwa itu adalah demi kebaikannya.

2. Prioritaskan Keselamatan

Alih-alih membebani anak dengan aturan sejak awal, yang mungkin hanya membuatnya frustasi, lebih prioritaskanlah untuk mengarahkan mereka pada keselamatan terlebih dahulu. Kemudian secara bertahap tambahkan aturan sedikit demi sedikit.

3. Cegah Amarah yang Meledak-ledak

Normal bagi seorang balita untuk memiliki amarah yang meledak-ledak. Terlebih jika ia belum pandai berbicara untuk mengutarakan maksudnya. Namun, ajarilah ia untuk mengatur emosinya. Kurangi frekuensi, durasi, atau intensitas kemarahan anak dengan cara berikut:

  • Ketahui batasan anak. Ia mungkin berperilaku salah karena dia tidak mengerti atau tidak dapat melakukan apa yang kamu minta. Jangan paksakan jika hal ini terjadi
  • Jelaskan cara mengikuti aturan. Daripada selalu berkata “Jangan!”, ajarkan dengan kalimat yang bernada positif. Misalnya, ketika anak bertengkar karena berebut mainan, katakan padanya “Mengapa kalian tidak bergantian?”
  • Terima jawaban ‘tidak’ dengan tenang. Jangan bereaksi berlebihan saat anak mengatakan tidak pada apa yang kamu katakan. Ulangi permintaan dengan tenang dan sabar, tanpa membentak. Coba juga untuk mengalihkan perhatian anak atau membuat permainan dari perilaku yang baik. Anak akan lebih cenderung melakukan apa yang kamu katakan jika kamu membuat suatu kegiatan menyenangkan.
  • Tawarkan pilihan, bila memungkinkan. Dorong kemandirian anak dengan membiarkannya memilih piyama atau cerita pengantar tidur.
  • Hindari situasi yang dapat memicu atau kemarahan. Misalnya, hindari jalan-jalan panjang di mana anak harus duduk diam atau tidak bisa bermain, atau membawa aktivitas.
  • Tetap pada jadwal. Pertahankan rutinitas harian agar anak tahu apa yang diharapkan.
  • Dorong komunikasi. Ingatkan anak untuk menggunakan kata-kata dalam mengungkapkan perasaannya.

4. Terapkan Konsekuensi

Terlepas dari upaya terbaik yang bisa kamu lakukan, anak biasanya akan tetap melanggar aturan. Untuk mendorong anak bekerja sama, pertimbangkan untuk menggunakan metode ini:

  • Konsekuensi alami. Biarkan anak melihat konsekuensi dari tindakannya, selama itu tidak berbahaya. Misalnya, jika anak melempar dan memecahkan mainan, jangan langsung memberinya mainan baru. Biarkan ia menyadari bahwa ia tidak akan memiliki mainan untuk dimainkan.
  • Konsekuensi logis. Buat konsekuensi untuk tindakan anak, dengan memberitahunya jika dia tidak mengambil mainannya, kamu akan mengambil mainan itu selama sehari. Bantu anak dengan tugas itu, jika perlu. Jika anak tidak mau bekerja sama, ikuti konsekuensinya.
  • Hak istimewa yang ditahan. Jika anak tidak berperilaku baik, balas dengan mengambil sesuatu yang disukai anak, seperti mainan favorit atau sesuatu yang terkait dengan kelakuan buruknya. Jangan mengambil sesuatu yang dibutuhkan anak, seperti makanan.
  • Batas waktu. Ketika anak bertindak buruk, turun ke levelnya dan dengan tenang menjelaskan mengapa perilaku itu tidak dapat diterima. Ajak ia melakukan kegiatan yang lebih tepat. Jika perilaku buruk berlanjut, terapkan batas waktu sampai anak tenang dan dapat mendengarkan kamu. Setelah itu, yakinkan kembali anak tentang cintamu padanya dan bimbinglah dia ke aktivitas positif.

5. Beri Contoh yang Baik

FAnak-anak belajar bagaimana bertindak dengan memperhatikan orangtuanya. Jadi, salah satu cara terbaik untuk menunjukkan pada anak bagaimana berperilaku adalah dengan memberikan contoh positif baginya untuk diikuti.

 


3DPotret 2025. All rights reserved.

WeCreativez WhatsApp Support
Tanya saja kak