Memasuki fase Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) adalah salah satu babak penting dalam tumbuh kembang anak yang membutuhkan perhatian penuh dari orang tua. Bukan sekadar memberi makan, proses ini menuntut pemahaman mendalam tentang kebutuhan dan sinyal yang diberikan si kecil. Salah satu pendekatan yang disarankan dalam dunia kesehatan anak adalah metode responsive feeding, suatu cara memberi makan yang memperhatikan aspek 5W+1H: apa, kapan, di mana, mengapa, siapa, dan bagaimana pemberian makanan dilakukan.
Dalam prinsip responsive feeding, orang tua diajak untuk lebih peka terhadap respons anak terhadap makanan. Setiap kali anak menelan, menolak, atau bahkan memalingkan wajah, itu bukan sekadar tingkah laku biasa, melainkan bentuk komunikasi yang menunjukkan kesiapan atau penolakan terhadap makanan. Pendekatan ini menolak praktik pemaksaan makan. Sebaliknya, orang tua perlu memahami isyarat lapar dan kenyang anak, sehingga makanan diberikan dengan cara dan waktu yang sesuai dengan kondisi fisiologis si kecil. Dengan begitu, risiko makan berlebihan atau overfeeding yang berujung pada obesitas pun dapat dihindari.
Metode ini tidak hanya membentuk pola makan yang sehat, tetapi juga membentuk dasar disiplin dalam kehidupan anak. Jadwal makan yang konsisten akan melatih anak mengenali rasa lapar dan waktu makan secara alami. Anak pun belajar menghargai makanan dan mengenali kapan tubuhnya memintanya untuk makan.
Pada usia sekitar enam bulan, saat MPASI diperkenalkan, penting bagi orang tua untuk menyuapi anak dengan penuh kasih dan kegembiraan. Suasana yang menyenangkan akan menciptakan asosiasi positif antara makan dan perasaan bahagia. Sebaliknya, apabila anak diberikan makanan dengan cara yang memaksa atau menakutkan, pengalaman makan bisa menjadi traumatis. Pengalaman negatif ini bisa berakar dalam memori anak dan terbawa hingga ia dewasa.
Saat anak menolak makan jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia sedang ‘rewel’. Penolakan bisa disebabkan oleh hal-hal sederhana namun signifikan: mungkin waktu antara camilan dan makan utama terlalu dekat, anak sedang mengantuk, mood-nya sedang tidak baik, merasa tidak nyaman karena popok penuh, atau sedang mengalami pertumbuhan gigi yang menyakitkan. Di sinilah kepekaan orang tua benar-benar diuji. Anak yang belum mampu berbicara mengandalkan bahasa tubuhnya untuk menyampaikan ketidaknyamanan, dan tugas orang tua lah untuk memahami isyarat itu.
Faktor lain yang mendukung keberhasilan responsive feeding adalah keberagaman dalam menu dan penyajian makanan. Anak, meski masih sangat kecil, bisa mengalami kebosanan apabila disuguhi makanan yang sama terus-menerus. Maka, penting untuk menciptakan variasi rasa, warna, dan tekstur makanan. Penggunaan gula dan garam diperbolehkan dalam jumlah terbatas, asalkan tidak berlebihan dan tetap mempertahankan nilai gizi.
Penggunaan alat makan pun tidak boleh dianggap sepele. Peralatan yang digunakan harus bersih dan tepat, tidak hanya demi kebersihan, tetapi juga agar anak merasa nyaman saat makan. Bahkan hal kecil seperti talenan harus diperhatikan dan pisahkan talenan untuk memotong sayuran dan buah dari yang digunakan untuk memotong daging, demi mencegah kontaminasi silang dan masuknya mikroorganisme berbahaya ke dalam makanan anak.
Menghindari gangguan atau distraksi saat makan juga menjadi bagian penting dalam metode ini. Makan sambil menonton gawai atau berjalan-jalan memang seringkali dijadikan solusi agar anak makan dengan mudah, tetapi justru bisa mengacaukan sinyal kenyang dan lapar pada anak. Anak yang terdistraksi akan kesulitan mengenali rasa kenyang, sehingga rentan mengalami makan berlebihan. Sebaiknya, biasakan anak makan dalam posisi duduk dengan suasana yang tenang dan fokus. Ini juga melatih anak untuk memahami rutinitas dan disiplin sejak dini.
Sinyal lapar pada anak bisa ditunjukkan dengan beberapa cara seperti merengek, menangis tanpa sebab jelas, atau memasukkan tangan ke dalam mulut. Sedangkan tanda kenyang bisa dilihat dari perilaku menggeser piring, menolak sendok, atau mulai memalingkan wajah dari makanan. Orang tua yang jeli akan mampu merespons dengan tepat sesuai kebutuhan anak, dan bukan sesuai ambisi pribadi untuk menghabiskan satu porsi penuh.
Tak kalah penting, orang tua juga harus memastikan bahwa MPASI yang diberikan mengandung nutrisi yang seimbang. Setelah usia enam bulan, salah satu zat gizi yang sering tidak tercukupi adalah zat besi. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mulai memperkenalkan makanan kaya zat besi, seperti daging, ikan, atau telur, yang telah dimasak matang sempurna dan dihaluskan sesuai kemampuan makan anak.
Pembuatan MPASI secara mandiri menjadi pilihan terbaik karena memungkinkan orang tua untuk mengontrol bahan, tekstur, dan rasa yang sesuai. Selain protein hewani, penting juga memenuhi kebutuhan energi melalui karbohidrat dan lemak, serta menambahkan sumber protein nabati, vitamin, dan mineral yang penting untuk perkembangan anak.
Pada akhirnya, metode responsive feeding bukan hanya tentang memberi makan, tetapi tentang membentuk hubungan sehat antara anak dan makanan. Hubungan yang dibangun sejak dini ini akan menjadi fondasi bagi kebiasaan makan yang baik sepanjang hidup anak. Orang tua yang berhasil menerapkan pendekatan ini tidak hanya membantu anak tumbuh sehat secara fisik, tetapi juga membentuk kedekatan emosional yang kuat dimulai dari aktivitas sehari-hari yang sesederhana memberi makan dengan cinta dan perhatian.











